Terdakwa Kasus Keterangan Palsu Kabur Saat Akan Dieksekusi Kejari Jakut Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, Selasa (18/2/2020).(ANTARA/Fauzi Lamboka)

MerahPutih.com - Seorang terdakwa kasus dugaan keterangan palsu bernama Norman alias Ameng dikabarkan menghilang saat akan dieksekusi Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara.

Kejari Jakut sejauh ini belum berhasil mencari keberadaan Norman yang sudah divonis Pengadilan bersalah dalam dugaan pidana memberikan keterangan palsu dalam akta otentik.

Baca Juga

Polisi Ungkap 2 Kasus Penipuan dengan Modus 'Pemain Burung'

Sudah dua minggu Kejari Jakut mencari Norman, tapi tidak ada hasil karena terdakwa tidak lagi berada di tempat dan alamat yang tertera di berkas perkara.

Padahal perkara sudah diputus MA, dan sudah didisposisi ke PN Jakarta Utara dan Kejari Jakut untuk dilakukan eksekusi agar terdakwa Norman menjalankan tahanan sebagaimana vonis yang dijatuhkan hakim dalam amar putusan MA.

Norman terjerat kasus hukum atas laporan dari korban Yusri, di mana Norman memasukkan keterangan palsu dalam akta otentik sehingga merugikan pelapor Yusri.

DPO atas nama Norman alias Ameng. Foto: Istimewa

Atas dugaan tersebut Yusri melaporkan ke Polres Jakarta Utara yang memproses dan akhirnya bergulir ke meja pengadilan di mana Norman diputus hakim terbukti bersalah secara hukum dan harus ditahan.

Perkara bergulir hingga ke Mahkamah Agung, dan MA pun tetap memutus Norman Ameng bersalah dan harus menjalani tahanan.

Advokat Jaka Maulana dari LQ Indonesia Lawfirm menyatakan, tidak mampu-nya aparat kejaksaan dalam melakukan eksekusi sangat mencoreng muka pengadilan dan reputasi institusi Kejaksaan.

Kejaksaan adalah pihak eksekutor dari pengadilan sebagaimana diatur dalam KUHP Acara Pidana, namun nyatanya dalam kinerja masa menangkap satu orang terdakwa yang menghilang ketika harus menjalani eksekusi MA saja tidak mampu.

Lalu apa gunanya proses panjang dari kepolisian, kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan Makhamah Agung, jika pada akhirnya putusan pengadilan tidak bisa dijalankan karena ketidakmampuan aparat Kejaksaan.

"Eksekusi yang tidak dilaksanakan pihak kejaksaan ini sangat janggal karena informasi yang kami dapat, ternyata Norman masih berada di Jabodetabek dan bahkan sering ke kantor polisi untuk mengurus kasus ayahnya, Alex Suroto yang terjerat kasus penipuan dan penggelapan," jelas Jaka.

Sesuai prosedur apabila terdakwa yang mau dieksekusi tidak diketahui keberadaan semestinya Kejari Jakut segera mengeluarkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) agar lekas bisa ditemukan keberadaan Norman tersebut, bukannya dibiarkan sudah 2 minggu tanpa kejelasan.

Sementara itu, Ketua LQ Indonesia Lawfirm cabang Jakarta Pusat, Leo Detri menuturkan, jika kejaksaan itu memiliki bagian intel yang seharusnya mampu melacak, di mana kasiintel ini memiliki peralatan lacak dan personel yang mampu mencari buronan dan orang yang butuh ditangkap.

"Sangat janggal apabila ketika akan di eksekusi lalu Norman bisa kabur, diduga oknum Kejaksaan terlibat membocorkan informasi akan dilakukan eksekusi sehingga memberikan kesempatan untuk Norman untuk menghilang. Selaku aparat penegak hukum, kami lawyer dari LQ Indonesia Lawfirm, meminta agar kejagung memperhatikan masalah ini," paparnya. (Asp)

Baca Juga

Usut Kasus Penipuan Grabtoko, Bareskrim Periksa Karyawan

Penulis : Asropih Asropih
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Ditangkap Polisi, 17 Pengedar Narkoba Terancam Hukuman Mati
Indonesia
Ditangkap Polisi, 17 Pengedar Narkoba Terancam Hukuman Mati

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Indrawienny Panjiyoga, mengatakan para pelaku dapat diancam hukuman mati.

Ditlantas Polda Metro Tagih Janji Pemprov DKI Tambah Kamera e-TLE
Indonesia
Ditlantas Polda Metro Tagih Janji Pemprov DKI Tambah Kamera e-TLE

"Sambil menunggu penambahan keputusan dari Pemda DKI untuk penambahan e-TLE tahap ketiga," terang dia

Pemprov DKI Siapkan Tempat Layak untuk Pelestarian Ondel-ondel
Indonesia
Pemprov DKI Siapkan Tempat Layak untuk Pelestarian Ondel-ondel

Pemprov DKI Jakarta menyebut akan menyiapkan tempat yang layak untuk kesenian ondel-ondel agar tidak disalahgunakan untuk mengamen.

Freeport Vaksinasi 38 Ribu Karyawan Beserta Keluarga
Indonesia
Freeport Vaksinasi 38 Ribu Karyawan Beserta Keluarga

Pihak PT Freeport Indonesia (PTFI) melaksanakan program vaksinasi COVID-19 untuk karyawan beserta keluarga mereka.

UGM Gelar PTM, Pemilik Indekos Mahasiswa Harus Meminta Surat Bebas COVID-19
Indonesia
UGM Gelar PTM, Pemilik Indekos Mahasiswa Harus Meminta Surat Bebas COVID-19

Mahasiswa yang akan mengikuti kuliah tatap muka diprioritaskan untuk mahasiswa baru yang sama sekali belum pernah mengikuti kegiatan di kampus.

Menpan RB Terbitkan SE Penyesuaian Sistem Kerja ASN Selama PPKM
Indonesia
Menpan RB Terbitkan SE Penyesuaian Sistem Kerja ASN Selama PPKM

Di wilayah dengan PPKM Mikro Level Tiga, ASN yang berdinas di kantor paling banyak 25 persen

Duduk Perkara Penganiayaan terhadap Diplomat Nigeria oleh Petugas Imigrasi Jaksel
Indonesia
Duduk Perkara Penganiayaan terhadap Diplomat Nigeria oleh Petugas Imigrasi Jaksel

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta menjelaskan dugaan penganiayaan terhadap diplomat asal Nigeria oleh petugas Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan.

Respons KPK soal Gibran dan Sritex di Kasus Suap Bansos Mensos Juliari
Indonesia
Respons KPK soal Gibran dan Sritex di Kasus Suap Bansos Mensos Juliari

Salah satunya mengenai keterkaitan antara anak Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka dan PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex dalam kasus ini.

Bawaslu Temukan Ratusan Akun Medsos Langgar Aturan Kampanye
Indonesia
Bawaslu Temukan Ratusan Akun Medsos Langgar Aturan Kampanye

Pada hari pertama masa tenang atau 6 Desember 2020, terdapat 76 akun resmi yang masih aktif di Pustaka Iklan Facebook

Waketum Persis Tegaskan Minuman Keras Induk Segala Kejahatan
Indonesia
Waketum Persis Tegaskan Minuman Keras Induk Segala Kejahatan

"Sebagai bangsa dan masyarakat religius, kita harus berpedoman kepada norma dasar agama yang menyatakan bahwa al khamru, ummul khabaaits, minuman keras adalah induk segala kejahatan," kata Ustaz Jeje