Tung, Tung, Tung! Nyaring Bunyi Sejarah Kentungan Seorang bapak memukul kentungan. (Foto: treme.desa.id)

GEROMBOLAN anak mejejali jalan utama Kebon Kelapa Raya, Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur. Suara riuh tetabuhan lebih dulu datang ketimbang muka satu per satu anak. “Per, per, per, per, per, per. Si, si, si, si, si, si. Ja, ja, ja, ja, ja, ja. Dukung Persija! Sahur!” teriak mereka sembari menggebuk bass dan snar drum, memukul beduk serta kentungan.

Memukul piranti berbahan bambu sebagai sarana membangunkan sahur menjadi pemandangan asing di ibukota. Para pembangun sahur urban mulai beralih memilih dua bagian drum, biasa digunakan memandu chant suporter sepakbola di tribun, ketimbang beduk atau kentungan.

Meski usang di hingar-bingar Jakarta, kentungan justru jadi primadona di daerah lain selama ‘bulan puasa’.

‘Thong Lek’ Biar Melek

Jelang ramadan, bapak-bapak juga kaum muda Rembang, Jawa Tengah, sibuk berlatih musik. Mereka harus kerja keras menyelaraskan suara kentungan dan thek thek renteng, alat musik berbahan bambu, dengan alat musik elektronik, seperti gitar dan bas elektrik, serta keyboard. Orang Rembang menyebutnya kesenian Thong Thong Lek.

Thong Lek berkembang dari tradisi gugah sahur (membangunkan sahur) di masyarakat Rembang. Para pemuda mula-mula berkeliling kampung memukul kentungan beramai-ramai untuk mengingatkan ibadah sahur sepanjang bulan ramadan.

Seiring masa bergulir, unsur-unsur musik elektrik, bersenandung lagu-lagu hits, mulai genre rock, pop, hingga dangdut mulai mendapingi. Mereka tak lagi semata memukul kentungan, juga memadukannya dengan alat musik elektronik. Fenomenan itu muncul di Rembang sekira tahun 1970-an.

Irsema atau akronim Irama Sedap Malam, merupakan salah satu grup perintis Thong Lek. Mereka tampil sangat ikonik mengusung lagu-lagu Koes Plus.

Soetrisno Kempong (58), Soedjati (60), dan Ali Imron (57) sempat bereuni pada tahun 2009. Para pensiuan pegawai negeri sipil tersebut memutuskan kembali naik gelanggang di tengah merosotnya pamor Thong Lek. Mereka mengajak kaum muda menghidupkan kembali Thong Lek di Desa Sidowayah, Rembang.

“Selain reuni Irsema, kami hanya ingin mengingatkan kembali hakikat Thong Thong Klek pada masyarakat Rembang, ngentongi wong kon melek,” ujar Kempong kepada Albertus Hendriyo Widi, “Ramadhan: Gugah Sahur Rasa Koes Plus” Kompas, 10 September 2019.

kentungan
Kentongan kepala Naga. (Foto: COLLECTIE TROPENMUSEUM)

Mereka membentuk Irsema lantaran satu kesamaan, sama-sama penggemar Koes Plus. Tak heran sejak terlahir pada tahun 1972 hingga kembali reuni, lagu-lagu sang idola senantiasa tersaji, selain tembang pamungkas gubahan Irsema bertajuk Irama Sedap Malam.

Kini, Irsema tak lagi was-was. Thong Lek telah menjadi gelaran festival rutin Kabupaten Rembang saban ramadan. Tiap-tiap grup akan unjuk kebolehan di ajang tersebut untuk menjadi juara. Tahun ini, Festival Thong Thong Lek Tradisional akan berlangsung di halaman Stadion Krida Rembang pada 12 Juni 2018.

Kentungan pada Thong Lek bersalin rupa mengikuti perkembangan zaman. Bilah bambu berongga tersebut memang memiliki kaitan erat dengan Islam. Tak sekadar perkara sahur, di suatu masa kentungan menjadi pemantik sengketa argumentasi di kalangan kiai dan santri.

Memanggil Shalat

Sebelum pengeras suara masif digunakan tiap-tiap masjid, kentungan dan beduk menjadi penanda paling sering digunakan untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan shalat.

Muadzin Masjid Demak dan Menara Kudus, menurut HM Darori Amin pada Islam dan Kebudayaan Jawa, acap memukul kentungan dan beduk sebelum beradzan. Tradisi memukul kentungan, lanjut Darori, kemudian meluas hingga pelosok pedalaman Jawa lantaran masyarakatnya terbiasa dengan komunikasi tradisional tersebut.

Penggunaan kentungan di masjid tak mentah-mentah diterima semua umat. Sebagian berpendapat memukul kentungan tak memiliki dalil kuat.

KH Hasyim Asy`ari, pendiri Nahdlatul Ulama, sempat menulis pendapatnya tentang kentungan pada terbitan berkala bulanan NU tahun 1928. Beliau berpendapat kentungan tidak diperkenankan untuk memanggil shalat dalam hukum Islam karena tidak tertulis di hadist manapun.

kentungan
Kentongan besar di Tosari, Pasuruan, Jawa Timur pada 13 Juli 1900. COLLECTIE TROPENMUSEUM

Pendapat pendiri NU tersebut mendapat sanggahan. Pada penerbitan bulan berikutnya, Kyai Faqih, asal Maskumambang, Gresik, menulis argumen berbeda terhadap pendapat Hasyim Asy`ari. Kentungan, menurut Kyai Faqih, harus diperkenankan karena bisa dianalogikan atau diqiyaskan kepada beduk sebagai alat pemanggil shalat sesuai dalil naqli Muhammad Saw.

Silang pendapat tersebut membuat gempar para Nahdliyin. Hasyim Asy`ari pun mengundang para ulama se-Jombang dan para santri senior berkumpul di pesantren Tebu Ireng, Jombang, untuk mengurai benang kusut.

Sang Kiai, seturut Abdurrahman Wahid pada Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, meminta salah satu hadirin membaca kedua artikel tersebut. Seusai dibaca, Hasyim Asy`ari menegaskan kepada para hadirin untuk bebas memilih kedua alat pemanggil tersebut. Hanya saja beliau meminta kepada pengurus agar kentungan tak lagi digunakan selama-lamanya khusus di Masjid Tebu Ireng.

“Pandangan beliau itu mencerminkan sikap sangat menghormati pendirian Kyai Faqih dari Maskumambang,” tulis Gus Dur.

Membakukan Kentongan

Memukul kentungan memang tak boleh serampang. Tiap ketukan memiliki arti berbeda-beda, bisa berarti bencana alam, kebakaran, kabar duka, kemalingan, hingga keadaan kembali aman.

Keserampangan mengetuk kentungan pernah menjadi perhatian serius sang pengambil kebijakan. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta secara khusus membuat pedoman tentang tanda bunyi kentungan melaui Instruksi Gubernur KDH-DIY nomor 5/INST/1980, tertanggal 26 Mei 1980.

Terdapat enam jenis tanda kentungan. Memukul kentungan tanda bunyi doro muluk satu kali berarti keadaan aman. Tanda bunyi dua-dua pertanda keadaan siap atau waspada. Mengetuk tiga-tiga bermakna kejahatan khusus, seperti rajakaya atau kehilangan sapi, kerbau, kuda. Sementara, pukulan tujuh gandul penanda ada kejahatan besar, semisal rajapati atau pembunuhan. Memukul tanda gobyok atau titir berarti bencana alam. Terakhir, membunyikan doro muluk dua kali berarti kabar duka orang meninggal.

kentungan
Kentongan kepala Naga berbahan perunggu. Sumber: Geheugen van Nederland

Tanda bunyi kentongan tersebut, sesuai amanat Instruksi Gubernur (Ingub), harus ditempel di tiap-tiap pos ronda, rumah kepala dusun dan pejabat pemerintahan.

Kentungan sempat menjadi alat komunikasi tradisional paling efektif. Di masa keemasannya, menurut Surono dalam “Kentongan: Pusat Informasi, Identitas, dan Keharmonisan pada Masyarakat Jawa”, Jurnal Patrawidya, Vol 6, No.1, Maret 2015, kentungan memiliki peran penting sebagai sarana penyampai pesan secara masal dan cepat kepada warga, baik bersifat komunal maupun personal. Tak heran bila tiap-tiap sarana umum dan rumah di masa lalu paling tidak memiliki sebilah kentungan.

Kentungan di rumah-rumah berbeda ukuran dan bahan dengan peruntukan di pos keamanan maupun tempat ibadah. Ukuran kentungan perseorangan berbahan bambu, biasa digantung di depan rumah, memiliki panjang 40-70 sentimeter, dan kentungan bongkol bambu berbentuk melengkung seperti bulan sabit berdiameter 20-25 sentimeter.

Sementara, kentungan di tempat-tempat umum berukuran lebih besar, berbahan kayu, memiliki panjang lebih dari satu meter dan ukuran keliling 30 sentimeter. Dari segi penggunaan, lanjut Surono, kentungan bambu biasa digunakan di rumah untuk keperluan pribadi, penyampai pesan kepada pos terdekat, sedangkan kentungan kayu digunakan di tempat umum untuk menyampaikan pesan publik, dari satu pos ke pos lainnya.

Selain menjadi alat komunikasi antarmanusia, kentungan juga berfungsi magis untuk berkomunikasi dengan mahluk gaib.

Memanggil Makhluk Gaib

Bismillah teguh badanku, badane para nabi, kemule para wali, karana Allah tangala Allahuakbar,” rapal sang dukun (shaman) sebanyak tujuh kali. Ia bertirakat, mempersiapkan uba rampe, berharap beroleh petunjuk hari pelaksanaan terbaik untuk ritual memanggil mahkluk gaib, khususnya tuyul.

Tiba hari pelaksanaan, dukun tersebut lantas mengujungi salah satu kampung di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tempat tuyul beroperasi. Ia beroleh laporan harta benda masyarakat setempat sering hilang secara misterius.

Lepas jam 12 malam, sang dukun menaiki lonjoran daun kelapa ditarik sungsang. Ia berjalan seperti main kereta-keretaan tanpa busana, sembari menabuh kentungan.

Hayo sapa milu nyong numpak kreta, (ayo siapa mau ikut saya naik kereta),” teriak sang dukun mengundang tuyul bergabung.

Tak lama, kulit kelapa seperti ditarik-tarik. Dukun kontan memukul menggunakan lidi kelapa tepat di pusat gerakan misterius. Saappp!

Keesokan hari, dukun tersebut meminta masyarakat mencari salah seorang di antara mereka menderita memar khas serupa garis akibat pukulan lidi kelapa.

“Kejadian seperti itu diakhiri dengan kesepakatan, pemilik tuyul harus mengembalikan tuyul ke tempat asal,” tulis Dr. Wakit Abdullah, pengampu Etnolinguistik Universitas Negeri Sebelas Maret, pada disertasi “Kearifan Lokal Dalam Bahasa dan Budaya Jawa Masyarakat Nelayan Pesisir Selatan Kebumen, Sebuah Kajian Etnolinguistik”.

Kentungan telah lama menjadi medium memanggil makhluk gaib. Teks Jawa Kuna bertajuk Kidung Sudamala memuat kisah pemanggilan seluruh kekuatan makhluk gaib menggunakan kulkul atau kentungan.

kentungan
Kumpulan Tongtong Topeng Desa Aengmerah pada malam Ramadhan 25 Mei 1986, sumber; Helena Boevier buku Lebur, Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura.

Kalika murka begitu tahu cintanya kepada Raden Sadewa tak berbalas. “Kulkul haganti dentabuh mangko, kaget sakweh hing wadolaka, pada metu mangko kabeh. (Ia segera memukul kentungan, terperanjatlah para hantu, keluarlah mereka semua),” kutip pupuh I, 105, Kidung Sudamala terjemahan PV van Stein Callenfels pada De Sudamala in de Hindu-Javaansche Kunst.

Seluruh makhluk gaib pun keluar. Mereka kumpul membawa bangkai, pukang manusia, dan menjinjing tengkorak. Semua berpesta pora dan tak henti menakut-nakuti Raden Sadewa.

Suara kentungan kembali terdengar bertubi-tubi. Serentak para hantu bersuka ria. “Hangucap hahaha hihihi girang ngong, mangke hamamangsa satriya, hanom bagus rupane. (Mengucap hahaha hihihi semua bergembira, akan mendapat mangsa seorang kesatria, muda lagi tampan rupanya)”. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH