Terungkap, Setnov Minta Diskon Harga Chip e-KTP kepada Johannes Marliem Sidang dakwaan Setnov di Pengadilan Tipikor, Rabu (13/13). (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.com - Ketua DPR nonaktif Setya Novanto disebut meminta besar dari harga chip untuk proyek pengadaan e-KTP. Hal tersebut terungkap saat Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi membacakan dakwaan Setnov dalam perkara korupsi proyek e-KTP.

JPU KPK menjelaskan, awalnya Setnov mendapat penjelasan dari Charles Sutanto Ekpradja selaku Country Manager HP Enterprise Service, soal harga Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merek L-1 yang disediakan Johannes Marliem lewat PT Biomorf Lone Indonesia.

"Charles menginformasikan bahwa harga AFIS merek L-1 (model chip e-KTP) terlalu mahal," ungkap seorang Jaksa KPK saat membacakan dakwaan Setnov di Pengadilan Tipikor, Rabu (13/13).

Setelah mendapatkan informasi tersebut, Ketua Umum Partai Golkar nonaktif itu secara khusus memanggil Johannes Marliem ke rumahnya di Jalan Wijaya XIII, Nomor 19, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan untuk meminta penjelasan soal harga AFIS merek L-1.

Marliem kemudian menjelaskan kepada Setnov bahwa harga AFIS merek L-1 adalah US$ 0,5 (lima sen dolar Amerika Serikat) atau setara dengan Rp 5.000 per penduduk atau satu keping e-KTP.

"Terdakwa (Setya Novanto) kemudian meminta diskon 50 persen," tutur Jaksa.

Namun, saat itu Marliem hanya memberikan diskon sebesar 40 persen atau sebesar US$ 0,2 yang setara dengan Rp 2.000. Diskon tersebut disepakati akan diberikan ke Setnov dan anggota DPR periode 2009-2014 sebagai komitmen fee sebesar 5 persen dari total nilai proyek e-KTP sebesar Rp 5,9 triliun.

"Terdakwa (Setya Novanto) memahami dan menyetujuinya," ucap Jaksa.

Dalam proyek e-KTP ini, Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) sebagaimana ditentukan pada kontrak awal berkewajiban mencetak 172.015.400 keping. Namun realisasinya, Konsorsium PNRI hanya dapat melakukan pengadaan 122.109.759 keping e-KTP.

Konsorsium PNRI sendiri beranggotakan Perum PNRI, PT Sucofindo, PT Quadra Solution, PT LEN Industri, dan PT Sandipala Arthaputra. Konsorsium bentukan Tim Fatmawati itu telah disiapkan jauh sebelum tender proyek e-KTP.

Sebagaimana tertuang dalam dakwaan, Setnov disebut menerima uang sebesar US$ 7,3 juta dan jam tangan merek Richard Mille seri RM 011 senilai US$ 135 ribu dalam proyek yang ditaksir merugikan negara sebesar Rp 2.3 triliun tersebut. (Pon)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Sidang Dilanjutkan, Hakim Izinkan Jaksa KPK Bacakan Dakwaan Setnov

Kredit : ponco


Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH