Turki Bantah Berselisih dengan Rusia Terkait Suriah dan Kembali Gandeng AS Presiden Turki Tayyip Erdogan berbicara di Istana Kepresidenan di Ankara, Turki (ANTARA FOTO/Yasin Bulbul/Presidential Palace/Handout via REUTERS)

MerahPutih.Com - Turki dan Rusia melakukan serangan ke kawasan Afrin wilayah Suriah utara. Namun belakangan, Turki sedikit tidak nyaman dengan ulah Rusia yang membombardir wilayah Suriah karena dinilai berisiko menimbulkan korban dari warga sipil.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu membantah adanya perselisihan antara negaranya dengan Rusia terkait serangan udara terhadap Suriah.

"Kami tidak memiliki perbedaan pendapat dengan Rusia. Kami melanjutkan hubungan kami dengan Rusia," kata Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, Selasa (6/2) dalam wawancara dengan TGRT Haber ketika ditanya tentang kemungkinan ketegangan dengan Moskow mengenai Afrin.

Turki meluncurkan "Gerakan Cabang Zaitun" dua minggu lalu, yang membidik petempur YPG Kurdi di Afrin, membuka perselisihan baru dalam perang saudara Suriah, yang telah berlangsung tujuh tahun dan melibatkan banyak pihak. Rusia adalah pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad.

"Kita perlu saling memberitahu pada waktu tepat, terutama mengenai serangan udara dan perkembangan di lapangan. Kami menghubungi mereka pada saat peristiwa atau sebelumnya," katanya.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, Mevlut Cavusoglu juga mengatakan pasukan Turki telah selesai membangun bangunan keenam titik pengamatan di wilayah Idlib Suriah.

Idlib adalah salah satu kubu pertahanan terakhir pemberontak anti-Assad yang telah diusir dari sebagian besar benteng mereka di Suriah sejak Rusia bergabung dalam perang di pihak pemerintah Damaskus pada 2015 Turki, anggota NATO, telah lama menjadi salah satu sekutu utama pemberontak anti-Assad.

Sementara itu, Pemerintah Suriah menggambarkan serangan Turki di wilayah Afrin di Suriah sebagai "agresi" ilegal dan mengatakan pihaknya akan menanggapi serangan itu dengan tindakan setimpal.

"Operasi militer Turki di Suriah utara adalah agresi yang mencolok," kata kementerian luar negeri Suriah dalam pernyataan yang disebarkan di media pemerintah.

"Keberadaan pasukan asing tanpa izin merupakan 'pendudukan dan akan ditindak dengan semestinya'," demikian bunyi pernyataan itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Minggu (28/1) berikrar akan membersihkan perbatasan dengan Suriah "dari pelaku teror", tindakan yang dapat meningkatkan resiko bentrokan antara tentara Turki dan Amerika Serikat di negara yang dicabik perang itu.

Sementara di pihak lain, Turki mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson bahwa kedua negara itu harus memperbaiki kepercayaan, yang rusak, kata menteri luar negerinya pada Selasa, menyusul serangkaian perselisihan, terutama mengenai perang Suriah.

Hubungan antarsekutu NATO tersebut tegang akibat dukungan Amerika Serikat kepada petempur YPG Kurdi di Suriah. Turki menganggap YPG sebagai kelompok teroris, namun menjadi unsur kunci kekuatan dukungan Amerika Serikat untuk memerangi ISIS di Suriah.

Presiden Tayyip Erdogan berjanji membersihkan petempur dari perbatasan selatan Turki, yang dapat membuat tentara Turki terlibat benturan dengan pasukan Amerika Serikat di darat di Suriah.

"Kepercayaan kita rusak, kita harus memperbaiki kepercayaan kita. Hubungan antara kita penting," kata Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu kepada medis TGRT Haber dalam wawancara.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH