Tas Rotan Bundar Bali, Si Simpel Favorit Artis dan Selebgram Raisa Andriana memakai tas rotan bundar Bali. (Foto: Instagram)

SEBUAH tas berbentuk bundar seketika menarik perhatian. Terbuat dari anyaman rotan, dengan tali untuk menyelempangkan tas. Tas bermodel simpel itu terpajang apik di Krisna, salah satu pusat oleh-oleh di Bali.

Bukan modelnya yang membuat saya berdecak kagum. Namun, kehebatan tas ini lantaran sempat menjadi signature style pada musim panas 2017. Bukan hanya penyanyi Raisa Andriana penggunanya, tetapi juga sederet artis papan atas dan fashion blogger dunia.

Banyak artis dan selebgram menyukainya karena gampang di mix n match. Rok maxi, rok pensil, rok mini, celana panjang, jumpsuit, celana pendek dan jeans akan terlihat oke apabila dipadukan dengan tas ini.

Di Bali, tas mungil tersebut dapat dijumpai dengan mudah di Pasar Ubud dan pusat oleh-oleh selain Krisna. Melihat pamor tas rotan bundar tersebut, Merahputih.com pun tergelitik melihat langsung produksinya. Adalah Pawardi (42), perajin yang kami sambangi.

Rumah produksi Pawardi tidak seperti dalam bayangan kami. Sederhana. Dan bukan miliknya sendiri. Ia hanya lah indekos.

tas bali
Foto: Rotan Bali

Ditemui di indekosnya, Pawardi terlihat sibuk melayani pembeli. Di Jalan Gumitir Nomor 16 itulah transaksi kerap terjadi. Pembeli biasanya memesan tas tersebut untuk dijual di berbagai art shop di Bali. Atau, mengirimnya ke luar negeri apabila ada pesanan.

Berasal dari Desa Landah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Pawardi mengaku telah menekuni kerajinan anyaman dari bahan pohon Ate dan Rotan itu sejak 1966. Kalau sering berburu souvenir dari berbagai daerah, kamu pasti hafal dengan materialnya. Bahan ini dahulu sering dijadikan alas piring dan gelas.

“Dulu di desa, kita sering membuat anyaman ini untuk alas piring atau alas gelas,” terang ayah tiga anak ini.

Hasrat tak terbendung Pawardi untuk mengembangkan kerajinan anyaman rotan tersebut membuatnya pindah ke Bali pada 1998. Waktu terus berjalan. Kerajinan anyaman rotan pun berkembang. Dari alas piring dan gelas menjadi tempat tisu, lalu tas bundar.

Model terbaru, tas rotan bundar, ternyata menjadi favorit pembeli domestik dan mancanegara. Karena kewalahan memenuhi pesanan, Pawardi pun mengongkosi orang-orang di desa asalnya, Lombok Tengah, untuk menganyam tas bundar tersebut.

Warga Lombok Tengah rata-rata berprofesi sebagai petani. Ketika musim kemarau tiba atau menunggu masa panen, warga menghabiskan waktu membuat anyaman dari pohon Ate dan Rotan.

“Kalau di Lombok Tengah banyak perajinnya. Kalau orderan ramai, saya mengongkosi,” katanya.

Dari Lombok, tas-tas tersebut dikirim ke Bali untuk dijual. Setiap hari, Pawardi bisa menerima kiriman 500 hingga 1.000 tas dari Lombok. Menurut Pawardi, proses pembuatan tas dimulai dengan membelah material Ate dan Rotan agar lebih kecil bentuknya. Kemudian dibersihkan dan mulai dianyam sesuai variasi motif.

“Dalam satu hari bisa satu tas saja yang selesai dianyam, karena lama menganyamnya. Apalagi kalau motifnya agak rumit,” paparnya.

Sampai di tangan Pawardi, tas bundar tersebut dipercantik aneka bubuk warna permanen. Lalu dijemur beberapa jam. Selanjutnya dipasangkan bermacam corak kain menggunakan lem kuning dan dijahit agar kuat. Proses terakhir tinggal memberi tali tas berbahan kulit sapi. Penambahan tali kulit ini membuat tas terlihat eksotis dan menarik.

“Kalau di sini saya hanya pengepul dan mempercantik tas itu,” tegasnya.

tas bali
Tas rotan Bali. Foto: SocImage

Tas-tas rotan Pawardi ditawarkan dengan ukuran 12 hingga 25 sentimeter. Biasanya pembeli menjualnya dengan harga berbeda-beda. Jika dijual di art shop, kisarannya Rp120 ribu hingga Rp150 ribu.

Lewat tangan-tangan pembeli itulah penjualan tas rotan Pawardi bisa tembus pasar Eropa, Kanada dan Jepang. Sementara ia hanya memasarkan di Bali.

Lantas, berapa untung yang Pawardi dapat dari hasil penjualan tas anyaman ate dan rotan? “Tidak begitu bagus. Kecil,” ungkapnya.

Materialnya mahal. Satu ikat bahan ate dan rotan Rp45 ribu serta harus dibeli dari Sumatra, Kalimantan dan Flores (Nusa Tenggara Timur). Seandainya memiliki opsi bekerja di perusahaan, Pawardi mungkin akan mengambil opsi tersebut. (*)

Artikel ini dibuat berdasarkan laporan kontributor Merahputih.com wilayah Bali dan sekitarnya, MKF.


Tags Artikel Ini

Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH