Terbongkarnya Rahasia Komunikasi Jadi Penyebab Tertangkapnya Puluhan Terduga Teroris Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Jawa Tengah, Taufik Andrie memberikan keterangan terkait penangkapan puluhan terduga teroris baru-baru ini di Solo, Jawa Tengah, Senin (21/10). (MP/Ism

MerahPutih.Com - Pengamat terorisme sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Jawa Tengah, Taufik Andrie mengungkapkan ditangkapnya puluhan terduga teroris di berbagai daerah oleh Densus 88 sebelum pelantikan presiden dan wakil presiden Jokowi-Ma'ruf Amin setelah komunikasi medsos mereka terbongkar.

Hal itu diungkapkan Taufik dalam seminar bertajuk Peningkatan Peran Pemerintah Daerah dalam Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial Mantan Narapidana Terorisme di Gedung Graha, Solo, Jawa Tengah, Senin (21/10).

Baca Juga:

Mungkinkah Pelantikan Jokowi-Ma'ruf Berpotensi Dirusak Aksi Teroris?

"Gelombang penangkapan terduga terorisme biasa terjadi pasca ada insiden aksi terorisme. Aksi itu berupa penusukan Menko Polhukam Wiranto di Banten belum lama ini," ujar Taufik kepada awak media termasuk merahputih.com.

Seminar seputar ancaman terorisme di Solo
Seminar berjudul Peningkatan Peran Pemerintah Daerah dalam Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial Mantan Narapidana Terorisme di Gedung Graha, Solo, Jawa Tengah, Senin (21/10). (MP/Ismail)

Berawal dari penangkapan pelaku penusukan Menko Polhukam Wiranto, kata dia, jaringan komunikasi kelompok ini terbongkar semua. Laptop juga disita petugas. Jaringan ini banyak menggunakan Whatsapp dan Telegram sebagai alat komunikasi dan konsolidasi, dan baiat.

"Model penangkapan yang sifatnya preventif semacam ini dinilai belum tentu efektif. Polisi tidak memiliki alat bukti cukup dari penangkapan yang dilakukan secara cepat untuk menjebloskan mereka ke penjara," kata dia.

Ia mengungkapkan tidak semua orang yang berada di dalam grup Whatsapp punya kemampuan untuk melakukan aksi teror. Mereka kebanyakan hanya sebatas simpatisan yang terkena doktrinasi radikal lewat medsos.

"Saya juga melihat serangan terorisme sudah tidak lagi mengandalkan bom, tetapi menggunakan alat seadanya. Dan pola penyerangan juga spontan tanpa ada rencana jadi hasilnya mudah dilacak Densus 88," ujarnya.

Baca Juga:

Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Perempuan Jaringan JAD di Karanganyar

Taufik menambahkan untuk sasaran teror tetap sama yakni mengincar aparat keamanan dan pejabat pemerintahan. Pola sasaran serangan ini identik dengan kelompok yang terafiliasi dengan ISIS.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Ismail, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga:

Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88 di Cirebon Ternyata Pegawai PT PLN



Eddy Flo