Turki Sebut Krisis Qatar Tanpa Alasan dan Rusak Persatuan Islam Presiden Sudan Omar al-Bashir menyambut Presiden Turki Tayyip Erdogan di Bandara Khartoum, Sudan (ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed Nureldin Abdallah)

MerahPutih.Com - Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan krisis Qatar yang dipicu pemutusan hubungan diplomatik oleh Arab Saudi dan sekutunya harus segera diakhiri. Menurutnya, tidak ada alasan bagi Arab Saudi dan Qatar untuk meneruskan konflik tersebut karena merusak persatuan negara-negara Islam.

"Menurut pandangan Turki, krisis di Teluk ini adalah krisis tanpa alasan. Sejauh ini, berbagai tuduhan muncul namun tidak ada bukti," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dalam jumpa pers bersama mitranya dari Sudan di Khartoum, Selasa (26/12).

Krisis Qatar bermula dari blokade yang dipelopori Arab Saudi karena Qatar dinilai terlibat dalam pendanaan sejumlah organisasi terorisme. Turki menilai, terus diperpanjang krisis Qatar mengancam persatuan Islam.

"Dalam pandangan saya, tidak ada alasan untuk tidak menyelesaikan krisis ini. Sesama saudara (muslim) harus bisa menghindari krisis. Turki mendukung prakarsa Kuwait dan telah melakukan kontak secara intensif dengan Kuwait, Arab Saudi dan Qatar," kata Cavusoglu.

Pada Juni, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dengan menuduh negara itu mendukung terorisme. Arab Saudi bersama sekutunya bahkan melakukan blokade transportasi dan lalu lintas perdagangan terhadap Qatar. Qatar telah membantah semua tuduhan.

Seruan persatuan dan rekonsiliasi terhadap Qatar yang dilontarkan Menlu Turki merupakan bagian dari upaya diplomatik Turki terhadap negara-negara di Afrika. Sebagaimana diketahui, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tengah gencar melakukan konsolidasi diplomatik di kawasan tersebut dengan mengunjungi sejumlah negara seperti Sudan dan Tunisia.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagaimana dilansir Antara pada Selasa mengakhiri kunjungan tiga harinya di Khartoum, yang menandai lawatan pertama yang pernah dilakukan presiden Turki ke Sudan sejak kemerdekaannya pada 1956. Sudan merupakan negara pertama yang dikunjungi Erdogan dalam rangkaian lawatannya di Afrika, yang termasuk Chad dan Tunisia.

Dalam kunjungannya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan didampingi oleh delegasi besar beranggotakan lebih dari 200 pelaku bisnis Turki.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH