Terlahir Bukan Dari Keluarga Pemusik Laurens & Hanna Rahadi, orang tua Chrisye. (foto: koleksi kelurga Rahadi)

LAURENS Rahadi, anak seorang keluarga sederhana berdarah Tionghoa-Betawi, terkenal sebagai pemuda ulet asal Kemayoran. Putra semata wayang kelahiran 14 Juli 1918, mendapat didikan agak berbeda dari kebanyakan keluarga Tionghoa peranakan pada masanya. Bukan berniaga, tapi bersekolah.

Dia diarahkan untuk menjadi intelektual. Orang tuanya menyekolahkannya di Koninkelijke Wilhelmina School. Di sana dia belajar tenik dan bangunan.

“Niat papi (Laurens Rahadi) ingin sekolah tinggi. Tapi, pada usia 19 tahun ayahnya meninggal,” kenang Chrisye, anak kedua Laurens Rahadi dikutip Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal.

Laurens kemudian mengubur impian menempuh studi di perguruan tinggi. Dia lantas melamar kerja untuk proyek pembangunan pemerintah bermodalkan ijazah setingkat STM dan pergaulannya dengan orang-orang proyek.

Tak tanggung-tanggung, dia mendapat pekerjaan perdana untuk proyek pembangunan jalan dan jembatan di Sumatera. Sepanjang tahun 1937, Laurens ditempatkan pada sebuah mes darurat di dalam area proyek bersebelahan dengan hutan rimba. “Menurut Papi, kejadian ada harimau nyelonong dan menyerang pekerja bukan lagi cerita asing,” tutur Chrisye.

Laurens begitu cakap dan disiplin bekerja. Dia selalu tepat waktu menyelesaikan perintah opzichter atau kepala proyek. Tak heran bila dia menjadi kesayangan dan sering diundang makan malam di rumah sang opzichter. Hubungan baik tersebut, dan kematangan kerja membawa Laurens masuk ke level selanjutnya, bekerja di Departemen Pembangunan Jakarta.

Selama bekerja di Jakarta, Laurens mengenal seorang gadis peranakan Tionghoa-Bogor putri pemilik toko kelontong, bernama Hanna. Dara kelahiran Bogor, 26 Agustus 1923 tersebut menghabiskan kala saban hari untuk berjualan membantu orang tuanya.

Keduanya memadu kasih. Setelah cukup berkenalan satu sama lain, mereka pun mengikat janji suci di altar pernikahan pada bulan Agustus 1945, tak jauh dari peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setahun berselang lahir putra pertama bernama Joris Rahadi di St. Carolus Salemba. Tiga tahun kemudian anak kedua lahir pada 16 September 1949, di Margriet Kraam Kliniek, semacam klinik bersalin di lokasi kini ditempati restoran Heritage by Tan Goei, Jalan Teuku Cik Ditiro No. 3 Menteng, Jakarta Pusat.

Putra kedua terlahir dengan nama Christian Rahadi, kelak disapa Chris atau Chrisye. Keluarga Laurens Rahadi kala itu masih menempati rumah mungil di gang sempit Jalan Talang No.29 di ruas Jalan Proklamasi. Gang rumahnya sejajar dengan Jalan Kalasan.

Tiga tahun setelah putra ketiga lahir, Victor Rahadi pada 1952, mereka sekeluarga kemudian menempati rumah di Jalan Pegangsaan No.12 A. Kediaman keluarga Laurens sering disebut 'rumah kembar' lantaran sama persis dengan rumah di sebelahnya milik seorang Belanda bernama O`Brien. Sementara tetangga di sisi berbeda ditempati keluarga Nasution. “Pemandangan depan rumah kami rel kereta api dan pasar Cikini”, ungkap Chrisye.

Meski dicap sebagai anak Menteng nan mentereng, kehidupan sehari-hari keluarga Laurens amat sederhana. Orang tuanya, terutama sang mami begitu ketat, hemat, dan perfeksionis mendidik ketiga jagoannya.

Mami punya aturan baku untuk menjalankan seluruh urusan rumah tangga. Posisi perabotan, jadwal bekerja, daftar menu makan, urusan sekolah, telah diatur dengan sangat serius dan ketat. Pengeluaran pun ditata dengan perhitungan cermat. Semua itu dilakukannya agar anak-anaknya tahan banting. “Dulu mami hidup susah, makanya mami enggak mau kalian hidup susah juga,” ucap sang mami, Hanna Rahadi, kepada Chrisye.

Di rumah dengan aturan begitu ketat, suara musik tampil menjadi warna pembeda. Lagu-lagu Frank Sinatra, Bing Crosby, Nat Kig Cole, dan Dean Martin melantun indah dari pengeras suara piringan hitam sang papi menjadi menu pembuka pagi dan penutup hari jelang petang.

“Musik memang menjadi pewarna rumah kami, tapi papi dan mami saya bukan pemusik. Dan, mereka adalah figur orang tua yang tak pernah memimpikan anaknya jadi pemusik!”. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH