Tiga Tahun Berlalu, Amnesty Desak Polri Usut Dalang Kasus Novel Novel Baswedan. (Ant)

MerahPutih.com - Kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, genap tiga tahun pada hari ini, (11/4). Amnesty International Indonesia, mendesak kepolisian mengusut dalang penyerangan Novel.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menilai sejak penyerangan tiga tahun lalu, upaya mengungkap pelaku berjalan lambat. Meski dua pelaku yang merupakan anggota Polri aktif sudah ditangkap, Usman menduga masih ada pelaku lain yang terlibat dalam teror tersebut.

Baca Juga:

WP KPK: Penghargaan Novel Jadi Motivasi Pegawai Gigih Berantas Korupsi

Seharusnya, kata Usman, tidak berhenti sampai di situ, apalagi jika sampai ada yang dikambinghitamkan. Usman juga meminta pengusutan kasus tersebut jangan berhenti sampai di motif dendam pribadi.

“Aktor-aktor lain yang terlibat harus diusut tuntas, terutama dalangnya. Bagaimana pun Novel tetap menjadi simbol kesungguhan negara melawan korupsi. Di kasus ini niat baik pemegang otoritas negara diuji, apakah hukum akan ditegakkan secara adil," kata Usman dalam keterangannya, Sabtu (11/4).

Usman menagih komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi), untuk menuntaskan kasus Novel. Ia meminta Jokowi segera membentuk Tim investigasi independen dengan keahlian dan integritas yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Keadilan untuk Novel sebaiknya tak ditunda. Tidak boleh ada impunitas," tegas dia.

Usman mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang termasuk mendukung Deklarasi PBB tentang Perlindungan Pembela HAM. Untuk itu, kata dia, tidak boleh lagi ada korban seperti Novel.

“Tidak boleh lagi ada korban seperti Novel di negara ini, baik dari pembela HAM di bidang pemberantasan korupsi maupun lingkungan hidup yang sering berkaitan masalahnya," pungkasnya.

Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad berjabat tangan dengan penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan saat menghadiri peluncuran Perdana International Anti-Corruption Champion Fund (PIACCF) di Putrajaya, Malaysia, Selasa (11/2/2020). Pada kesempatan tersebut Novel Baswedan bersama mantan Wakil Jaksa Penuntut Umum Malaysia almarhum Datuk Anthony Kevin Morais menerima penghargaan yang diserahkan Mahathir Mohamad. ANTARA FOTO/Agus Setiawan/pras. (1)
Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad berjabat tangan dengan penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan saat menghadiri peluncuran Perdana International Anti-Corruption Champion Fund (PIACCF) di Putrajaya, Malaysia, Selasa (11/2/2020). Pada kesempatan tersebut Novel Baswedan bersama mantan Wakil Jaksa Penuntut Umum Malaysia almarhum Datuk Anthony Kevin Morais menerima penghargaan yang diserahkan Mahathir Mohamad. ANTARA FOTO/Agus Setiawan/pras. (1)

Untuk diketahui kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017. Saat itu, Novel dalam perjalanan pulang dari Masjid di dekat rumahnya usai melaksanakan solat subuh saat dua orang tak dikenal menyiramkan air keras ke wajahnya. Kala itu, Novel dikenal sebagai penyidik senior KPK yang disegani dan banyak mengusut kasus korupsi besar yang melibatkan sejumlah petinggi negara.

Penyerangan itu membuat mata kiri Novel rusak hingga 95 persen. Ia hampir buta dan harus menjalani rangkaian operasi di Singapura.

Sejak kejadian itu, sejumlah elemen masyarakat telah meminta Presiden Joko Widodo untuk turun tangan dan mengusut kasus ini dengan serius dengan membentuk tim independen pencari fakta. Namun proses investigasi oleh kepolisian berjalan sangat lambat.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) kemudian membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dengan menggandeng beberapa tokoh dari koalisi masyarakat untuk kasus penyerangan Novel. Tim tersebut kemudian menemukan adanya indikasi pelanggaran HAM dalam insiden tersebut.

Baca Juga:

Dianugerahi Penghargaan Antikorupsi, Novel Baswedan Singgung Pelemahan KPK

Pihak kepolisian baru membentuk tim gabungan untuk mengusut kasus Novel pada awal 2019. Tim tersebut dibentuk untuk menindaklanjuti hasil rekomendasi Komnas HAM.

Pada 26 Desember 2019 Polri menangkap dua terduga pelaku penyerangan Novel berinisial RM dan RB di Depok, Jawa Barat. Keduanya diketahui adalah anggota Brimob aktif. (Pon)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
BNN Tetap Ingin Diskotek Golden Crown Ditutup
Indonesia
BNN Tetap Ingin Diskotek Golden Crown Ditutup

Langkah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) DKI menutup Golden Crown sudah tepat.

Update Kasus Corona DKI Rabu (7/10): 82.383 Positif, 67.310 Orang Sembuh
Indonesia
Update Kasus Corona DKI Rabu (7/10): 82.383 Positif, 67.310 Orang Sembuh

Pemprov DKI Jakarta menyampaikan perkembangan terkini kasus corona di ibu kota, Rabu (7/10).

Tiga Bulan Berlalu, Polisi Tangkap Dua Penghina Ahok
Indonesia
Tiga Bulan Berlalu, Polisi Tangkap Dua Penghina Ahok

Keduanya dicokok pada dua lokasi berbeda

WHO Nyatakan Virus Corona Menyebar Lewat Udara, Begini Penjelasannya
Indonesia
WHO Nyatakan Virus Corona Menyebar Lewat Udara, Begini Penjelasannya

Penyebaran virus corona tetap lebih berpotensi terjadi melalui droplet.

Cegah COVID-19, Kemenkumham Bebaskan 35.676 Narapidana Dewasa dan Anak
Indonesia
Cegah COVID-19, Kemenkumham Bebaskan 35.676 Narapidana Dewasa dan Anak

"Melalui asimilasi 33.861 dan integrasi 1.815," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Ditjen PAS, Rika Aprianti

PPDB 2020 Dinilai Terlalu Dipaksakan
Indonesia
PPDB 2020 Dinilai Terlalu Dipaksakan

Kebijakan ini dinilai tidak manusiawi karena digelar di tengah masyarakat yang tengah mengalami kesulitan akibat pandemi virus corona.

Rapid Test Memungkinkan Hasil Positif COVID-19 Lebih Tinggi
Indonesia
Rapid Test Memungkinkan Hasil Positif COVID-19 Lebih Tinggi

Terdapat 2 prosedur pelaksanaan rapid test

2 WNI Positif Corona, DPR: Saatnya Buktikan Kemampuan Alat dan Ahli Pemerintah
Indonesia
2 WNI Positif Corona, DPR: Saatnya Buktikan Kemampuan Alat dan Ahli Pemerintah

Saleh menilai pemerintah Indonesia perlu menjaga pintu-pintu masuk ke Indonesia

Mutasi Pejabat Eselon I Kejagung Diduga Berkaitan dengan Kasus Djoko Tjandra
Indonesia
Mutasi Pejabat Eselon I Kejagung Diduga Berkaitan dengan Kasus Djoko Tjandra

Diduga rotasi terhadap Jan Maringka berkaitan dengan sengkarut terpidana kasus hak tagih Bank Bali Djoko Tjandra.

Alasan Polisi 'Garap' Anji Lebih Dulu
Indonesia
Alasan Polisi 'Garap' Anji Lebih Dulu

Anji dilaporkan oleh Muannas Alaidid ke Polda Metro Jaya