Twitter Akan Berikan Perintah untuk Membaca Sebelum Retweet Twitter akan hadirkan fitur baru untuk pengguna agar terlebih dahulu membaca sebelum retweet (Foto: pixabay/photomix-company)

EKSPERIMEN Twitter untuk membuat orang benar-benar membaca konten yang mereka bagikan berjalan dengan baik. Twitter berencana untuk memperluas eksperimen itu ke platform secara luas.

Pada Juni, Twitter memperkenalkan fitur pengujian di Android untuk mempromosikan 'diskusi yang terinformasi' di platform. Sesuatu yang jarang terjadi pada percakapan media sosial yang kondusif.

Baca juga:

Twitter Berikan Label Pada Akun Pejabat Pemerintah dan Media, Ada Apa?

Permintaan eksperimental muncul agar pengguna me-retweet artikel yang belum mereka klik untuk membukanya. Serta menyarankan agar mereka membaca sebelum me-retweet.

Twitter hadirkan fitur baru yang bertujuan untuk mencegah pengguna membagikan konten berbahaya (Foto: twitter promt/techcrunch)

Twitter mengatakan petunjuknya berhasil, dan pengguna membuka artikel sebelum membagikannya 40% lebih sering daripada yang mereka lakukan tanpa pemberitahuan.

Pengguna dalam kelompok pengujian, tampaknya membuka artikel dan kemudian me-retweet 33% lebih banyak daripada yang mereka lakukan tanpa test promt.

"Artikel mudah menjadi viral di Twitter. Terkadang, ini bagus untuk berbagi informasi, tetapi juga bisa merusak wacana, teruama bila orang belum mebaca apa yang mereka tweet," jelas Direktur Manajemen Produk Twitter Suzanne Xie, seperti yang dilansir dari laman techcrunch.

Baca juga:

Twitter Tengah Survei Fitur Layanan Berbayar, Simak Daftar Lengkapnya

Sepertinya perubahan pada fitur tersebut kecil. Namun langkah-langkah seperti ini bisa menjadi kunci untuk mengubah citra media sosial menjadi sesuatu yang tidak terlalu beracun dan reaksioner.

Perintah pengujian tersebut dilakukan guna memperingatkan pengguna sebelum mereka membagikan konten yang dapat berbahaya atau menyinggung.

Twitter berusaha mengurangi informasi hoaks, pelecahan dan berita negatif lainnya (Foto: pixabay/alurean)

Setelah membangun platform yang disetel untuk membuat pengguna berbagi dan terlibat sebanyak mungkin, menghadirkan gesekan pada pengalaman itu tampaknya berlawanan dengan intuisi. Tetapi, walau hanya sesaat jeda dalam perilaku pengguna, dapat mengatasi sejumlah kesengsaraan media sosial yang mengakar.

Membersihkan platform media sosial dari masalah mungkin tidak mudah, khususnya bagi perusahaan yang jarang termotivasi untuk membuat perubahan yang berarti.

Tapi, memprogram ulang perilaku pengguna agar menjauh dari impulsif, bisa membantu mengurangi viralitas informasi yang salah, pelecehan, dan masalah lainnya. (Ryn)

Baca juga:

Gegara Akun Politik Twitter Tingkatkan Fitur Keamanan

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH