Terekam Kamera, Delegasi Suriah Ejek Rusia Saat Kongres Perdamaian Pejuang Tentara Pembebasan Suriah membawa walkie talkie sambil duduk bersama rekannya di kawasan al-Manshiyeh, Deraa, Suriah, Jumat (21/7). (ANTARA FOTO/REUTERS/Alaa Al-Faqir)

MerahPutih.Com - Suriah kembali menunjukan ketidakpuasan terhadap upaya Rusia menangani konflik di negaranya. Dalam kongres perdamaian Suriah yang berlangsung di Rusia baru-baru ini, sejumlah delegasi Suriah mengejek Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov yang sedang berpidato.

Sebagaimana dilaporkan saksi mata kepada Reuters, Selasa (30/1) beberapa anggota delegasi Suriah mengolok Rusia dengan menuduh Moskow membunuh masyarakat sipil di Suriah melalui serangan udara.

Sebagaimana dikutip Antara, insiden ejekan delegasi Suriah juga disiarkan langsung di televisi negara Rusia. Dua petugas keamanan terlihat mendekati seorang pria di deretan peserta dengan memintanya untuk duduk dan tenang.

Delegasi lain di konferensi tersebut di kawasan Sochi, di Laut Hitam Rusia, berdiri pada waktu yang sama dan meneriakkan dukungan mereka bagi Rusia, demikian beber saksi mata itu lagi.

Sergei Lavrov mengatakan kepada delegasi untuk mengizinkan menyelesaikan pidatonya, dengan mengatakan bahwa mereka akan mempunyai waktu untuk mengatakan nanti.

Sebelumnya pembicaraan perdamaian yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan pemerintah dan oposisi Suriah dimulai di Wina pada Kamis (25/1).

Pertemuan terwujud beberapa hari setelah negara sekutu erat Suriah, Rusia, dijadwalkan menyelenggarakan perundingan terpisah, yang dianggap pihak Barat mencurigakan.

"Pertemuan tadi berlangsung dengan baik," kata kepala delegasi pemerintah Suriah, Bashar al-Ja'afari, kepada Reuters ketika ia meninggalkan kantor PBB di Wina pada Kamis sore. Sebelumnya, al-Ja'afari melakukan pertemuan dengan Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura. Al-Ja'afari menolak berkomentar lebih lanjut.

Sementara itu, delegasi oposisi tiba di lokasi tak lama setelah al-Ja'afari pergi. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa kedua pihak bertikai itu bertemu.

Putaran-putaran perundingan sebelumnya yang didukung PBB hanya membuat sedikit kemajuan sementara pasukan pemerintah Suriah dukungan Rusia telah menguasai lapangan dan mengambil lagi kendali banyak wilayah di negara itu dari tangan para pemberontak.

Presiden Bashar al-Assad tampaknya masih belum siap untuk berunding dengan musuh-musuhnya, apalagi mengundurkan diri dari jabatannya, seperti yang dituntut oleh kelompok-kelompok pemberontak sebagai bagian dari penyelesaian damai.

Tidak banyak pihak yang berharap bahwa perundingan dua hari di Wina itu akan menghasilkan terobosan. Namun, de Mistura tetap menyatakan optimistis terhadap pembicaraan itu, yang ditujukan untuk membahas berbagai masalah terkait undang-undang dasar yang baru.

"Ini adalah momen yang sangat penting. Sangat, sangat penting," katanya.

Dalam delapan putaran perundingan sebelum pekan ini, de Mistura belum berhasil membujuk kedua pihak untuk berhadap-hadapan secara langsung dalam pertemuan.

Delapan pertemuan di Astana tahun lalu diselenggarakan oleh Rusia, Turki dan Iran dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan soal penentuan wilayah-wilayah "penurunan ketegangan" guna menurunkan permusuhan di Suriah barat.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH