Tidak Liburan? Kamu Pasti Workaholic Manfaatkanlah cuti kerja dengan liburan. (Foto: Pexels/Pixabay)

TINGGINYA ritme kerja di kota-kota besar membuat para pekerja merasakan tekanan tinggi. Jika tak diatasi bisa berdampak buruk pada mental dan berpengaruh pula pada kesehatan fisik. Untuk mencegah hal tersebut, perusahaan atau instansi biasanya memberikan waktu cuti kepada karyawannya.

Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan satu hari cuti dalam sebulan atau dua belas hari dalam setahun. Cuti dapat digunakan sesuai kondisi dan keperluan dari tenaga kerja yang bersangkutan. Waktu libur khusus tersebut bisa dimanfaatkan untuk melancong.

traveling
Melakukan liburan berarti membuang kejenuhan harian. (Foto: Pexels/Pixabay)

Sayangnya, sebagian karyawan tak memanfaatkan waktu cuti dengan baik. Ketika berniat mengambil waktu libur, mereka selalu dihinggapi rasa bersalah. Mereka berpikir, cuti berarti lari dari tanggung jawab dan tugas-tugasnya di kantor. Padahal, cuti merupakan waktu yang diberikan oleh perusahaan secara khusus untuk karyawannya di luar hari libur nasional.

Inisiator Take Back Your Time dan penulis, John de Graaf menjelaskan menggunakan waktu cuti untuk berlibur berdampak baik bagi kesehatan dan produktivitas kita. “Kejenuhan yang didapat dari rutinitas menyebabkan turunnya produktivitas. Liburan bisa membantu pikiran dan tubuh lebih segar sehingga produktivitas meningkat,” urai de Graaf.

traveling
Liburan bukan berarti melepaskan tanggung jawab pekerjaan. (Foto: Pexels/Balwant Mishra

Selain beban pekerjaan, hal yang menahan mereka untuk mengajukan cuti untuk berlibur yakni pemikiran bahwa biaya perjalanan sangat mahal atau waktu yang terlalu pendek. “ Mereka pikir, waktu berlibur yang terlalu sempit justru memperburuk keadaan,” tutur de Graaf.

De Graaf menuturkan, mereka yang enggan cuti untuk liburan biasanya workaholic, cemas akan keuangan, disiplin terhadap jadwal atau hidup dalam kultur antiliburan di tengah waktu kerja.

Untuk mengatasi keraguan cuti untuk liburan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan misalnya menjadikan liburan sebagai investasi untuk kesehatan. “Ada banyak bukti bahwa orang-orang yang mengambil liburan secara teratur memiliki kemungkinan terkena penyakit jantung lebih kecil daripada yang jarang berlibur,” beber de Graaf.

jantung
Liburan meringan risiko sakit jantung. (Foto: Pexels/Pixabay)

Bagi mereka yang tak suka waktu singkat berlibur perlu membuat perencanaan matang saat berlibur. “Perencanaan yang dibuat sebelum tiba di destinasi liburan membuat liburan kita jauh lebih efektif. Kita bisa melakukan banyak hal dalam waktu singkat,” terangnya.

Sementara bagi mereka yang menghawatirkan biaya perjalanan bisa dengan mencari tiket promo murah jauh-jauh hari. Tentukan pula penginapan dengan biaya terjangkau. Kita juga bisa memanfaatkan situasi dengan membuka jasa titip bagi teman-teman. Bisnis sederhana semacam itu tak hanya membuat liburan kita bermakna tetapi menambah pundi-pundi keuangan.

“Bagi mereka yang takut meninggalkan tanggung jawab, diskusikan dengan rekan kerja. Diskusilah dengan teman yang bisa memback up pekerjaan,” ujar de Graaf. Dengan demikian, kerjaan kita tak akan terbengkalai meski kita meninggalkannya untuk beberapa saat. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH