Tito Sebut ASN Tak Netral Kacaukan Pelaksanaan Pilkada Mendagri Tito Karnavian. ANTARA/HO-Puspen Kemendagri

MerahPutih.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan, netralitas aparatur sipil negara (ASN) merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak Tahun 2020.

Hal itu disampaikan Mendagri pada acara Penandatanganan Surat Keputusan Bersama Tentang Pedoman Pengawasan Netralitas Aparatur Sipil Negara Dalam Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2020 di Jakarta, Kamis, (10/9).

Ia mengucapkan terima kasih atas inisiasi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN RB) Tjahjo Kumolo dalam upaya menjaga netralitas ASN melalui penandatanganan surat keputusan bersama (SKB) tersebut.

Baca Juga:

Erick Thohir: Suksesnya Pilkada Jangan Jadi Kegagalan Penanganan COVID-19

“Ini sesuatu yang bisa memberikan kelegaan kepada kontestan untuk bersaing secara sehat,” ujar Tito.

Ia akan menindaklanjuti isi SKB itu, salah satunya dengan ambil bagian dalam satuan tugas (satgas) yang akan dibentuk.

“Kami siap untuk menjadi bagian daripada Satgas tersebut dan siap untuk melaksanakan tugas-tugas ataupun arahan-arahan dari Bapak MenPAN RB,” imbuh Tito.

Dalam menjaga netralitas ASN, pemerintah daerah (pemda) dinilai berperan penting, karena memiliki kewenangan, mulai dari penyusunan program hingga pengalokasian anggaran untuk melaksanakan berbagai kegiatan, baik untuk Pilkada ataupun bukan.

Berikutnya, yang juga perlu diwaspadai yaitu berkaitan dengan mutasi kepegawaian dan jabatan, serta pembuatan kebijakan-kebijakan yang dapat mempengaruhi publik.

“Oleh karena itu netralitas menjadi sangat penting,” urai mantan Kapolri ini.

KPUD Kota Sungai Penuh perpanjang masa pendaftaran bakal calon wali kota. Hingga 6 September 2020 pukul 24.59 WIB baru terdapat satu pasangan bakal calon yang mendaftar. (Antara/HOP/Ist)
Pilkada Serentak 2020. (Antara/HOP/Ist)

Khusus untuk persoalan kepegawaian, Mendagri menegaskan, sesuai dengan aturan perundang-undangan, dalam jangka waktu enam bulan sebelum penetapan pasangan calon (paslon), kepala daerah tidak diperkenankan untuk melakukan mutasi pejabat, kecuali mendapat persetujuan tertulis dari Tito.

Adapun penetapan paslon dijadwalkan pada 23 September 2020 mendatang. Artinya dihitung mundur ke belakang dari tanggal tersebut, bagi daerah yang melaksanakan Pilkada tidak boleh terjadi perombakan pejabat.

“Hingga saat ini sudah 720 usulan mutasi yang ditolak oleh Kemendagri berdasarkan undang-undang tersebut,kecuali untuk pejabat yang wafat atau pejabat yang mendapatkan masalah hukum misalnya sebagai tersangka yang ditahan, kemudian juga mengisi jabatan-jabatan yang memang betul-betul kosong sehingga harus diisi untuk efektivitas,” tegas Tito.

Dalam kesempatan tersebut, ia kembali mengingatkan, terdapat dua hal yang perlu diwaspadai dalam Pilkada Serentak kali ini. Pertama mengenai potensi konflik dan aksi anarkis.

Kedua, soal ketaatan pada aturan yang berkenaan dengan protokol kesehatan COVID-19.

Baca Juga:

75 Persen ASN di Zona Merah WFH

Ia menjelaskan, pihak penyelenggara, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU), telah menerbitkan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 10 Tahun 2020 yang berkaitan dengan protokol kesehatan COVID-19.

“Maka protokol COVID juga kita sama-sama sosialisasikan dan sama-sama kita patuhi. Kita jaga agar Pilkada ini tidak menjadi klaster baru penularan,” imbau Tito.

Bahkan, PKPU tersebut dinilai sebagai sesuatu langkah yang tepat, yaitu dengan membolehkan pemanfaatan sarung tangan, masker, hand sanitizer, faceshield sebagai alat peraga kampanye yang memuat identitas, baik berupa gambar ataupun nomor Paslon.

Ditambah lagi, dengan tema sentral dalam debat yang akan dilakukan yakni seputar gagasan penanganan pandemi .

“Ini yang sudah diatur, diinisiasi oleh KPU, kami ucapkan terima kasih kepada jajaran KPU,” tandas Tito. (Knu)

Baca Juga:

SKB Netralitas ASN Bakal Diteken Jelang Pilkada 2020



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH