Tetap Waras Bagi Ibu Rumah Tangga: Meraup Untung Jualan Masker dari Kain Perca Motif Batik Esti Kiswandari pengrajin batik tulis yang bertahan di tengah pandemi COVID-19 dengan berjual masker berbahan kain batik, Minggu (18/10). (MP/Ismail)

MerahPutih.com - Kondisi ekonomi serba sulit akibat hantaman COVID-19 yang terjadi sejak bulan maret lalu membuat pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Solo menghentikan usahanya.

Dengan kondisi serba sulit tersebut membuat pelalu UMKM harus berfikir keras bagaimana agar tetap punya pemasukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari di tengah sitasi pandemi yang belum dapat diketahui kapan akan berakhir.

Esti Kiswandari, salah satu pelaku UMKM di Solo yang merasakan situasi tersebut. Sebagai ibu rumah tangga, ia harus menemukan usaha apa yang tepat untuk bisa menghasilkan pemasulan sekaligus menyelamatkan usahanya batik "Griya Kain Solo".

Baca Juga

Pandemi Memotivasi Wanita Ini Wujudkan Cita-cita Jadi Pengusaha Pakaian hingga Kuliner

"Kondisi keuangan dan tabungan sedang menipis. Usaha batik yang dirintis bersama suami dalam kondisi berhenti produksi akibat Corona," ujar Esti saat bebincang dengan MerahPutih.com, Minggu (18/10).

Esti Kiswandari pengrajin batik tulis yang bertahan di tengah pandemi COVID-19 dengan berjual masker berbahan kain batik, Minggu (18/10). (MP/Ismail)
Esti Kiswandari pengrajin batik tulis yang bertahan di tengah pandemi COVID-19 dengan berjual masker berbahan kain batik, Minggu (18/10). (MP/Ismail)

Ia pun telah merumahkan 13 karyawannya karena tidak punya pemasukan lagi untuk membayar gaji karyawan tersebut. Saat ini tinggal dua karyawan untuk membantu mengelola bisnis batik miliknya.

Ia pun merasa binggung stok kain di lemari masih banyak dan tidak laku dijual selama 8 bulan pandemi menghantamnya. Sampai akhinya, ia menemukan ide untuk berjualan masker dari bahan kain perca motif batik.

"Usaha jualan masker kain perca motif batik mulai ditawarkan pada konsumen jaringannya melalui medsos. Semua stok kain batik yang tidak laku saya potong semua dijahit menjadi masker," tutur dia.

Ia mengaku selama sehari memproduksi minimal 300-5000 masker. Banyak tidaknya produksi tergantung pesanan. Selama berjualan masker meraup untumg Rp 2 juta per hari.

"Saya jualan masker sejak April lalu. Masker kain batik tulis, print, cap dijual dari harga Rp5.000, Rp7.500 hingga kelas premium berharga Rp 35.000," kata dia.

Masker berbahan kain batik tulis, cap, dan printing diminati pasar, Minggu (18/10). (MP/Ismail).
Masker berbahan kain batik tulis, cap, dan printing diminati pasar, Minggu (18/10). (MP/Ismail).

Menurutnya, dari pelbagai jenis tersebut, paling banyak peminatnya adalah masker batik print dan masker batik cap sogan. Selama pandemi penjualan lewat online dan marketplace.

"Penjualan masker batik online meluas sampai marambah konsumen mancanegara di antaranya ke Honolulu (Hawaii, Amerika Serikat) sebanyak 10 lusin. Ada juga Jerman dan Australia lewat customer.

Baca Juga

Fresh Graduate Enggak Perlu Takut, Omnibus Law Bukan Jadi Halangan

Ia berharap pandemi segera berlalu supaya karyawan yang di rumahkan bisa kembali bekerja. Selain itu, dengan berakhirnya pandemi bisa normal lagi berjualan kain batik. (Ismail/Jawa Tengah)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH