UI Kembangkan Alat Bantu Pernafasan HFNC untuk pasien COVID-19, Begini Cara Kerjanya Alat bantu pernapasan High Flow Nasal Cannula (HFNC) (ANTARA/Foto: Humas UI)

Merahputih.com - Tim dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerja sama dengan RSUP Persahabatan dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), mengembangkan alat bantu pernafasan High Flow Nasal Cannula (HFNC) untuk membantu penanganan pasien COVID-19 di Indonesia.

"Alat ini bekerja dengan memanfaatkan prinsip high flow oxygen therapy dan ditujukan untuk penanganan pasien positif COVID-19 pada tahap awal," ujar Dekan FTUI, Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, dalam keterangannya, Jumat (22/1).

Pengembangan alat HFNC ini merupakan contoh dari kolaborasi antara para pemangku kepentingan di bidang medis dan teknologi.

Baca Juga:

93 Lokasi di Jakarta Telah Terima Vaksin COVID-19

Dukungan penuh dari para pemangku kepentingan juga sangat diperlukan untuk mengakselerasi pengerjaan HFNC hingga nanti mendapatkan izin penggunaan dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK).

Alat bantu pernapasan HFNC merupakan alat terapi oksigen aliran tinggi. Metode terapi oksigen aliran tinggi (High Flow Oxygen Therapy, HFOT) merupakan salah satu metode non-infasif yang dapat digunakan untuk membantu pernapasan pasien positif COVID-19 pada tahap awal.

Salah satu cara untuk mengantarkan oksigen aliran tinggi kepada pasien adalah menggunakan canula hidung atau Nasal Cannula, oleh karena itu alat yang bekerja memanfaatkan prinsip HFOT sering disebut sebagai High Flow Nasal Cannula (HFNC).

Sampai saat ini, Indonesia masih mengandalkan bahan baku impor dan belum ada produk HFNC lokal asli Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Anggota Tim Pengembangan HFNC UI Dr. Ing. Ridho Irwansyah menjelaskan HFNC bekerja dengan cara mengalirkan udara dengan kadar oksigen tinggi (21-100 persen) dan debit aliran sampai dengan 60 liter/menit.

Ambulans beriringan memasuki Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Sabtu (9/1/2021) ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.
Ambulans beriringan memasuki Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Sabtu (9/1/2021) ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.

Aliran dengan kecepatan tinggi ini dilewatkan pada ruang pemanas hingga mengalami kenaikan kelembaban (Relative humidity, RH) serta temperatur hingga mencapai temperatur tubuh pasien.

"Penyesuaian kelembaban dan temperatur terhadap kondisi pasien ditujukan untuk menjaga kenyamanan pasien," ujarnya.

Sedangkan Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam sangat mengapresiasi pengembangan alat bantu pernapasan HFNC ini.

"Infeksi COVID-19 membuat penderita rentan mengalami kondisi hipoksia atau kondisi kurangnya oksigen dalam tubuh sehingga pada kondisi ini, terapi oksigen tambahan dibutuhkan," ujarnya.

Di tengah jumlah pasien positif COVID-19 yang saat ini masih meningkat, kebutuhan akan alat terapi oksigen juga ikut meningkat. Kita patut berbangga karena HNFC ini sudah dapat diproduksi secara lokal.

Baca Juga:

Empat Penyebab Kasus COVID-19 di Jakarta Tinggi

Hal ini tentu akan sangat membantu fasilitas dan tenaga kesehatan dalam memenuhi kebutuhan penanganan pasien-pasien ini. Mudah-mudahan alat ini bisa segera mendapat izin edar dan bisa diproduksi dan dipakai oleh para klinisi utk membantu pasien-pasiennya.

Dari hasil demo dan unjuk fungsi yang telah dilaksanakan, terdapat beberapa hal yang akan dilakukan untuk percepatan pengerjaan HFNC hingga nanti dapat digunakan untuk membantu penanganan pasien COVID-19 di Indonesia. (*)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
PSBB Transisi Diperpanjang, Ganjil Genap di Jakarta Masih Belum Berlaku
Indonesia
PSBB Transisi Diperpanjang, Ganjil Genap di Jakarta Masih Belum Berlaku

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya kembali memperpanjang tidak diberlakukannya kebijakan ganjil-genap

Merapi Siaga, Sleman Tutup Sejumlah Lokasi Wisata
Indonesia
Merapi Siaga, Sleman Tutup Sejumlah Lokasi Wisata

Status Gunung Merapi naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Kamis (5/11).

[HOAKS atau FAKTA]: Menggoyang-goyangkan Tabung Gas Bisa Timbulkan Ledakan
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Menggoyang-goyangkan Tabung Gas Bisa Timbulkan Ledakan

Beredar di Facebook video dua orang sedang mengoyang-goyangkan tabung untuk memperbaikinya.

Kolonel TNI Dibegal Saat Bersepeda di Bintaro
Indonesia
Kolonel TNI Dibegal Saat Bersepeda di Bintaro

Seorang anggota TNI kembali jadi korban begal saat bersepeda. Kali ini, kejadiannya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

DPR Kembali Dikritik karena Bahas Percepatan RKUHP saat Pandemi COVID-19
Indonesia
DPR Kembali Dikritik karena Bahas Percepatan RKUHP saat Pandemi COVID-19

ICJR mencatat di dalam draf terakhir per September 2019, masih terdapat pasal bermasalah yang overkriminalisasi.

Kasus Mafia Peradilan di MA, KPK Konfrontir Nurhadi dan Menantunya
Indonesia
Kasus Mafia Peradilan di MA, KPK Konfrontir Nurhadi dan Menantunya

"Hari ini keduanya diperiksa sebagai saksi. Tepatnya saling menjadi saksi," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri

RSUP Persahabatan Bantah Pasien Corona Kabur karena Perawatan Tak Maksimal
Indonesia
RSUP Persahabatan Bantah Pasien Corona Kabur karena Perawatan Tak Maksimal

Seorang pasien wanita yang dirawat di ruang isolasi Pinere RSUP Persahabatan akibat virus corona kabur sepekan lalu.

Bio Farma Selesai Produksi 4 Juta Vaksin COVID-19, Februari Didistribusikan
Indonesia
Bio Farma Selesai Produksi 4 Juta Vaksin COVID-19, Februari Didistribusikan

PT Bio Farma (Persero) memastikan 4 juta dosis vaksin COVID-19 sudah selesai diproduksi dan siap didistribusikan pada Februari 2021.

RS Polri Terima 7 Kantong Jenazah Berisi Potongan Tubuh Korban Sriwijaya Air
Indonesia
RS Polri Terima 7 Kantong Jenazah Berisi Potongan Tubuh Korban Sriwijaya Air

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri menerima tujuh kantong jenazah korban pesawat Sriwijaya Air SJ182.