Tjong A Fie Membangun Kota Medan Tjong A Fie Mansion, kediaman pembangun Kota Meda. (Foto: tjongafiemansion)

TJONG A Fie mungkin asing di telinga masyarakat Indonesia. Namanya juga tak pernah tercatat sebagai pahlawan di Indonesia. Namun perannya dalam membangun kota Medan sangat besar. Pria kelahiran tahun 1860 tersebut merupakan perantau dari Provinsi Guangdong, Tiongkok. Ia kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Medan. Dari seorang pekerja serabutan ia mampu menjadi seorang bankir dan pengusaha yang kaya-raya.

Semasa hidupnya, Tjong A Fie dikenal sangat dermawan. Perannya dalam membangun kota Medan amat besar. Ia menyumbangkan uangnya untuk pembangunan beberapa fasilitas umum seperti Jembatan Berlian, kelenteng di Jalan Keling dan Pulo Brayan, Rumah Sakit Tjie On Thie Jan, dan rumah sakit khusus penyakit lepra, Pulau Sicanang dan kuburan di Pulo Brayan. Jam besar di puncak gedung balai kota lama juga hasil sumbangannya. Tjong A Fie juga banyak membantu pembangunan sekolah, baik sekolah Islam, Kristen, maupun sekolah Tionghoa.

tjong a fie
Kediaman Tjong A Fie yang membangun infrastruktur di Kota Medan. (Foto: tjongafiemansion)

Sebagai orang Tiongkok, Tjong A Fie mampu membaur dan hidup harmonis dengan masyarakat lainnya. Hal tersebut dibuktikan dengan sumbangan yang ia berikan untuk pembangunan beberapa masjid. Salah satunya adalah Masjid Lama Gang Bengkok yang seluruh biaya pembangunannya ditanggung olehnya di atas tanah wakaf dari Datuk Haji M. Ali.

Tak hanya masjid dan kelenteng, Tjong A Fie juga membantu pembangunan gereja dan kuil Hindu, tempat beribadah orang-orang India di Medan.

tjong a fie
Tjong A Fie, kedermawananannya membangun Kota Meda. (Foto: gossipnya)

Pada 1926, Tjong A Fie meninggal akibat pendarahan otak. Ia mewasiatkan seluruh kekayaannya, baik yang ada di Sumatra maupun di luar Sumatra, untuk dikelola oleh Yayasan Toen Moek Tong. Yayasan itu harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal.

Ia berpesan agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik yang ingin menyelesaikan pendidikannya. Ia juga meminta agar yayasan itu membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat. Yayasan juga diminta untuk membantu para korban bencana alam. Semua bantuan itu diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa memandang agama, suku, maupun warna kulitnya.

Sepeninggalan dirinya, rumah Tjong A Fie atau Tjong A Fie Mansion yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Medan, dijadikan tempat wisata bersejarah. Rumah ini menjadi saksi bisu peran seorang Tionghoa dalam pembangunan Kota Medan di masa lampau.

tjong a fie
Rumah Tjong A Fie yang dijadikan museum. (Foto: tjongafiemansion)

Karena pengaruhnya yang besar dan rasa penasaran warga atas sosoknya, kediamannya dibuka untuk umum sejak 2009. Pintu gerbang rumah itu terbuka untuk kunjungan turis antara pukul 09.00-17.00. Gerbang itu dilengkapi atap kecil khas rumah Tionghoa. Dengan tiket masuk seharga Rp35.000 per orang, pengunjung dapat menjelajah kediaman Tjong A Fie yang berdiri sejak 1900 ini. Di sana, para pengunjung bisa melihat keindahan rumahnya sambil membayangkan kehidupan di sekitarnya sekitar satu abad lampau.

Di rumah tersebut para pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto yang ditinggalkannya. Dari lukisan dan perabot rumah tangga yang ada di Tjong A Fie Mansion, pengunjung bisa belajar budaya Tionghoa.

Rumah tersebut didesain dengan gaya arstitektur Tionghoa, Eropa, dan Melayu. Bisa jadi arsitektur rumah ini menggambarkan sosok Tjong A Fie sendiri yang multikultural. Selain berhubungan dengan orang Tionghoa, ia juga dikenal dekat dengan semua kalangan, termasuk dengan orang Melayu, Arab, India, dan Belanda. (avia)

Kredit : iftinavia


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH