Upaya Sokrates dan Hypernet Bantu Sekolah untuk Transformasi ke Digital

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 05 Oktober 2023
Upaya Sokrates dan Hypernet Bantu Sekolah untuk Transformasi ke Digital
Kolaborasi untuk membantu sekolah-sekolah transformasi ke digital. (Foto: merahputih.com/Aqil Baihaqi)

KEMAJUAN internet sudah tidak terbendung. Penggunaan internet yang awalnya hanya sebagai pengirim pesan elektronik, kini sudah ber-evolusi menjadi lebih variatif. Di era yang sudah serbainternet kini, kebiasaan masyarskat sudah berubah. Untuk mengimbangi perubahan ini perlu adanya perubahan pada pendidikan yang awalnya konvensional harus beralih ke digital.

"Pada saat pandemi kemarin, itu sebenarnya merupakan perubahan besar karena seluruh kegiatan belajar mengajar itu berubah dari yang biasanya fokus nya ke guru dalan menyampaikan materi, menjadi anak secara mandiri mencari pembelajaran," ujar Rizqie selaku Head of Marketing Sokrates, pada sesi media briefing di Hypernet Office, Kamis (5/10).

Dalam kesempatan ini, Sokrates Apps. bersama penyedia layanan internet Hypernet melakukan kolaborasi untuk membantu sekolah-sekolah untuk sesegera mungkin melakukan transformasi digital.

"Kita juga punya data dari hasil riset kita, bahwa dari 83 persen orang tua itu mengiginkan anaknya masuk ke sekolah yang ada supprot dari teknologi," tambah VP Brand & Marketing Hypernet Technologies Oktaviani Handojo.

Baca juga:

Dorong Masa Depan Digital Indonesia, Huawei Gelar ‘CXO Cloud-Camp’

Sistem LMS akan permudah guru, murid dan orang tua. (Foto: merahputih.com/Aqil Baihaqi)

Dalam upaya melakukan transformasi digital pada instansi pendidikan, terdapat juga tantangan yang dihadapi oleh Sokrates dan Hypernet. Oktaviani menjelaskan ada tiga tantangan yaitu, limitasi internet, sistem pembelajaran yang cocok, dan End to End support system.

"Tentu dalam upaya ini kita juga memiliki tantangan tersendiri Tantangan tersebut ada tiga yakni Limitasi aksen internet, karena tidak semua sekolah memiliki akses internet yang baik. Yang kedua adalah tentang belajar dengan sistem yang baik seperti apa, kita harus tahu dulu sistem seperti apa yang cocok dengan suatu sekolah. Dan yang terakhir itu End to End support system. Karena tidak semua sekolah memiliki team IT," terang Oktaviani.

Learning management system (LMS) yang diciptakan oleh Sokrates dan Hypernet awalnya sudah ada di universitas. Tetapi, ada peluang yang bagus jika sistem ini diterapkan pada sekolah sekolah di Indonesia. Sistem LMS yang di buat ini akan membantu siswa, guru dan orang tua murid dalam memonitoring nilai yang didapat.

Baca juga:

Fintech Dorong Digitalisasi UMKM untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Sistem LMS awalnya akan difokuskan di Jakarta, tetapi tidak menutup kemungkinan ke daerah lain. (Foto: merahputih.com/Aqil Baihaqi)

"Jadi sistem LMS ini akan memudahkan para guru dan orang tua dalam memonitoring nilai anaknya. Contohnya untuk guru, sistem LMS ini akan mempersingkat waktu penilaian murid murid, jadi misalnya kalau ada tugas video, guru dapat langsung meng input nilai. Untuk orang tua, orang tua akan dengan cepat melihat nilai anaknya. Jadi gak ada lagi anak yang kalo dapet nilai jelek di umpetin. Keuntungan untuk anak murid adalah dia akan termotivasi untuk melakukan tugas-tugasnya," jelas Rizqie.

Sokrates dan Hypernet tentu memiliki komitmen besar dalam usahanya dalam membantu sekolah beralih ke digital. "Kami akan melakukan kunjungan ke sekolah sekolah dan menawarkan inovasi kami," sambungnya.

"Untuk saat ini kami akan fokuskan di Jakarta dulu, karena di Jakarta demand-nya sangat banyak. Tetapi tidak menutup kemungkinan kami akan memperluasnya ke luar Jakarta," tutup Oktaviani. (aqb)

Baca juga:

Cloud Service Jadi Bagian Penting Transformasi Digital UMKM

#Internet #Digital #Pendidikan
Bagikan
Ditulis Oleh

Ananda Dimas Prasetya

nowhereman.. cause every second is a lesson for you to learn to be free.
Bagikan