Bawi Lamus: Cita-Cita Masa Depan Kalimantan Pertunjukan Teater Bawi Lamus. (MP/Zaimul Haq)

SUARA kecipak air dan nyanyian merdu burung hutan bergelut mesra menghias permainya alam Kalimantan. Sayang, perlahan suara itu hilang. Berganti dengan pekikan gergaji mesin berseling dengan tangisan orangutan. Tampak di tengah-tengah suasana itu seorang wanita cantik terperangkap dalam penjara bambu. Berusaha menghibur, ia menari-nari dan sesekali bernyanyi.

Suasana nan lara itu diangkut dari Kalimantan Tengan ke dalam sebuah pertunjukan teater berjudul Bawi Lamus. Dalam bahasa Dayak, Bawi Lamus berarti wanita cantik, anggun dan pemberani.

Pertunjukan Teater Bawi Lamus. (MP/Zaimul Haq)
Pertunjukan Teater Bawi Lamus. (MP/Zaimul Haq)

Dalam pertunjukan Bawi Lamus, mempertontonkan kemistisan alam, kebijakan budaya, keunikan sejarah dan keindahan manusia tanah Borneo. Kisah yang dipaparkan dalam pertunjukan ini tak sekedar tentang keindahan dan kerusakan. Cita-cita masa depannya menjadi nilai plus tersendiri dalam narasinnya."

Ini adalah pertunjukan multietnik yang tetap mengangkat empat tema utamanya alam, manusia sejarah dan harapan. Itulah yang menjadi pilar pertunjukan Bawi Lamus ini," tutur Paquita Widjaja Rustandi, penulis naskah teater Bawi Lamus.

Penampilan teater semakin apik terasa saat orkestra Erwin Gutawa terlibat dalam projek ini. Alunan musik yang dihasilkan seakan mengantar pendengar ke suasana alam suku Dayak.

Pertunjukan Teater Bawi Lamus. (MP/Zaimul Haq)
Erwin Gutawa usai Gladi Resik Teater Bawi Lamus. (MP/Zaimul Haq)

"Saya langsung pergi ke Kalimantan untuk melihat alam, mendengarkan musik setempat dan melihat kehidupan masyarakat sana guna mencari inspirasi," kata Erwin setelah pertunjukan gladi resik Bawi Lamus di Gedung Teater, Taman Ismail Marzuki (TIM).

Tak hanya itu, Erwin juga terlibat langsung dalam seleksi pemilihan penari yang ikut dalam penampilan teater ini. Ia berkeliling Kalimantan mencari orang yang tepat untuk menarikan tarian khas Kalimantan yang diperagakan dalam pertunjukan teater.

"Bersama tim kita mencari penari yang berasal dari masyarakat Kalimantan asli. Hal ini agar unsur budaya yang diangkat terlihat jelas," ungkapnya.

Pengangkatantema dari tradisi Suku Dayak Ngaju dan Suku Dayak Manyan Kalimantan Tengah berangkat dari berbagai alasan. Misalnya, masalah global lingkungan kebudayaan dan masalah yang terjadi di dunia seperti global warming dan pembakaran hutan. Mengingat Kalimantan salah satu hutan yang kaya akan flora dan fauna yang terkenal di dunia.

Namun, tujuan utama dari penampilan Bawi Lamus tetap memperkenalkan adat dan tradisi-tradisi Indonesia kepada khalayak ramai. Khususnya kepada para pemuda yang akan bertugas menjaganya di kemudian hari. Pertunjukan ini sebagai pemantik semangat pemuda agar peduli dengan tradisi dan budayanya.

Pertunjukan Teater Bawi Lamus. (MP/Zaimul Haq)
Pertunjukan Teater Bawi Lamus. (MP/Zaimul Haq)

"Makanya pertunjukan dikemas dalam bentuk kekinian. Namun tak mengurangi nilai tradisinya. Ini pertunjukan seni yang menggabungkan perpaduan tradisi dan masa kini," ungkap Jay Subyakto pascapertunjukan gladi resik Bawi Lamus.

Pementasan ini merupakan buah karya dari beberapa nama besar yang terlibat di dalamnya. Seperti Jay Subyakto (artistik), Erwin Gutawa (musik), Paquita Widjaja Rustandi (naskah dan kostum), Sophia Latjuba (bintang tamu), Lea Simanjuntak (bintang tamu), Inet Leimena (sutradara), Edhi Wiluyo & Siko Setyanto (koreografer), Durga (seniman tato), Taba Sanchabakhtiar (visual), Alfina Teras Narang & LEo Rustadi (sksekutif produser) dan Frida Tumakaka (produser).

Bawi Lamus akan dipentaskan di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada tangga 13-14 Oktober 2018. Untuk tiketnya dibanderol mulai dari harga Rp300.000 hingga Rp2.500.000 untuk kelas Silver hingga Diamond. Sementara itu tiketnya kamu bisa dapatkan di bawilamus.com. (Zai)

Baca Juga:Erwin Gutawa Hadirkan Musik Tradisi lewat Olahan Orkestra dalam Pertunjukan Bawi Lamus

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH