Thung Tiang Mie, Sosok Tionghoa Muslim Pendiri Kelenteng di Ciampea Bogor Hok Tek Bio Ciampea, Bogor. (MerahPutih.com/Rizki Fitrianto)

BERAWAL dari peristiwa Geger Pacinan, dalam bahasa Belanda Chinezenmoord (pembunuhan orang Tionghoa), yang terjadi pada Oktober 1740. Pemimpin Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) kala itu, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier memberlakukan sebuah pogrom terhadap keturunan Tionghoa di Batavia (Jakarta).

Pembantaian besar-besaran itu, menurut Daradjadi Gondodiprodjo dalam buku, Geger Pacinan—Perang Tionghoa-Jawa Melawan VOC 1740-1743, setidaknya 10.000 orang Tionghoa tewas. Namun, sebagian kecil yang selamat melarikan diri ke berbagai daerah, salah satunya Buitenzorg (Bogor) guna bertahan hidup.

Ada sama dimakan, tak ada sama ditahan. Begitu juga yang dirasakan oleh keturunan Tionghoa ketika diterima dengan baik oleh penduduk lokal, masyarakat Sunda. Setelah mengalami pembauran yang cukup lama, mereka pun kembali merasakan kehidupan normal bersama penduduk lokal.

Bahkan, dikarenakan keromantisan yang terjalin dengan baik itu, keturunan Tionghoa pun mulai mendirikan kelenteng di wilayah tersebut, seperti Hok Tek Bio Ciampea, Bogor.

Hok Tek Bio Ciampea, Bogor. (MerahPutih.com/Rizki Fitrianto)

Pengurus Hok Tek Bio, Tan Ta Yang menjelaskan, didasari semangat kebersamaan antara masyarakat lokal dan peranakan, salah seorang tokoh Tionghoa pada masa itu, Thung Tiang Mie akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah kelenteng.

"Bagi kami, komunitas Tionghoa di Ciampea meyakini, orang yang pertama kali menginisiasi atau founder dari kelenteng ini adalah Kong Co Thung Tiang Mie, sekitar tahun 1800-an. Beliau kebetulan seorang tokoh muslim yang bernama Tubagus Abdullah bin Moestopa," kata Tan kepada Merahputih.com di Hok Tek Bio, Ciampea, Bogor, Kamis (8/2).

Meski seorang muslim, kata Tan, Thung tetap menjaga kulturnya sebagai keturunan Tionghoa. "Sehingga tetap memedulikan identitas sebagai peranakan," katanya.

Lebih lanjut, Tan menjelaskan bahwa selain sebagai identitas, landasan dasar Thung Tiang Mie mendirikan kelenteng adalah untuk lembaga sosial masyarakat. Menurutnya, kelenteng adalah komunal senter bagi seluruh manusia.

"Karena pada prinsipnya, Su Khai Cu Lai Ai Ing Te A, semua manusia itu adalah saudara dan saudari kita. Bagi kami ada pemahaman Yin dan Yang, Bumi adalah ibuku dan langit adalah ayahku. Kita hidup dari sumber yang sama, yaitu dari Bumi ini. Dari tanah dan air yang sama, dari ibu yang sama. Maka itu, kita adalah bersaudara," katanya.

Meski demikian, ia pun tak bisa pungkiri bahwasannya politik adu domba yang diterapkan oleh kolonial Belanda, devide et empera, sempat membuat perpecahan antara keturunan Tionghoa dan masyarakat lokal. "Kita menjadi saling mencurigai dan menghakimi karena politik adu domba Belanda," katanya.

Namun kini, ia mengaku bersyukur. Sebab, romantisme yang terjalin justru semakin kuat, terlebih di Ciampea, Bogor. Benih-benih kebencian atau konflik primordialisme tidak terjadi di wilayahnya.

Ia pun berharap, Ciampea bisa menjadi prototipe untuk daerah-daerah lain di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan serta toleransi.

"Atas dasar semangat Thung Tiang Mie yang beragama Islam, mestinya dapat menjadi contoh bagi kita merekatkan persatuan dan kesatuan. Leluhur kita memberikan contoh, bagaimana merajut esensi toleransi dalam kehidupan bersama," katanya. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH