Trik Menghindari Jebakan Pemandu Abal-Abal Lawang Sewu Gedung Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah. (Foto: facebook.com/mazfirman)

PEMANDU wisata Abdul Hadi (50) dengan penuh semangat dan sangat detil bercerita tentang kehebatan kolonial Belanda dalam membangun gedung Lawang Sewu di Kota Semarang.

"Coba lihat, tidak ada satu pun dinding yang retak, padahal gedung ini sudah berusia ratusan tahun," kata Abdul mengawali tugasnya ketika diminta sebagai pemandu sekitar 10 pengunjung yang berasal dari luar Jawa Tengah.

Dengan membayar sebesar Rp70 ribu rupiah sebagai jasa untuk satu kali pemanduan yang berlangsung sekitar satu jam, pengunjung pun yang sebagian besar pelajar dan mahasiswa itu dengan penuh perhatian mengikuti penjelasan Abdul. Ia tampak sudah hafal di luar kepala soal gedung bersejarah itu.

Lisensi HPI

Untuk lebih meyakinkan pengunjung yang dipandunya, Abdul terlebih dahulu memperlihatkan kartu anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Semarang. Kartu dan lisensi sebagai pemandu diperolehnya setelah mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Pariwisata Jawa Tengah.

lawang
Instagram @alifanrdn

"Pemandu wisata di kawasan Lawang Sewu ini harus mempunyai lisensi agar pengunjung benar-benar mendapatkan informasi yang benar dan akurat. Tidak sedikit pemandu abal-abal yang asal memandu supaya dapat uang," kata Abdul yang sudah lebih dari 20 tahun menekuni profesinya.

Abdul adalah salah satu dari sebanyak 31 pemandu wisata yang beroperasi di Lawang Sewu, gedung bersejarah di pusat Kota Semarang yang merupakan peninggalan penjajah Belanda. Pada awalnya, gedung itu digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api yang disebut Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau disingkat NIS.

Instagramable Incaran Swafoto

Para pengunjung Lawang Sewu, Kota Semarang sedang berfoto selfie di salah satu ruangan bangunan Lawang Sewu. (MP/Widi Hatmoko)

Sore itu, Selasa (12/6), berdasarkan laporan Antara, terdapat sekitar 100 pengunjung tampak mengagumi keindahan arsitektur Lawang Sewu. Sebagian besar pengunjung adalah anak-anak muda yang datang berpasangan atau rombongan keluarga.

Gaya arsitektur Lawang Sewu yang merupakan perpaduan arsitektur tropis dan Eropa itu memang memiliki pesona yang berbeda sehingga menjadi sangat "instagramable" dan digemari anak muda sebagai latar belakang foto.

Lawang sewu
Pengunjung Lawang Sewo sedang berfoto-foto. (MP/Widi Hatmoko)

Lawang Sewu yang berarti gedung dengan seribu pintu, adalah gedung yang berlokasi di bundaran Tugu Muda, Kota Semarang, mulai dibangun pada 1904 dan selesai tiga tahun kemudian. Jumlah pintu gedung tersebut sebenarnya tidak persis seribu buah, tetapi lebih tepatnya 429 pintu saja dengan sekitar 1.200 daun pintu.

Sampai 1994, Lawang Sewu masih digunakan pemerintah sebagai Kantor Kereta Api Indonesia, tetapi pada 2009 dilakukan restorasi dan perbaikan tanpa mengubah bentuk aslinya. Pada 2011, gedung baru pun dibuka untuk umum sebagai lokasi wisata sejarah dan menjadi salah satu tujuan wisata andalan di Kota Semarang dan Jawa Tengah. (*)


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH