Usaha Republik Semasa Revolusi Mempersiapkan Kontingen Olimpiade XIV London 1948 Suasana keramaian pembukaan Olimpiade XIV di London pada 1948. (Foto: Wikimedia)

SEJUMLAH tokoh olahraga kebanyakan pengurus Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) berkumpul. Mereka membahas isu penyelenggaraan Olimpiade XIV di London. Para tokoh menginginkan pembentukan sebuah badan keolahragaan baru di luar PORI, khusus mengurus ajang-ajang olahraga internasional.

Dalam pertemuan tersebut muncul keinginan agar Indonesia nan baru merdeka bisa mengirim kontingen. Pengiriman para atlet pada Olimpiade tersebut bukan semata urusan olahraga, melainkan diplomasi mengingat Indonesia belum diakui kedaulatannya secara penuh.

"Tidak lain untuk membuktikan kepada dunia luar Indonesia merdeka juga memiliki atlet-atlet profesional dan merdeka," tulis Kompas 18 Agustus 1983.

Usai pertemuan, para tokoh berlanjut mencari dukungan agar hasil pembicaraan tersebut tak jadi angin lalu. Dukungan para tokoh nasional berhasil diraih. Pada November 1946, Komite Olimpiade Republik Indonesia resmi berdiri.

Baca juga:

NOC Indonesia Perjuangkan Pencak Silat Dipertandingkan di Kejuaraan Internasional

kori
Ketua KORI Sri Sultan Hamengku Buwana IX. (Foto: Geheugen)

Tugasnya, mempersiapkan para atlet sebagai kontingen Indonesia pada gelaran Olimpiade XIV di London 1948 dan menjalin hubungan dengan pihak internasional khususnya Komite Olimpiade Internasional.

KORI secara resmi berpusat di Yogyakarta dengan ketua Sri Sultan Hamengku Buwana IX, wakil ketua drg HM Koesmargono dan Soemali Prawirodirdjo, sekretaris Mr Soebagjo, dan bendahara Djoewadi.

Dalam menjalankan fungsi organisasinya, KORI memiliki aturan dasar terdiri atas sepuluh pasal. Salah satu pasal menyangkut hubungannya dengan masyarakat luas mengamanatkan KORI memberi informasi secara luas berkait Olimpiade atau ajang olahraga internasional lainnya kepada seluruh rakyat.

Demi menyiarkan informasi tersebut, KORI berkorespondensi dengan konsul-konsul di beberapa daerah, meliputi Bogor, Priangan, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Jakarta, Madiun, Pati, Madura, serta Sumatera.

Ketua KORI Sri Sultan Hamengku Buwana IX menjadi corong terdepan menyosialisasi keinginan Indonesia nan baru seumur jagung ikut dalam ajang Olimpiade XIV. Suara HB IX acap mengudara di radio-radio. Kata-katanya pun sering beredar di surat kabar.

kori
Pengiriman bola di Batavia sekira 1930. (Foto: Geheugen)

"Komite Olimpiade menyiapkan rombongan pemuda-pemuda kita ke perlombaan Olimpiade XIV di London tahun 1948 serta memperlihatkan pada dunia internasional tentang Indonesia sebagai bangsa baru saja merdeka dan sanggup mempertahankan negaranya dengan segala upaya," kata Sri Sultan Hamengku Buwana IX pada Warta Antara, 4 Februari 1947.

Di internal, KORI menggandeng PORI mengadakan rapat di Yogyakarta pada 26 Januari 1947 dengan tujuan menentukan cabang olahraga nan akan diikutsertakan pada Olimpiade XIV.

Hasil rapat, dikutip Warta Antara 17 Maret 1947, memutuskan mengikutsertakan delapan cabang olahraga, di antaranya atletik, mengangkat helte (angkat besi), menembak, anggar, sepakbola, bola basket, renang, dan turnen atau senam. Selain itu, keputusan rapat juga meminta agar kegiatan olahraga di dalam negeri harus ditingkatkan atau diperbanyak mulai Februari 1947 agar semarak menyambut Olimpiade XIV terus bergaung.

KORI bergerak cepat. Komite badan usaha selanjutnya menjalin kontak dengan Komite Olimpiade Internasional. Sementara komite lain sibuk menjalin kerjasama dengan pelbagai pihak meningkatkan ajang olahraga di dalam negeri.

Baca juga:

NOC Indonesia Perjuangkan Cabor Andalan untuk SEA Games Kamboja 2023

kori
Seorang remaja putri di salah satu sekolah sedang bermain kasti. (Foto: Geheugen)

Perlombaan olahraga lantas banyak digelar dari mulai antarsekolah, antardaerah, antarkomunitas, antarklub, hingga pertandingan persahabatan dengan negara lain. Pada 4 Januari 1946, kesebelasan sepakbola Indonesia menghadapi Inggris (Sekutu) di lapangan Decca Park (kini berada di sekitar Masjid Istiqlal).

Pertandingan serupa juga diadakan di lapangan dekat Djati Baroe, Tanah Abang, antara kesebelasan Balai Kota Jakarta melawan serdadu India kebanyakan pula berisi orang Inggris.

Setelah dua pertandingan tersebut, terjalin sebuah pertandingan uji coba antara Tim Sepak Bola China (Chinneese Olympiade Football Team) melawan Jong Ambon, lalu Voetbal Batavia en Omstreken (VBO). Kedatangan tim asal Tiongkok tersebut merupakan pertandingan pemanasan jelang persiapan mereka di Oliampiade XIV.

Meski pelbagai rencana persiapan dalam dan luar negeri telah dilakukan, tak semuanya berjalan lancar karena kondisi Indonesia masih berkali-kali dalam keadaan perang; Agresi Militer I dan II.

Di masa perang tersebut banyak atlet sejatinya telah dipersiapkan menuju Olimpiade XIV harus angkat senjata turun palagan menghadapi musuh. Fokus KORI pada Olimpiade baru bisa kembali berjalan setelah Perjanjian Renville pada 13 Januari 1948.

kori
Siswi salah satu sekolah di Jakarta sedang memukul bola. (Foto: Geheugen)

Pertentangan secara yuridis antara Indonesia-Belanda setelah perjanjian tersebut, masih membekas sehingga sulit bagi KORI mengirim kontingen untuk Olimpiade XIV. Apalagi penyelenggara Olimpiade, Inggris, merupakan sekutu Belanda bahkan berkali-kali berhadap-hadapan di pertempuran dengan kaum revolusioner Indonesia.

Alhasil, Indonesia gagal mengirim kontingen Olimpiade tersebut karena kedaulatannya belum diakui, dan waktu persiapan setelah selesai perang mempertahankan kemerdekaan juga sangat singkat.

Pihak Inggris hanya memberi visa istimewa pada para peninjau asal Indonesia untuk meninjau penyelenggaraan Olimpiade XIV di Inggris. Namun, karena terkendala teknis tim peninjau pun urung berangkat. (*)

Baca juga:

NOC Indonesia Dorong Atlet Indonesia Kejar Poin Tembus Olimpiade

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Lahir Seabad Lalu, I Gusti Ngurah Rai 'Pulang' ke Carangsari Tahun 2018
Tradisi
Lahir Seabad Lalu, I Gusti Ngurah Rai 'Pulang' ke Carangsari Tahun 2018

I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya gugur dalam Puputan Margarana.

Karakter Pelancong Kini Berubah
Travel
Karakter Pelancong Kini Berubah

Bukan cuma soal harga, saat ini pelancong lebih mencari tempat penginapan yang menjamin keamanan

Perpaduan Cita Rasa Jawa Barat dan Yogyakarta dalam Celetot
Kuliner
Perpaduan Cita Rasa Jawa Barat dan Yogyakarta dalam Celetot

Mengenalkan kembali potensi olahan makanan fermentasi.

Pangeran Diponegoro Ledakan Perang Jawa yang Hampir Bikin Bangkrut Belanda
Tradisi
Pangeran Diponegoro Ledakan Perang Jawa yang Hampir Bikin Bangkrut Belanda

Dengan taktik gerilya, Pangeran Diponegoro memusingkan Belanda.

Tiga Fakta Sejarah dan Budaya pada Kuliner Gorontalo
Kuliner
Tiga Fakta Sejarah dan Budaya pada Kuliner Gorontalo

Kuliner Gorontalo memiliki sejarah yang menarik.

Menghitung Hari Baik dan Nahas pada Masyarakat Baduy
Tradisi
Menghitung Hari Baik dan Nahas pada Masyarakat Baduy

Baduy punya dua alat penting untuk menghitung hari baik dan nahas.

Kuliner Nusantara Sajian Favorit Berbuka Puasa
Kuliner
Kuliner Nusantara Sajian Favorit Berbuka Puasa

Beragam kuliner juga dijajakan menjelang buka puasa mulai dari jalanan, hingga rumah makan, hotel, dan restoran.

Intip Kekuatan Si Buta Dari Gua Hantu di Gim Lokapala
Indonesiaku
Intip Kekuatan Si Buta Dari Gua Hantu di Gim Lokapala

Barda punya skill kuat di gim Lokapala.

Kopi Sontoloyo di Batu, Nasi Lodehnya Juara
Kuliner
Kopi Sontoloyo di Batu, Nasi Lodehnya Juara

Kopi Sontoloyo menghadirkan nuansa masa lampau.

Mengenal Gubal, Kuliner Khas Suku Laut Kabupaten Lingga
Kuliner