Teka-Teki Supersemar, Dokumen Paling Misterius Penegas Kekuasaan Soeharto

SUPERSEMAR atau Surat Perintah Sebelas Maret menjadi teka-teki paling menyita perhatian banyak pemerhati sejarah. Sebagian pemerhati sejarah menilai dokumen tersebut disimpan entah di mana, sebagian lagi menilai dokumen tersebut nihil alias omong kosong belaka.

Dokumen Supersemar menjadi penting lantaran digunakan Suharto untuk pemindahan atau pengalihan kekuasaan dari Sukarno kepadanya. Sang presiden pertama RI, Sukarno pun menegaskan pada pidato bertajuk "Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah" (Jasmerah), 17 Agustus 1966, Supersemar bukan transfer of sovereignity dan bukan pula transfer of authority. Sama sekali bukan pengalihan kekuasaan.

Hingga kini otentisitas Supersemar masih menjadi misteri. Meski terdapat tiga versi Supersemar di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), tak satu pun otentik.

"Supersemar yang disimpan di ANRI adalah palsu. Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu ada tiga versi," kata Ahmad Yanuana Samantho, sejarawan sekaligus penulis kepada merahputih.com

Dalam surat kepresidenan sebagaimana dokumen Supersemar di ANRI, lanjut Samantho, semestinya pada bagian kop surat berlambang bintang, padi, dan kapas,bukannya Burung Garuda, apalagi polosan seperti surat terakhir.

Kontroversi Supersemar tak sebatas pada dokumen, tapi juga terkait peristiwa demi peristiwa saat sebelum maupun sesudah terjadinya. Belum lagi, kata Ahmad, kontroversi terkait empat jenderal menghadap Bung Karno sebelum peristiwa Supersemar terjadi.

"Inilah yang masih misterius. Besar kemungkinan issue empat orang ini (jenderal) benar adanya. Akan tetapi, yang satu tidak masuk ke dalam istana Bogor menemui Bung Karno, melainkan menunggu di mobil di luar pagar istana Bogor," kata Ahmad.

"Versi lain, menurut Letnan Satu (Lettu) Sukardjo Wilardjito, pengawal presiden yang berjaga malam itu berjumlah 4 orang; Basuki Rachmat, yang ditemani Brigjen Amir Machmud, Brigjen M Jusuf, dan M Panggabean. Mungkin itu, Jenderal Suharto sendiri yang keempatnya. Atau mungkin, dia menunggu di ruangan bersama tentara pengawal di Istana Bogor yang menyaksikan bagaimana Supersemar itu dibuat atau diketik secara dadakan," paparnya. (*) Noer Ardiansjah


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH