Tidur Cukup Jauhkan Pikiran Negatif hingga Depresi Tidur cukup akan menjaga kesehatan mental. (foto: pixabay/robertofoto)

MEREKA yang berjuang melawan depresi dan masalah mental diduga mengalami gangguan tidur, sehingga mereka tidak bisa tidur di malam hari. Namun, studi terbaru menunjukkan hal sebaliknya.

Para peneliti di Universitas Oxford memaantau 3.890 orang yang mengalami kurang tidur. Mereka menemukan bahwa orang yang kehilangan jam tidur amat mungkin mengalami penurunan kesehatan mental. Para penderita insomnia memiliki risiko lebih besar mengalami paranoia, depresi, kecemasan, dan mimpi buruk.

BACA JUGA: Korea Selatan yang tak Seindah K-Drama

Pada penelitian tersebut, penderita insomnia diberi terapi perilaku kognitif untuk membantu mereka tertidur. Hasilnya, mereka mengalami penurunan rasa cemas dan tertekan sebanyak 20%, merasa lebih mudah mempercayai dan dipercayai orang lain, dan menjadi 10% lebih bahagia.

Mereka yang kehilangan waktu tidur mengalami penurunan kesehatan mental karena menyangkal waktu ‘perawatan’ berharga otak mereka. Itu merupakan waktu ketika memori baru diproses dan memori lama diatur.

Satu dari tiga orang diketahui berjuang untuk mendapatkan tidur, dan hal itu diyakini membuat mereka 'terjebak' pada pikiran negatif dan curiga berulang-ulang.

Penulis utama Daniel Freeman, profesor psikologi klinis di Universitas Oxford dan Oxford Health NHS Foundation Trust, mengatakan, “Masalah tidur sangat umum pada orang dengan gangguan kesehatan mental. Namun, insomnia terlalu lama disepelekan dan hanya dilihat sebagai gejala, bukan penyebab gangguan psikologis.”

sleepy
Insomnia bisa jadi gejala gangguan psikologis. (foto: sleepsavvy)

Studi itu mengubah total gagasan lama dengan menunjukkan insomnia sebenarnya menjadi penyebab penyumbang masalah kesehatan mental.

Tidur malam yang baik benar-benar dapat membuat perbedaan untuk kesehatan psikologis seseorang. Membantu orang mendapatkan tidur yang lebih baik bisa menjadi langkah pertama yang penting dalam menanggulangi berbagai masalah psikologis dan emosional.

Penelitian yang didanai Wellcome Trust itu membagi 3.755 orang secara acak ke dalam dua kelompok. Grup yang diberi terapi perilaku kognitif untuk insomnia diberi pilihan untuk menulis buku harian sebelum tidur, mendengarkan rekaman relaksasi, dan menggunakan strategi seperti bangun dari tempat tidur setelah 15 menit tak dapat tidur untuk melemaskan otot-otot mereka.

Orang-orang di kelompok itu merasa insomnia yang mereka derita berkurang 50%. Selain itu, halusinasi, mimpi buruk, dan kecemasan yang mereka alami juga menurun.

Efek kurang tidur tidaklah sama pada semua orang. Pada orang-orang yang rentan terhadap pikiran negatif, mereka cenderung makin negatif. Hal itu diperparah oleh insomnia.

Freeman mengatakan, “Tidur yang buruk menyebabkan masalah ganda untuk pikiranmu--berdampak baik pada apa yang kamu pikirkan ataupun bagaimana kamu memikirkan hal itu. Pikiran menjadi miring, suram, dan menakutkan, sedangkan pengolahan otak cenderung ke arah berpikir negatif secara berulang. Pada intinya, konsekuensi psikologis tidur yang terganggu ialah kita memiliki pikiran negatif dan terjebak di dalamnya.”

depresi
Kurang tidur membuat seseorang berpikiran negatif. (foto: pixabay/ryanmcguire)

Studi yang mengamati mahasiswa di bawah usia 25 itu diterbitkan dalam jurnal Lancet Psychiatry. Diperkirakan, studi itu menjadi yang pertama dan signifikan untuk menentukan dampak dari pengobatan insomnia pada pengalaman psikosis. Para penulis mengatakan hasil studi mungkin bisa diaplikasikan untuk semua kelompok umur.

Andrew Welchman, Kepala Neuroscience dan Kesehatan Mental di Wellcome, mengatakan, “Ini merupakan studi penting yang memberikan bukti lebih lanjut bahwa tidur merupakan faktor penting dalam memahami masalah kesehatan mental.”

Studi ini menunjukkan bahwa memperbaiki tidur bisa memberikan jalan yang menjanjikan dalam pengobatan dini untuk meningkatkan kesehatan mental pada orang muda.(*)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH