Tetap Waras Meski Klaster COVID-19 Menghantui Demo RUU Omnibus Law Demonstrasi buruh membuat karyawan khawatir muncul klaster baru COVID-19. (Foto: unsplash.com/Maria oswalt)

GRUP WhatsApp (WA) kantor terus berbunyi sejak pagi 7 Oktober 2020. Para pekerja kantoran tersebut tidak berhenti membicarakan RUU Cipta Kerja (Omnibus Law). Namun, bahasan yang paling menonjol adalah klaster baru COVID-19.

Desvia, salah satu karyawan swasta yang saat ini sedang setengah work from home (WFH) dan setengah lagi work from office (WFO). Sejak pandemi ia harus masuk kerja secara bergantian. Ia merasa kebijakan perusahaannya yang seperti ini dapat membantu mengurangi penyebaran COVID-19 di kantor.

Namun, Desvia menjadi khawatir sejak DPR RI mengesahkan RUU Cipta Kerja. Bukan dari isi RUU tersebut, melainkan demonstrasi yang dilakukan masyarakat. Tidak hanya Desvia yang khawatir, tetapi juga teman-temannya yang bekerja diperusahaan yang sama dengannya.

Baca juga:

Begini Cara Aldo Lim Menjaga Kewarasan Selama Pandemi

"Daritadi ini grup WA (whatsapp) lagi ngomongin takut ada klaster baru COVID-19. Soalnya yang demo banyak banget, terus nanti PSBB lagi," ujar Desvia.

Mereka takut salah satu pendemo tertular COVID-19 dan menyebar ke kantor. Tentunya mereka tidak mau terpapar virus tersebut. Tidak ada orang yang ingin tertular COVID-19.

Para pekerja kantoran masih masuk kantor dan melaksanakan protokol keseharan. (Foto: pexels.com/Ivan Samkov)
Para pekerja kantoran masih masuk kantor dan melaksanakan protokol keseharan. (Foto: pexels.com/Ivan Samkov)

Selain itu, jika muncul klaster baru yang cukup besar dapat membuat pemerintah kembali mengadakan PSBB. Untuk Desvia dan teman-temannya. Perusahaan tempat mereka bekerja ketika mengadakan WFH full dua minggu, artinya akan kembali diadakan rapid test.

Rapid test bukanlah sesuatu yang enak untuk dijalani. Tidak semua orang berani menjalani test tersebut. Karena itu, kekhawatiran selanjutnya adalah rapid test.

Baca juga:

Jaga Kewarasan Saat Hadapi Pendidikan Online Munculkan Rasa Tidak Aman

Ditambah lagi jika muncul klaster baru COVID-19 mereka semakin khawatir tertular virus tersebut di mana saja dan kapan saja. Jika orang-orang yang terpapar COVID-19 semakin banyak akan semakin mudah pula virus itu menyebar.

DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia) mengesahkan RUU Cipta Kerja yang dinilai masyarakat dapat merugikan para pekerja, khususnya buruh. Unjuk rasa terjadi agar pemerintah menolak pengesahan RUU tersebut. Selain itu, para demonstran melakukan unjuk rasa karena merasa pemerintah tidak melibatkan buruh dalam mengatur RUU ini.

Melansir dari merahputih.com, bahkan buruh tidak takut dengan COVID-19. Mereka lebih takut dengan pengesahan RUU Cipta Kerja. RUU Cipta Kerja dianggap lebih membahayakan daripada COVID-19.

Melakukan physical distancing agar mengurangi resiko terpapar virus corona. (Foto: pexels.com/MarcMueller)
Melakukan physical distancing agar mengurangi resiko terpapar virus corona. (Foto: pexels.com/MarcMueller)

Khawatir tentu ada, tetapi tidak membuatnya parno hingga tidak berani WFO. Menurutnya, selama kita melakukan physical distancing dan mengikuti protokol kesehatan yang ada akan mengurangi resiko terpapar virus Corona.

"Ya, kerja harus tetap dijalankan. Ingat untuk pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan bawa hand sanitizer aku rasa cukup untuk menjaga diri biar enggak kena COVID," kata Desvia.

Ia bahkan selalu menyemprotkan disinfektan ke meja kerjanya sebelum memulai bekerja. Tidak lupa mencuci tangan setiap akan menyentuh bagian wajah dan sebelum makan. Menurutnya yang terpenting adalah menjaga jarak dan memakai masker.

Ia menyarankan menggunakan masker sekali pakai agar kembali dari bekerja masker tersebut dapat langsung dibuang. Setidaknya ia mengurangi resiko terpapar virus Corona dari dirinya sendiri. (May)

Baca juga:

Tetap Waras Bagi Ibu Rumah Tangga: Bisnis Minuman Herbal Beromset Rp5 Juta


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani