Tradisi Nyekar Jelang Ramadan, Rezeki Bagi Pedagang Kembang Suwarni salah seorang pedagang kembang di TPU Kober, Kramat Jati (MP/Fadhli)

MerahPutih.Com - Suasana Taman Pemakaman Umum (TPU) Kober, Kramat Jati tampak sepi. Sudah sedari pagi Wati menunggui kembangnya. Sudah seminggu, para pedagang kembang menjajal peruntungan di kawasan pemakaman tersebut. Sampai Rabu (16/5) sudah cukup banyak peziarah yang membeli kembang milik Wati dan sejumlah pedagang lainnya.

Diakuinya, setiap hari dapat meraup untung hingga Rp 400.000 ribu sejak awal berjualan.

"Hari ini memang agak sepi, mungkin karena terakhir jelang puasa kali," keluh Wati saat diwawancarai, Rabu (16/5).

Pedagang yang sudah empat tahun berjualan kembang itu mengaku, pekerjaan yang digelutinya tidak setiap hari dijalani. Pasalnya, tidak setiap hari juga ada yang melakukan nyekar di sini.

"Musiman (jualannya), kalau harian saya kerjanya kuli cuci," ucap Wati.

Pedagang kembang di TPU
Wati pedagang kembang di TPU Kober (MP/Fadhli)

Bukan hal yang baru jika setiap menjelang Ramadan, para pedagang kembang di area pemakaman umum meraup untung. Tradisi nyekar sebelum puasa yang biasa dilakukan masyarakat membawa rezeki tersendiri bagi para pedagang bunga.

Seperti tradisi masyarakat tanah air pada umumnya, jelang Ramadan dijadikan momentum untuk mengunjungi kerabat yang sudah meninggal dunia atau lazim di sebut nyekar.

Nyekar membawa berkah. Lazimnya, warga yang datang menziarahi makam kaum kerabat dan sanak keluarga menabur bunga di atas pusara. Bukan hanya bunga, tapi yang paling penting tentu saja doa untuk selalu mengingat kematian dan memohon ampun bagi anggota keluarga yang telah meninggal.

Pada saat nyekar tersebut, para pedagang bunga mendapat untung. Tak heran, jelang Ramadan banyak yang beralih profesi sebagai pedagang kembang di kawasan TPU seperti yang dilakukan Wati dan Suwarni. Apalagi keuntungan berdagang kembang melebihi penghasilan dari pekerjaan rutin mereka sehari-hari.

"Lumayan mas, bisa buat sahur dan puasa nanti," kata Wati.

Para pedagang kembang di TPU
Para pedagang kembang di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan (MP/Fadhli)

Hal senada diungkapkan Linda, teman seprofesi Wati. Dikatakannya, hari ini terbilang sepi yang melakukan upacara nyekar.

"Sabtu dan Minggu kemarin yang ramai, sampai macet di sini," ucap dia.

Sepinya, masyarakat yang datang untuk nyekar berdampak pada pendapatan Linda.

"Kalau lagi ramai bisa nyampe 400-500 ribu (pendapatan) per hari, harga satu kantong plastik Rp5000," imbuhnya.

Hampir sama dengan Pedagang bunga di komplek pemakaman Kober, pedagang bunga di Pemakaman Jeruk Purut Pasar Minggu, Jakarta Selatan juga mengakui hal yang sama.

Suwarni, pedagang kembang Komplek Pemakaman Jeruk Purut mengatakan, hari ini terbilang sepi pengunjung.

"Biasanya hari libur ramainya, kayak kemarin Sabtu-Minggu ramai," ungkap dia.

Ramainya masyarakat yang menggelar upacara nyekar, kata Suwarni, turut membawa kebahagian bagi pedagang bunga, di sekitar sini.

"Kalau lagi rame pendapatan bisa sampai 3-4 Juta perhari," ucapnya.

Wanita parubaya yang sudah menggeluti pekerjaan sejak 30 tahun lalu itu mengaku setiap hari berjualan di kawasan pemakaman Jeruk Purut.

"Setiap hari jualan kembang di sini, pendapatan? Tidak tentu, kalau harian bisa dapat Rp50-200 ribu," ucapnya. (Fdi)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel:

Kredit : fadhli


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH