TKN: Lebih Baik Apresiasi KPU Dibandingkan Tuding Curang Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding. Foto: ANTARA

MerahPutih.com - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding menilai, quick count dan real count adalah instrumen untuk memastikan hasil pemilu sesuai dengan prinsip kejujuran dan keadilan.

Berdasarkan penghitungan sementara tersebut, Jokowi-Amin unggul di sejumlah provinsi. Di antaranya Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, Papua sebagian wilayah Kalimantan, hingga TPS luar negeri.

Wakil Ketua KIK Abdul Kadir Karding. Foto: Fraksi PKB
Wakil Ketua KIK Abdul Kadir Karding. Foto: Fraksi PKB

Menurut Karding, setiap tahapan demokrasi memang wajar untuk dikritisi secara terbuka.

"Transparansi itu kunci dari pemilu yang jurdil. Di pemilu kali ini kita patut memuji KPU yang begitu transparan dalam menyajikan perhitungannya. Begitu juga dengan lembaga quick count sebagai pembanding yang juga sangat terbuka dalam menyajikan basis data pemilihannya," kata Karding dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (6/5).

Jika mengkritik pemilu, tanpa data yang transparan maka hal itu bisa dinilai sebagai usaha penyesatan.

"Kita ini sekarang berbicara ilmu statistika yang mana harus ada data untuk beragumentasi. Jadi akan sesat kita jika hanya berbicara tanpa data," ujar Karding.

Menurut Karding segala tahapan pemilu yang berjalan sukses dan lancar sudah seharusnya diapresiasi. Bukan justru didelegitimasi karena kekecewaan soal hasil elektabilitas calon tertentu yang belum sesuai dengan harapan.

"Dalam kontestasi ada kalah dan menang. Ada yang luas dan tidak puas akan hasil. Itu semua wajar. Yang tak wajar kalau rasa puas dan tidak puas itu membuat kita bersikap di luar logika," kata Karding.

Politikus PKB itu menyebut apa yang Prabowo Subianto sampaikan ke media internasional tidak tepat dan tidak benar. Menurut Karding, manuver Prabowo tersebut sudah terlihat bagaimana narasi itu ditunjukkan sejak masa pendaftaran pasangan calon presiden.

Narasi tersebut berupa ketidakpercayaan kepada penyelenggara pemilu dan tudingan kecurangan yang masif.

"Jadi memang narasi itu dibangun dan kami menduga sejak awal bahwa Pemilu kalau mereka kalah mereka akan memainkan itu dan terbukti menang hari ini seperti itu," kata Karding.

Kantor KPU

Prabowo Subianto mengundang media internasional untuk berdialog terkait masalah perjalanan sistem demokrasi di Indonesia. Terutama, adanya indikasi kecurangan pilpres 2019 yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif.

Pertemuan tersebut digelar di kediamannya, Jalan Kertanegara IV, Kelurahan Selong, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (6/5). (Knu)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH