Tanpa Listrik, Penginapan Sumba Ini Justru Disukai Wisatawan Asing Pemandangan pantai dari ketinggian Lamboya. (Foto: instagram.com/sumbasunsetsurf)

SUMBA salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia. Pulau di timur Bali tersebut tak hanya diminati wisatawan nusantara tapi juga para pelancong mancanegara.

Bukan hanya suguhan alamnya, Sumba juga punya daya tarik tersendiri dengan penginapannya. Salah satu tempat berlibur unik ketika datang ke Kabupaten Sumba Barat dan menginap di homestay Sumba Sunset.

1. Homestay menawarkan keindahan alam dari ketinggian

 Pemandangan alam dari atas ketinggian. (Foto: instagram.com/sumbasunsetsurf)
Pemandangan alam dari atas ketinggian. (Foto: instagram@umbasunsetsurf)

Sumba Sunset terletak di Desa Patilaya Bawa, Kecamatan Lamboya, sekitar dua jam dari Bandara Tambolaka yang ada di kabupaten tetangganya, Sumba Barat Daya.

Dikutip Arah Destinasi, homestay milik Petrus itu terletak di ketinggian, dengan pemandangan di bawahnya perkebunan, jalan raya, dan bentangan laut luas. Dari homestay hanya sekitar 10 menit berjalan kaki jika ingin bermain di bibir pantai dengan pasir dan ombak yang cantik.

Sumba Sunset memiliki empat rumah kecil beratap rumbia yang langsung menghadap ke hamparan pemandangan laut dan perkebunan. Dua kamar dilengkapi dengan dua tempat tidur, satu kamar satu tempat tidur, dan satu lagi tiga tempat tidur. Harganya dihitung per kepala Rp 400 ribu termasuk tiga kali makan.


2. Seribu kegiatan wisata bisa dirasakan para pengunjung

Tempat tinggal panggung dengan atap rumbia. (Foto: instagram.com/sumbasunsetsurf)
Tempat tinggal panggung dengan atap rumbia. (Foto: instagram@sumbasunsetsurf)

Setiap bulan, menurut Petrus, selalu saja ada tamu yang datang. Namun, katanya, bulan teramai biasanya dimulai dari Juli hingga awal tahun. Turis asing yang datang biasanya dari Eropa, dan belakangan mulai muncul wisatawan dari Australia.

Di Sumba Sunset, setiap hari bisa menjadi waktu yang menyenangkan. Pagi hingga sore hari, wisatawan bisa mengunjungi dan melakukan beragam aktivitas. Melihat air terjun, datang ke kampung adat, bermain di pantai, berselancar, menyelam, dan masih banyak lagi.

Petrus selalu siap mengantar sesuai kebutuhan wisatawan. Di malam hari, cobalah duduk bercengkrama di bangunan terbuka beratap rumbia, memandang bulan, mendengar deburan ombak, dan menyesap kopi sembari berbincang santai.

3. Keterbatasan justu jadi daya tarik

 Pemandangan pantai dari ketinggian di Lamboya. (Foto: instagram.com/sumbasunsetsurf)
Pemandangan pantai dari ketinggian di Lamboya. (Foto: instagram@umbasunsetsurf)

Belum ada aliran listrik yang masuk ke desa itu. Petrus menggunakan genset yang mulai dinyalakan saat langit mulai gelap dan dimatikan setiap pukul 12 malam. Sebagai ganti, setiap kamar diberi satu penerangan yang menggunakan baterai.

Tapi siapa sangka, kekurangan itu justru disukai wisatawan, khususnya turis asing. “Mereka malah suka tidak ada listrik. Mereka bilang bosan, di tempatnya setiap hari ada listrik di mana-mana,” kisah Petrus.

Desa Patilaya Bawa juga masih kesulitan air. Untuk memenuhi kebutuhan mandi wisatawan, Petrus membeli air yang dihitung per tangki (5.000 liter) dengan harga Rp 200 ribu. Petrus berharap, ke depan ada fasilitas air yang bisa didapat di desanya. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Tempat Terbaik Dunia untuk Melihat Kelelawar, Salah Satunya di Borneo

Kredit : zulfikar

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH