Tidak Selalu Buruk, Sikap Pesimis Ada Sisi Positifnya Ada sisi positif dalam pesimis. (Foto: Pixabay/geralt)

HIDUP kadang penuh rintangan, tidak mudah untuk terus menerusmenjadi positif. Celakanya kita cenderung dipaksa atau diharapkan untuk selalu menjadi positif. Diakui bahwa memiliki sikap yang positif itu baik untuk kesehatan mental. Namun sikap pesimis ternyata ada sisi positifnya.

Melansir laman The Conversation, sebenarnya pesimis tidak selalu melulu tentang negative thinking. Ilmu kepribadian telah mengungkapkan bahwa pesimis mencakup fokus pada hasil, apa yang kamu harapkan akan terjadi di masa depan.

Baca Juga:

Mumpung Jomlo, Timbun Kekayaan Yuk!

pesimis
Orang pesimis dinilai lebih mampu bertahan. (Foto: Pixabay/narciso1)

Sementara orang optimis selalu mengharapkan hasil yang positif akan lebih sering terjadi. Sementara orang pesimis mengharapkan hasil yang negatif lebih mungkin terjadi. Psych Central menuliskan bahwa ada teori baru yang mengungkapkan pemikiran negatif tertentu sebenarnya bisa bermanfaat untuk mengantisipasi tantangan. Strategi ini disebut sebagai "pesimisme defensif".

Pesimisme defensif melibatkan imajinasi tantangan yang mungkin timbul. Kemudian membayangkan langkah-langkah untuk mengatasi masalah. Mereka juga cenderung memiliki ekspektasi rendah terhadap suatu hal.

The Conversation memberi contoh, seperti berekspektasi bahwa kamu tidak akan dipekerjakan setelah wawancara kerja. Kemudian membayangkan detail dari segala hal yang mungkin salah untuk membuat skenario terburuk ini menjadi kenyataan.

Ini memberi orang pesimis defensif sebuah rencana tindakan untuk memastikan bahwa sesuatu yang buruk seperti yang dibayangkan tidak akan benar-benar terjadi.

Secara umum, orang dengan sikap pesimis akan cenderung over-thinking. Kemudian menganalisis masalah dan memperkirakan hasil dari masalah tersebut. Dengan begitu orang pesimis defensif tetap fleksibel dan tidak panik saat berada di bawah tekanan.

Baca Juga:

Suka pada Orang Lain Padahal Udah Punya Pacar? Intip 3 Pencerahan Ini

pesimis
Sikap pesimis defensif memikirkan segala hal buruk yang bisa terjadi dan berusaha menjadi solusinya. (Foto: Unsplash/anthonytran)

Psych Central menjelaskan bahwa praktik-praktik ini membantu mengarahkan perasaan kecemasan ke arah aktivitas yang produktif. Saat dihadapkan pada tantangan, mereka langsung bertindak dengan menjangkau kepada orang lain, bukan mundur. Mereka membuka diri terhadap informasi dan opsi baru alih-alih tetap berada di ruang gema mereka sendiri.

Sementara orang-orang yang terlalu optimis yang merasionalisasi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun ternyata dapat memberikan tanda bahaya kemudian melahirkan keputusan buruk atau menjadi korban procrastination. Bahkan gagal mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan, tulis Psych Central.

The Conversation menambah bahwa riset telah menunjukkan bahwa cara berpikir ini tidak hanya membantu mereka sukses, tetapi juga membawa beberapa penghargaan yang tidak terduga. Melansir Psych Central, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ketika seorang CEO terlalu optimis, mereka memiliki lebih banyak hutang dan berpotensi menempatkan perusahaan mereka dalam bahaya. Pesimisme defensif melindungi dari risiko tidak sehat dengan menyalurkan pemikiran realistis.

Intinya menurut Psych Central, ide di balik pesimisme defensif adalah untuk mengendalikan pikiran negatif sebelum lepas kendali. Kamu menggunakan imajinasi yang realistis tentang hasil yang tidak menguntungkan untuk memotivasi dan mempersiapkan dirimu untuk menghadapi tantangan daripada merenung. (lev)

Baca Juga:

Pentingnya Self-Care Selama Masa Pandemi


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH