Tren Terorisme di Indonesia, dari Paparan Istri hingga Faktor Ekonomi Gegana Brimob Polda Sumut memeriksa motor yang diduga milik pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana/ama).

MerahPutih.com - Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan bahwa tren teroris yang terpapar paham radikalisme sudah berubah.

Saat ini, paparan radikalisme sudah menyebar hingga kalangan istri dan anak-anak.

Baca Juga:

Pengamat Ungkap "Nuansa Lokal" Serangan Teror yang Berbeda dari Titah Pimpinan ISIS

"Trennya sekarang, sejak Sibolga, Surabaya, kemudian seperti Eselon IV Kementerian Keuangan, kemudian Eselon II Batang, yang terpengaruh kuat adalah istrinya. Istrinya ajak anaknya. Anaknya ajak bapaknya," ucap Irfan kepada wartawan dalam sebuah diskusi di bilangan Jakarta, Sabtu (16/11).

Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)
Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

Dia menyebut, banyak faktor seseorang menjadi teroris. Meski menyebutkan faktor ekonomi tidak tunggal, kebanyakan di Indonesia dibungkus akan hal ini.

"Kalau di negara-negara lain bukan faktor ekonomi, tapi di negara kita kemasannya lebih banyak faktor ekonomi, tetapi lebih benar dikemas tafsiran agama, dengan jihad diarahkan satu makna, tafsiran hijrah diarahkan satu makna, tafsiran thogut diarahkan satu makna. Dan tafsiran kafir itu dipaksakan ke semua orang, bukan hanya polisi," jelas dia.

Dia menuturkan, melihat latar belakang yang terpapar, alasan ekonomi bukan tunggal.

"Jadi kalau alasannya ekonomi, Eselon II Batang saja sudah sejahtera. Eselon IV Kementerian Keuangan, bahkan S2 Flinders University, ditemukan di Suriah dengan lima gadisnya berjuang," ungkap Irfan.

Irfan Idris mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah pelaku dan istri pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan terkait dengan jaringan teroris tertentu.

Baca Juga:

Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan

Pihaknya masih menanti informasi lanjutan perihal peran istri pelaku bom bunuh diri tersebut.

"Kita selalu berkordinasi dengan aparat penegak hukum terutama teman-teman di Detasemen Khusus (Densus) 88. Kita menunggu (informasi soal istri pelaku) selengkapnya dari kerja teman-teman di Densus 88," ujar Irfan.

Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019). (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/aww)
Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019). (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/aww)

Irfan hanya memastikan bahwa istri pelaku bom bunuh diri pernah menjumpai salah seorang narapidana teroris di Medan.

Narapidana tersebut pernah menjadi pekerja migran di Hongkong.

"Dia (istri pelaku) menemui sekali, " tambah Irfan.

Sebelumnya, polisi menyebut bahwa pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, yakni RMN memiliki seorang istri bernama D.

D disebut sering berkomunikasi dengan seorang narapidana perkara terorisme yang mendekam di Lapas Kelas II Medan berinisial I. (Knu)

Baca Juga:

Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH