Usaha Mobrig Mempertahankan Republik Pasukan Mobile Brigade menggunakan seragam loreng macan tutul. (jurnal srigunting)

KOMISARIS TK I Soemarto, Wakil Kepala Kepolisian Negara RI, berinisiatif membakukan beragam sebutan Pasukan Polisi Istimewa. Di berbagai tempat, terkadangan disebut Barisan Polisi Istimewa atau Polisi Istimewa. Dia mengusulkan nama Mobile Brigade dengan harapan menjadi kesatuan pasukan berdisiplin tinggi, kompak, mampu bergerak secara cepat, dan dinamis.

Gagasan Soemarto bersambut. Kepalas Kepolisian RI, RS. Soekanto Tjokrodiatmodjo, memberi kuasa kepada Komisaris Polisi M. Jasin untuk melakukan usaha persiapan pembentukan Mobile Brigade (Mobrig), 17 September 1946.

Sebulan berselang lahir Surat Perintah Kepala Muda Kepolisian No.Pol. 12/78/91, mengukuhkan secara de jure kehadiran Mobile Birgade.

Setelah pembentukan Mobrig, 14 November 1946, di setiap karesidenan dibentuk Mobile Brigade Karesidenan (MBK) berkekuatan satu kompi dengan jumlah lebih kurang 100 personel, dipimpin seorang komandan kompi berpangkat IP I dan IP II.

Pasukan Mobrig, seturut Lorenzo Yauwerissa pada Pasukan Polisi Istimewa, Prajurit Istimewa dalam Perjuangan Kemerdekaan Jawa Timur, direkrut dari kesatuan Polisi Istimewa, P3, dan PGT atau Pasukan Gerak Tjepat.

Kelahiran Mobrig bersambut dengan kondisi keamanan RI, seturut Agresi Militer Belanda I dan II.

Lumajang, 13 Oktober 1947, Mobrig di bawah pimpinan Djamari menghadang laju serdadu Belanda. Baku tembak terjadi hingga pasokan peluru kian menipis. Pertarungan jarak dekat pun tak bisa dihindari. Sekira 18 personel Mobrig gugur.

Sementara di daerah Telogowaru, Malang, sepasukan Belanda menyerbu rumah-rumah penduduk mencari para personel Mobrig. Mereka menemukan lokasi pasti personel Mobrig.

Pertempuran pecah. Belasan personel gugur pada serbuan Belanda. Insiden tersebut kemudian diabadikan menjadi sebuah monumen di daerah Telogowaru.

Saat peristiwa pemberontakan PKI tahun 1948, Mobrig berhasil menangkap anggota PKI bermarkas di hotel Lestari, Blitar. Dengan kekuatan 1 kompi, atas perintah Jasin, Mobrig bergerak dari pabrik tapioka menuju hotel Lestari pada pukul 13.00. Hasilnya, belasan anggota PKI Blitar berhasil diamankan.

Demikian pula saat membebaskan Madiun dari cengkeraman PKI, Mobrig bergerak atas permintaan resmi Soengkono. 3 batalyon berangkat dari Malang menuju Madiun. Sejak dari Nganjuk, Mobrig terus menekan PKI hingga masuk hutan Saradan.

Mobrig terus menghantam PKI hingga mundur ke arah Caruban. Kekuataan Mobrig bertambah ketika pasukan tambahan di bawah pimpinan M. Jasin bergabung. PKI terkepung.

Selesai dengan PKI, Mobrig kembali berhadapan dengan Belanda pada Agresi Belanda II, Desember 1948. Di bawah pimpinan M. Jasin, Mobrig membangun kantong pertahanan di Gunung Wilis, Jawa Timur.

Sekali waktu, Moekari beserta 14 anggota Mobrig lain tersergap tentara Belanda. Mereka, menurut Moekari pada 500 km: Sebuah Nilai Perjuangan Tanpa Angka, pun membuat pertahanan di dalam gedung pabrik gula, namun pertempuran tidak seimbang. Satu demi satu anggota Mobrig gugur. Moekari sempat melompat keluar, namun kakinya diterjang berondongan peluru panas dari senapan Belanda. Ia selamat, meski menderita cacat.

Kesatuan Mobrig Bondowoso di bawah Soetjipto Joedodihardjo pernah mengalami nasib nahas sepulang tugas menumpas PKI, dari Madiun kembali Bandowoso. Soetjipto berpisah, harus berangkat memenuhi tugas menuju Yogyakarta. Soekari menggantikan posisi Sotjipto. Pada perjalanan menuju Bondowoso, mereka mendapat serangan dadakan serdadu Belanda. Sekira 200 personel gugur. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH