Angka Kanker Rongga Mulut di Indonesia Tinggi, Waspadailah! Waspadai kanker rongga mulut. (Foto: Pexels/Rodolfo Clix)

RENDAHNYA kesadaran masyarakat untuk mengenali perubahan pada rongga mulut mengantarkan seseorang pada penyakit kanker rongga mulut.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, jumlah penderita kanker mulut di Indonesia setiap tahunnya semakin bertambah.

Secara global, tercatat 300.373 kasus kanker rongga mulut dan 145.353 kematian akibat anker rongga mulut pada 2012. Lebih dari separuh terjadi di kawasan Asia Tenggara.

Sementara jumlah penderita kanker rongga mulut di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 2.764 pasien. Angka kematian kanker mulut mencapai 50% dengan angka bertahan hidup kurang dari tiga tahun.

1. Stres memicu terjadinya kanker rongga mulut

kanker rongga mulut
Stres adalah salah satu pemicu terjadinya kanker. (Foto: Pexels/Kat Jayne)

"Dari hasil penelitian yang kami lakukan di Jakarta dan Nusa Tenggara Timur, penyebab kanker mulut yang tertinggi adalah merokok, mengunyah sirih, alkohol, virus, pola makan, dan latar belakang genetik," ujar Ketua Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia, drg. Rahmi Amtha, MDS, Sp.PM, PhD ketika ditemui di acara Deteksi Dini Lesi Pra Kanker, Kamis (13/12).

Sementara Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Dr.drg RM Sri Hananto Seno, SpBM(K), MM menambahkan, stres juga bisa menjadi pemicu utama kanker rongga mulut.

"Sebanyak 53% dari pasien kanker rongga mulut yang saya tangani dipicu oleh stres berkelanjutan," tuturnya. Stres dan depresi yang dipendam dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kanker rongga mulut.

2. Kenali kanker rongga mulut dengan baik

kanker rongga mulut
Butuhnya kesadaran masyarakat pada kanker rongga mulut. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak mengenali tanda-tanda awal kanker rongga mulut sehingga pada umumnya baru diketahui di tahap kanker stadium lanjut.

Kurangnya edukasi di masyarakat membuat Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia terdorong untuk sosialisasi terkait kanker rongga mulut. Salah satunya dengan gerakan SaMuRi (Periksa Mulut Sendiri).

"Melalui gerakan ini, masyarakat akan diajarkan bagaimana melakukan periksa mulut secara mandiri dan menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik," ucap Drg Rahmi.

3. Perhatikan warna rongga mulut, indikator terjadinya gangguan kesehatan

kanker rongga mulut
Warna pada rongga mulut mengindikasikan kesehatan. (Foto: Pexels/Oleg Magnition)

Ia menghimbau setiap orang untuk memeriksa kondisi mulutnya saat sikat gigi. Enam puluh empat persen kanker mulut diawali oleh lesi pra kanker yang ditandai dengan perubahan warna.

"Tekstur atau tampilan mukosa mulut normal berwarna merah muda dan kenyal. Jika warnanya berubah menjadi putih, merah atau kombinasi keduanya merupakan petunjuk lesi memerlukan perhatian," jelas Drg. Rahmi.

Kita harus benar-benar sigap mengetahui perubahannya karena seringkali penderita tidak memperhatikan perubaha warna dan tekstur pada rongga mulut tersebut. Penderita juga tidak merasakan keluhan apapun pada rongga mulutnya. Hal tersebut membuat gejala ini terabaikan.

Jika kita sigap mengenali tanda-tanda tersebut, segera temui dokter gigi. "Diagnosa dini telah menjadi prioritas kami selaku dokter gigi. Dokter gigi bukan hanya memeriksa masalah pada gigi, namun juga deteksi awal kanker mulut," terang drg. Seno. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH