Turki Hukum Seumur Hidup Para Pemimpin Kudeta 2016 Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. ANTARA/REUTERS/HO-Presidential Press Office/aa. (Presidential Press Office/Handou/PRESIDENTIAL PRES)

MerahPutih.com - Pengadilan Turki menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada ratusan terdakwa yang dituduh memimpin upaya kudeta tahun 2016, pada Kamis (26/11), termasuk terhadap komandan dan pilot militer. Kudeta tersebut dilakukan para pimpinan militer dari sebuah pangkalan udara dekat ibu kota Ankara.

Lebih dari 250 orang tewas pada 15 Juli 2016 lalu ketika para tentara yang membelot menguasai pesawat tempur, helikopter dan tank, dan berusaha untuk mengambil kendali institusi negara serta menggulingkan pemerintahan Presiden Tayyip Erdogan.

Dikutip Antara, persidangan itu merupakan yang paling diperhatikan oleh publik dari lusinan kasus pengadilan yang menargetkan ribuan orang. Dimana, orang-orang itu dituduh terlibat dalam upaya kudeta. Tudingan dilontarkan oleh Ankara kepada para pendukung Fethullah Gulen, seorang penceramah muslim yang berada di Amerika Serikat.

Baca Juga:

Gempa Turki, Enam Orang Tewas dan Ratusan Luka-luka

Mantan komandan angkatan udara Akin Ozturk dan sejumlah pihak lainnya di pangkalan udara Akinci dekat Ankara dituduh mengarahkan kudeta dan membom gedung-gedung pemerintah. Termasuk gedung parlemen, dan berusaha membunuh Erdogan.

Menurut laporan kantor berita negara Anadolu, empat pemimpin kelompok, yang dijuluki "imam sipil" karena hubungan dengan jaringan Gulen, dijatuhi hukuman seumur hidup. Alasannya, karena tuduhan mencoba membunuh presiden dan berusaha menggulingkan tatanan konstitusional.

Pilot pesawat tempur F-16 juga termasuk di antara mereka yang mendapat hukuman seumur hidup. Hukuman itu merupakan hukuman terberat di pengadilan Turki lantaran tanpa adanya kemungkinan pembebasan bersyarat.

Menteri Pertahanan Hulusi Akar, beserta komandan lainnya, ditahan selama beberapa jam di pangkalan pada malam kudeta. Sebanyak 475 orang diadili, 365 di antaranya dalam tahanan.

Fethullah Gulen, imam Islam Turki yang bermukim di Amerika Serikat, yang dianggap Ankara bertanggung jawab atas kudeta di Turki. (haber.sol.org.tr)
Fethullah Gulen, imam Islam Turki yang bermukim di Amerika Serikat, yang dianggap Ankara bertanggung jawab atas kudeta di Turki. (haber.sol.org.tr)

Tindakan keras yang berlanjut

Ulama Gulen (79), yang pernah menjadi sekutu Erdogan dan membantah terlibat dalam kudeta, adalah satu dari enam terdakwa yang diadili secara in absentia. Berkas mereka dipisahkan dari persidangan utama, menurut laporan media.

Pemerintah mengumumkan keadaan darurat di Turki, negara anggota NATO dan calon anggota Uni Eropa, setelah kudeta yang gagal dan melakukan tindakan keras skala besar yang membuat khawatir sekutu Barat Ankara.

Baca Juga:

Penjelasan BMKG soal Gempa Turki

Sekitar 292.000 orang telah ditahan karena diduga terkait dengan Gulen, hampir 100.000 dari mereka dipenjara menunggu persidangan, sebagaimana dilaporkan Anadolu yang mengutip pernyataan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu.

Sekitar 150.000 pegawai negeri dipecat atau diskors setelah kudeta, dengan sekitar 20.000 dikeluarkan dari militer. Pengadilan telah menjatuhkan lebih dari 2.500 hukuman seumur hidup.

Empat tahun kemudian, operasi polisi yang menargetkan tersangka yang dituduh memiliki hubungan dengan Gulen terus berlanjut.

Pemerintah mengatakan tindakan keras diperlukan mengingat tantangan keamanan yang dihadapi Turki, untuk membasmi jaringan pendukung Gulen yang tertanam dalam di aparat negara. (*)

Baca Juga:

Presiden Turki Serukan Warganya Boikot Produk Prancis

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Pemprov DKI Minta BNPB Kembali Biayai Hotel Isolasi Mandiri COVID-19
Indonesia
Pemprov DKI Minta BNPB Kembali Biayai Hotel Isolasi Mandiri COVID-19

Mudah-mudahan, isolasi di kedua rusun dapat dikelola juga dengan baik

Kisah Orang Tua Mengantar Anak Sekolah di Tengah Pandemi
Indonesia
Kisah Orang Tua Mengantar Anak Sekolah di Tengah Pandemi

"Saya bersyukur dan senang akhirnya anak bungsu (Naufa) bisa kembali sekolah tatap muka," kata Risma

Kiprah Paulus Waterpauw Yang Bakal Menyandang Jenderal Bintang Tiga Polisi
Indonesia
Kiprah Paulus Waterpauw Yang Bakal Menyandang Jenderal Bintang Tiga Polisi

Upaya penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata tak gampang. Hingga saat ini. Paulus menegaskan, tengah mencari strategi atau SOP yang baik.

Vaksin Sinovac Bakal Didistribusikan Akhir Januari 2021
Indonesia
Vaksin Sinovac Bakal Didistribusikan Akhir Januari 2021

Nanti klinikal trial akan berjalan terus

Warga Jakpus Pasang Spanduk Tolak Kembalinya Pemudik Tidak Lakukan Tes COVID-19
Indonesia
Warga Jakpus Pasang Spanduk Tolak Kembalinya Pemudik Tidak Lakukan Tes COVID-19

Kapolsek Sawah Besar AKP Maulana Mukarom mengakui, pemasangan spanduk ini dilakukan oleh masyarakat di lingkungannya. Sebab, mereka merasa resah dengan penyebaran COVID-19 .

Besok Masih Puasa, Kamis Lebaran
Indonesia
Besok Masih Puasa, Kamis Lebaran

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah jatuh pada Kamis (13/5).

Alasan Menkominfo Dukung Upaya Memperjelas Tafsir UU ITE
Indonesia
Alasan Menkominfo Dukung Upaya Memperjelas Tafsir UU ITE

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mendukung upaya lembaga yudikatif untuk memperjelas penafsiran atas beberapa pasal dalam UU ITE.

 PON Segera Bergulir, Airlangga Minta Tingkat Kasus COVID-19 di Papua Diturunkan
Indonesia
PON Segera Bergulir, Airlangga Minta Tingkat Kasus COVID-19 di Papua Diturunkan

Khusus Provinsi Papua, per 3 September 2021, jumlah kasus aktif kumulatif dari tahun lalu adalah 32.568 kasus

Imam Besar Masjid Istiqlal yakin PPKM Darurat Bakal Sukses Jika Umat Kompak
Indonesia
Pengamat Duga ada yang Sengaja Giring Matinya Laskar FPI ke Arah Pelanggaran HAM Berat
Indonesia
Pengamat Duga ada yang Sengaja Giring Matinya Laskar FPI ke Arah Pelanggaran HAM Berat

Polri sendiri sudah menetapkan tiga anggota Polda Metro Jaya di lapangan sebagai terlapor