Tujuh Tokoh Budaya Papua Bertekad Membangun Papua Bersama Tokoh inspiratif Papua berkumpul dalam Lokakarya Menggali Potensi Papua. (Foto : kemenlu.go.id)

Sedikitnya tujuh tokoh budaya dan tradisional Papua berkumpul dan membagi ilmunya dalam lokakarya "Menggali Potensi Papua bagi Kerja Sama Selatan Selatan" yang diorganisir oleh Kementerian Luar Negeri di Jakarta hari Rabu (14 Des.).

Diantaranya seniman pelopor batik Papua Jimmy Hendrick Affar yang menyatakan,  "Tidak ada kata terlambat membangun Papua."

Jimmy telah memulai usaha batiknya sejak tahun 2007.  Dan saat ini Jimmy telah menghidupi 17 kelompok pengrajin batik di Jayapura.

Selain Jimmy, tokoh kebanggaan Papua lainnya yang hadir adalah Marshall Suebu pendiri dan ketua Klub Pencinta Alam Papua. Marshall Suebu juga mendirikan sekolah alam yang mengajarkan anak-anak Papua untuk mencintai alam dan menjauhi rokok, minuman keras dan narkoba.  

Tokoh pencinta alam dari Papua Barat lainnya yang hadir adalah Maikel Kondolit, koordinator LSM Sobat Bumi di Manokwari yang juga aktif mendidik anak-anak usia dini di pelosok Papua Barat untuk membaca dan belajar bahasa Inggris. 

Tidak ketinggalan Merry Dogopia, ibu perajut noken sekaligus pembina komunitas ibu-ibu pembuat noken "Noken Aniya". Merry telah berhasil membina 7 kelompok ibu-ibu pengrajin Noken sehingga dapat menambah penghasilan keluarga.

Noken merupakan tas anyaman serat kulit kayu yang memiliki arti filosofis mendalam bagi masyarakat Papua, dan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.

Siapa nyana, di Papua juga lahir seorang penggiat kuliner terkemuka. Dialah Charles Toto yang dikenal dengan julukan sebagai Jungle Chef Papua.  Charles piawai dalam memanfaatkan bahan-bahan pangan yang ada di hutan Papua menjadi sajian kuliner khas Papua. Dirinya telah seringkali diundang ke berbagai event untuk mempromosikan kuliner Papua. Bagi Charles Toto hutan adalah mall bagi bangsa Papua, oleh sebab itu kelestariannya perlu dijaga.

Di bidang sastra, hadir Igir Al-Qatiri yang disebut sebagai Khalil Gibran dari Papua.  Al-Qatiri aktif menulis novel, puisi, prosa, pantun yang mencerminkan potret kehidupan masyarakat Papua.

Untuk karya seni fotografi, lokakarya menghadirkan Gerd Maury, Pembina komunitas fotografi "Loor" yang memiliki filosofi untuk mengabadikan kecantikan Papua sebagai bentuk warisan kepada generasi muda. Maury telah membagikan ilmu yang dimiliki kepada berbagai komunitas pemuda di Papua dan memamerkan karya fotografi Loor di even lokal dan nasional.

"Upaya mengumpulkan kami semua untuk mendengarkan masukan pemikiran dari orang Papua sendiri mengenai bagaimana memajukan Papua sangat kami hargai" ujar Marshall Suebu. Ia juga mengaku senang dapat bertemu langsung dengan tokoh-tokoh Papua yang telah lama ia dengar kiprahnya pada pada kesempatan tersebut.

Pencapaian dan dedikasi para putra daerah Papua, seperti dilaporkan laman kemlu.go.id meskipun masih menghadapi berbagai tantangan antara lain kesulitan memperoleh bahan baku, modal, dan perhatian dari Pemerintah, telah mampu menginspirasi dan memberikan sumbangan pembangunan di Papua. Keahlian yang mereka miliki berpotensi besar untuk disumbangkan kepada negara-negara lain di kawasan Pasifik dalam kerangka kerja sama Selatan-Selatan.

Dari lokakarya kerja sama Selatan-Selatan itu terungkap bahwa yang dibutuhkan terutama untuk masyarakat di Kawasan Pasifik adalah keahlian yang memberikan manfaat ekonomi, memperdayakan perempuan, dan meningkatkan peran dan kapasitas pemuda. (dsyamil)

BACA JUGA

  1. Warga Mimika Berdayakan Pabrik Sagu Untuk Hidup Lebih Berkualitas
  2. Prevalensi HIV-AIDS di Mimika Turun
  3. LPMAK Kembangkan Sistem Ekonomi Bebas Ijon dan Tengkulak

 

 

 



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH