Unik, Azan di Masjid Ini Dikumandangkan Tujuh Orang Tradisi ini sudah ada sejak jaman Wali Sanga (Foto: MP/Mauritz)

Jika biasanya azan solat dikumandangkan oleh satu orang, namun hal berbeda terjadi di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kota Cirebon. Di sini, ada 7 orang Muazin yang mengumandangkan azan saat solat Jumat. Tradisi ini dikenal dengan Azan Pitu. Selain itu, khutbah Jum'at-nya selalu menggunakan Bahasa Arab.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di Alun-Alun Keraton Kesepuhan Kota Cirebon, merupakan salah satu masjid tertua yang didirikan oleh para Wali Sanga, pada tahun 1480 Masehi. Azan Pitu sendiri muncul di zaman para Wali Sanga menyebarkan agama Islam.

Baca juga:

Menikmati Wisata Sejarah di Museum Pusaka Keraton Kesepuhan Cirebon

Masjid Agung Sang  Cipta Rasa (Foto: MP/Mauritz)
Masjid Agung Sang Cipta Rasa (Foto: MP/Mauritz)

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat menjelaskan, Azan Pitu berawal saat adanya wabah penyakit yang melanda Cirebon di zaman para Wali Sanga dulu. Bahkan, salah satu korbannya adalah Nyi Mas Pakungwati yang tidak lain salah istri dari Sunan Gunung Jati.

Untuk mengobatinya, lanjutnya, akhirnya dilakukanlah azan yang dikumandangkan oleh 7 orang. Diambilnya jumlah 7 adalah karena angka 7 mengandung banyak filosofi, seperti jumlah langit, jumlah bumi, jumlah hari, angka yang diistimewakan dalam Islam, dan lain-lain.

Baca juga:

Ada Destinasi Wisata Baru di Kota Cirebon

"Ini sesuai dengan wahyu atau ilham dengan membasmi wabah tersebut dengan azan," jelasnya, Selasa (17/12).

Untuk menjadi Muazin dalam Azan Pitu, lanjutnya, adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Sultan sendiri, yang merupakan keturunan para kaum masjid.

Ada 7 orang muazin (Foto: MP/Mauritz)
Ada 7 orang muazin (Foto: MP/Mauritz)

"Sehingga, orang luar tidak bisa menjadi Muazin dalam Azan Pitu. Harus kaum masjid dan keturunannya," jelasnya.

Azan Pitu dan khutbah dengan Bahasa Arab tersebut hingga kini masih tetap dipertahankan dan dilestarikan, agar Cirebon bisa terhindarkan dari segala macam wabah penyakit berbahaya.

"Penggunaan khutbah dengan memakai Bahasa Arab juga agar masyarakat membiasakan diri dengan Bahasa Arab. Sehingga, nantinya masyarakat akan belajar Bahasa Arab dan Alquran," pungkasnya.

Baca juga:

Indahnya Sore di Pantai Kejawanan, Cirebon


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH