Usaha Jenderal Soedirman Memadamkan Pemberontakan PKI Madiun 1948 (15) Soedirman di hadapan para pejuang.

Para petinggi militer berunding tanpa kehadiran Soedirman, 31 Agustus 1948. Kolonel Nasution memberikan pandangan tentang situasi keamanan di dalam negeri, terutama berkaitan dengan kelompok Musso.

Musso cs, menurut Nasution seturut nukilan Harry Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak, secara ‘sistematis’ berusaha menggulingkan Pemerintah Republik Indonesia. Bila pemerintah tidak mampu menanggulangi, tentara sanggup mengambil sikap.

Hasil perundingan tersebut kemudian dilaporkan kepada Palingma Besar Jenderal Soedirman dan Perdana Menteri Mohammad Hatta. Mereka setuju, tetapi pilihan untuk ‘membasmi’ kelompok Musso ditolak, karena dari sudut pandang militer sangat menguntungkan Belanda.

Sepulang dari Moskow, Rusia, Musso tampil sebagai tokoh paling dominan menentang imperialisme Barat. Dia mengajukan sebuah resolusi dikenal dengan “Jalan Baru” pada sidang Politbiro PKI, 13-14 Agustus 1948, dengan membentuk satu partai buruh fusi tiga partai; PKI Ilegal, Partai Buru Indonesia (PBI), dan Partai Sosialis.

Melalui hasil fusi tersebut, Musso memulai perjalanan kelilingnya Jawa menyemai gagasannya. Dia begitu keras, hantam kromo terhadap para tokoh dan kekuatan politik tanah air nan berbeda pandangan dengannya. Mereka dianggap musuh. “Dia mencari konflik dan tinggi hati,... Ia meremehkan pegawai negeri, mencaci maki bangsawan, menghina kyai,” tulis Poeze. Tak heran bila keadaan sosial-politik dalam negeri semakin tegang.

Di Solo suasana menjadi semakin panas. Dua kekuatan militer besar saling berhadapan, antara Divisi IV TNI kemudian bernama Komando Pertempuran Panembahan Senapati (PPS) dengan Divisi Siliwangi, juga antara FDR, Amir Syarifuddin dengan Gerakan Revolusi Rakyat, Tan Malaka.

Kematian Komandan Divisi IV Soetarto nan misterius semakin memperparah keadaan. Provokasi, penculikan, hingga kontak senjata kerap terjadi. Pertikaian pun merembet hingga ke Madiun.

Tokropranolo kemudian menghubungi Jenderal Soedirman terkait situasi terakhir di Solo. “Saya laporkan bahwa golongan kiri mulai bergerak,” ungkapnya dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak di Indonesia. PKI Musso kemudian membangun basis kekuatan di Madiun.

Musso pun mencetuskan negara Soviet Republik Indonesia. Mereka menjalakan aksi pendudukan objek vital, dan serangkaian aksi penangkapan pejabat pemerintah dan militer, pimpinan partai, dan tokoh penting di Madiun.

Merespon kejadian perebutan kekuasaan di Madiun, Soekarno langsung menggelar sidang kabinet pada 19 September 1949, dengan keputusan tindakan FDR di Madiun merupakan suatu pemberontakan kepada pemerintah RI dan menginstruksikan kepada angkatan perang negara memulihkan keadaan di Madiun.

Melalui corong RRI, Soekarno melontarkan ajakan kepada seluruh rakyat dan terutama para pengikut Musso di Madiun untuk memilih, “Pilih antara Soekarno-Hatta atau Amir-Musso dengan PKI-nya”.

Panglima Besar Jenderal Soedirman bertekad kepada pemerintah sanggup memulihkan keadaan di Madiun. Angkatan Perang menetapkan Panglima Divisi VI Jawa Timur, Kolonel Sungkono sebagai Panglima Pertahanan Jawa Timur untuk menggempur para pemberontak di Madiun.

Kolonel Sungkono memecah pasukan menjadi tiga arah, sebagian melewati Trenggalek lalu Ponorogo, pasukan lainnya bergerak menuju Sawahan, Dungus, Madiun, dan sisanya melalui Tawangmangu, Sarangan, Plaosan,

Sementara itu, setelah berhasil menaklukan FDR di Yogya, sebanyak 8 batalyon Divisi Siliwangi bergerak bepencar menuju Madiun. Sebagian melalui jalur utara, Pati, Cepu, Blora, dan sebagai menuju selatan, Wonogiri, Pacitan.

PKI kocar-kacir menghadapi serbuan pasukan TNI. Para pemimpinnya melarikan diri. Musso tewas dalam baku tembak.Pasukan TNI berhasil memulihkan keadaan di Madiun pada 29 September 1948. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH