Target Pertumbuhan Ekonomi 2019 Meleset, Pemerintah Diingatkan Lebih Serius Bekerja Ilustrasi perekonomian. Foto: Net

Merahputih.com - Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan menilai melesetnya angka pertumbuhan ekonomi 2019-III sebesar 5,02 persen menjadi sinyal bagi pemerintah untuk berhati-hati mengelola strategi ekonomi ditahun 2020 ini.

Menurut Heri, di tahun 2020 nanti perekonomian nasional menghadapi tantangan resesi global. Strategi ekonomi perlu langkah-langkah mitigasi serius atas resesi.

Baca Juga

Genjot Perekonomian UMKM di Jakarta, Bank DKI Salurkan Kredit Rp1,4 Triliun

Heri menegaskan salah satu yang harus diperhatikan adalah defisit APBN. Tahun 2019 saja, defisit melebar menjadi lebih dari 2,2 persen akibat perlambatan ekonomi. Angka yang melenceng cukup jauh dari target sekitar 1,8 persen.

"Tanpa pengelolaan yang baik, bukan mustahil defisit melebar mendekati 3 persen yang menjadi batas maksimal yang disyaratkan dalam UU No. 17/2013 tentang Keuangan Negara, mengingat laporan realisasi anggaran (LRA) masih menggunakan cashbase," ujar Heri kepada wartawan di Jakarta, Minggu (22/12).

Sementara, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Komponen-komponen yang terdapat dalam satu set laporan keuangan berbasis akrual.

Foto: (Thinkstockphotos.com)

"Pemerintah perlu secara terbuka menegaskan sebetulnya berapa angka defisit APBN Ini penting untuk melahirkan kepercayaan dan kredibilitas," tegas Heri.

Heri memaparkan nyaris seluruh negara maju memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi masing-masing. Perlambatan ekonomi global terus berlanjut.

Tahun 2019-II China misalnya hanya mencatatkan pertumbuhan 6,2 persen. Pertumbuhan itu terendah dalam 30 tahun terakhir.

Baca Juga

HPPI: Ajang Formula E Jadi Faktor Pertumbuhan Ekonomi Jakarta di 2020

Belum lagi gejolak perang dagang AS-China terus mendistorsi permintaan ekspor terutama ekspor komoditas. "Sinyalemen resesi ini diprediksi akan cukup berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020," ungkap Heri.

Politikus Partai Gerindra ini menegaskan bahwa ekonomi nasional yang masih bergantung pada konsumsi rumah tangga menjadi momok tersendiri. Sementara itu, investasi dan perdagangan internasional belum berperan optimal.

"Padahal, keduanya berperan signifikan pada pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkualitas," tutup dia. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH