Thomas Stanford Raffles Bukan Penemu Bunga Bangkai Rafflesia Arnoldii! Sketsa Rafflesia Arnoldii, sumber The Miscellaneous Botanical Works of Robert Brown

THOMAS Stanford Raffles menggilai tanah Jawa segandrung dunia botani. Ia tertarik kedua hal itu karena eksotik. Dari tanah Jawa, Letnan Gubernur Jawa (1811-1816) berhasil merampungkan mahakarya The History of Java, sementara kecintaan pada botani menghasilkan penemuan besar Rafflesia Arnoldii.

Lewat penemuan Bunga Bangkai raksasa itu, Raffles beroleh sanjungan selangit dari ilmuwan di Perhimpunan Taksonomi dan Sejarah Alam di Linnean Society, London. Meski namanya diabadikan sebagai nama ilmiah bunga itu, Raffles bukan penemu Rafflesia Arnoldii.

Siapakah penemu Bunga Bangkai raksasa itu?

Setelah gagal mengelola keuangan pemerintah Inggris di tanah Jawa, posisi Raffles digantikan John Fendall. Ia menerima tugas baru di Bengkulu, Sumatera, untuk membendung pengaruh luas Belanda terhadap raja-raja Melayu.

Di sana, hasrat naturalis Raffles terhadap sejarah alam, botani, semakin menguat. Ia mengangkat Dr. Joseph Arnold, seorang naturalis sekaligus dokter bedah angkatan laut Inggris, untuk melakukan ekspedisi menjelajah pedalaman Bengkulu mencari sumber rempah dan hasil tambang Sumatera.

Joseph Arnold, menurut John Bastin “A Further Note on Dr. Joseph Arnold”, mulai melakukan perjalanan menyisir sungai Manna (Bengkulu Selatan) pada 22 Maret 1818 untuk menelisik tumbuhan endemik selama dua hari.

Setiba di Pulo Lebbar, 30 kilometer Manna, Arnold melihat sebongkah tumbuhan endemik dengan bunga besar. Ia lantas membuat laporan deskripsi rinci dan sketsa temuan spesies bunga raksasa itu.

Nahas, belum genap merampungkan laporan temuan bunga raksasaitu , Joseph Arnold meninggal dunia karena terjangkit malaria di Padang, 3 bulan setelah menjelajah sungai Manna.

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, hasil laporan dan dokumen terkait temuan tersebut musnah dilalap api ketika kapal Fame, pengangkut dokumen resmi kerajaan Inggris, terbakar di laut lepas pada 1824.

Raffles tak ingin temuan penting Joseph Arnold tak berbekas. Ia mendatangkan ahli Botani Inggris dari Calcutta, William Jack, untuk merampungkan kerja Arnold dari temuan tersisa.

William Jack mulai membenahi temuan Arnold. Ia secara berkala mengirim hasil tersebut kepada ahli botani terkemuka di Inggris, Robert Brown, untuk kembali disempurnakan dan dikenalkan kepada kaum intelektual serta masyarakat luas Inggris.

Di hadapan para ahli biologi, botani, dan zoologi pada perhimpunan Taksonomi dan Sejarah Alam di Linnean Society, London, Robert Brown mempresentasikan temuan Bunga Bangkai raksasa lengkap dengan rincian deskripsi dan sketsa, serta memperkenalkan nama bunga; Rafflesia Arnoldi, dua nama tokoh penting atas penemuan tersebut.

Mereka terkagum-kagum dengan besar ukuran juga eksotika bunga asal Bengkulu itu. Seketika jagat botani Eropa gempar. Rafflesia Arnoldii pun jadi buah bibir masyarakat Eropa.

“Raffles sangat diuntungkan, sejauh reputasinya sebagai seorang naturalis, karena dikaitkan dengan penemuan bunga raksasa ini,” tulis John Bastin ‘Sir Stamford Raffles and The Study of Natural History in Penang, Singapore, and Indonesia’ JMBRAS Vol.63 1990.

Meski temuan Rafflesia Arnoldii menjadi monumen keberhasilan Raffles, sejarah mencatat temuan itu bukanlah penemuan bunga rakasasa (Rafflesia) pertama.

Pada 1791, ahli bedah dan naturalis Perancis, Louis Auguste Deschamps menjelajah perairan Samudera Oceania, untuk mencari kapal La Perouse nan hilang diterjang badai.

Di tengah pencarian, kapal Deschamps juga dihantam badai. Dari 119 awak kapal, 89 di antaranya meninggal. Mereka terombang-ambing di lautan hingga kemudian tercium dan dingakut kapal Belanda.

Deschamps menjadi tawanan politik Belanda. Ia diberi tugas untuk mencatat keanekaragaman flora di Jawa.

Pada 1797, Deschamps menemukan sebuah bonggol besar merekah menjadi bunga raksasa di Nusakambangan. Ia kemudian membuat laporan penemuan itu dengan judul Material Toward a Flora of Java (Rafflesia dan flora-flora di Jawa).

Setahun setelah penemuan, Deschamps membawa seluruh koleksinya kembali ke tanah kelahirannya. Di sana sedang bergejolak pertempuran sengit antara Perancis-Inggris.

Saat mendekat selat Inggris, kapal Deschamps ditangkap pasukan Inggis dan seluruh koleksinya dirampas lalu disumbangkan kepada British Museum pada 1816.

Temuan Deschamps sempat menghilang. Sembilan tahu kemudian CL Blume menemukan temuan Deschamps dan meneruskan laporan kerjanya dengan memberi nama bunga tersebut Rafflesia Patma (1825).

Walau menjadi pionir penemuan bunga raksasa, justru pamor Rafflesia Arnoldii lebih mencuat ketimbang Rafflesia Patma. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH