Tari Sari Tunggal Gusti Nurul, Kado Spesial Pernikahan Agung Gusti Nurul menari Sari Tunggal sebagai kado pernikahan Juliana-Bernhard. (Foto: kitlv)

KABAR rencana Royal Wedding atau pernikahan agung Putri Juliana, anak Ratu Belanda Wilhelmina, dengan Pangeran Bernhard, sampai di telinga KGPAA Mangkunegara VII. Sang Raja enggan ikut arus. Ia tak ingin tampil sama seperti raja-raja lain mempersembahkan permata dan pusaka kepada mempelai.

Setelah menimbang masak-masak, Mangkunegara VII memutuskan memberi sebuah kado spesial berupa tarian. Putrinya, si cantik jelita, Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemo Wardhani, didaulat khusus menjadi penari.

Romo (bapak), mempunyai gagasan dalam tarianku,” ujar Gusti Nurul pada biografi bertajuk Lembar Kenangan Gusti Noeroel. Ayahnya tak mungkin mengikutsertakan rombongan penabuh berikut seperangkat gamelan ke Belanda. Selain teknis keberangkatan, juga pihak mempelai akan kerepotan mengatur persiapan. Persoalan teknis itu mau tak mau harus jadi pertimbangan serius.

Selagi berpusing memikirkan teknis, Gusti Nurul berlatih keras agar tak tampil mengecewakan. Ia akan menarikan Sari Tunggal sebagai kado spesial. “Tari dari Keraton Yogyakarta yang selama ini telah kupelajari dari kakak ibuku, Pangeran Tedjo Koesoemo,” kata perempuan kelahiran 17 September 1921.

Gusti Nurul berlatih tak kenal lelah, sementara ayahnya berpikir sekuat tenaga berkait teknis pertunjukan. Sejerus kemudian, Mangkunegara VII beroleh titik terang. Ia tak mengirim penabuh dan perangkat gamelan. Para Niyaga akan menabuh gamelan Kyai Kanyut Mesem di Pura Mangkunegaran, Solo, dan dipancarkan secara langsung melalui stasiun radio Solosche Radio Vereeniging (SRV) ke Belanda. Alunan gending dari radio tersebut akan menjadi pengiring gerak tari Gusti Nurul.

Mengingat jarak tempuh dan lama perjalanan, meski rangkaian acara pernikahan baru akan digelar pada Desember 1936-Januari 1927, Mangkunegara VII, Permaisuri GKR Timur, dan Gusti Nurul telah berangkat pada Agustus 1936

Dalam perjalanan, di atas kapal Marnix, Gusti Nurul menyempatkan diri berlatih. Setelah tiba di Italia, perjalanan disambung dengan kereta api. Mereka tiba di Amsterdam pada 16 November 1936, lalu bertolak ke Den Haag pada 1 Desember 1936.

Kedatangan Mangkunegara VII beserta kelaurga, menurut Harry A Poeze dalam Di Negeri Penjajah, merupakan kali pertama seorang Raja Jawa masih berkuasa berkunjung ke Belanda. Selama empat bulan rombongan menginap di Puri Oud-Wassenar.

Panitia pernikahan Putri Juliana baru mengetahui rencana pementasan tari saat rombongan tiba di Belanda. Menurut Hary Wiryawan dalam Mangkoenegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia, pihak panitia semula keberatan dengan pementasan itu dengan alasan waktu persiapan singkat untuk acara nan rumit. Namun, setelah Mangkunegara VII meyakinkan panitia, akhirnya kado spesial pernikahan agung tersebut tetap terlaksana.

Sebulan sebelum acara, panitia melakukan tes dan meminta Gusti Nurul menari lengkap dengan iringan musik langsung dari Pura Mangkunegaran Solo melalui pemancar SRV. Bertempat di gedung Pos, Telegraph, dan Telpon (PTT), Gusti Nurul pun menari di hadapan Ratu Wilhelmina dan anggota kabinet. Pada saat yang sama, Gusti Partinah, anak kedua Mangkunegara VII, menari di Pura Mangkunegaran Solo sebagai patokan bagi pemain gamelan.

“Pada saat tes, suara gamelan sempat hilang. Namun Ibu (Gusti Timoer) yang duduk di dekat pentas membantu dengan hitungan, sehingga tarianku dapat diselesaikan dengan baik,” ujar Gusti Nurul.

Perusahaan Philips merekam gending tersebut untuk pementasan di hari-H. Pementasan tari pun digelar di Istana Noordeinde, disaksikan para petinggi negara, raja dan ratu dari berbagai negara, serta kedua mempelai. Pementasan berjalan lancar. “Aku merasa lega,” ujar Gusti Nurul.

Pementasan itu ramai diwartakan suratkabar Belanda. Pementasan itu juga membuat para tamu ingin mengetahui lebih jauh tentang kebudayaan Timur dari Mangkunegara VII.

Rombongan Mangkunegara VII meninggalkan Belanda pada 15 Februari 1937 dan melanjutkan perjalanan keliling Eropa. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho