Tangis Setnov Pecah Saat Mengenang Pengalaman Jadi Sopir dan Pembantu Sidang Perdana Kasus E-KTP Setya Novanto

MerahPutih.com - Beberapa kali punggungnya naik turun mengikuti tarikan nafas yang tidak teratur. Agak serak pelan-pelan terdengar suara terbata-bata cecegukan dari mulutnya. Tangis e-KTP eks Ketua DPR Setya Novanto pun pecah saat mulai membacakan pledoi dalam kasus sidang korupsi e-KTP.

Setnov memulai pembelaannya dengan menceritakan pengalaman hidupnya. Dia mengaku bukan keturunan dari keluarga kaya raya dan harus melakukan sejumlah pekerjaan kasar untuk bertahan hidup saat pindah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan. Beberapa kali, mantan Ketua DPR itu harus berhenti membacakan pledoi karena suaranya semakin serak menahan tangis.

Politikus Golkar itu mengaku mencoba bertahan hidup dengan berjualan beras dan madu, menjadi model, sales mobil, hingga menjadi kepala penjualan mobil di seluruh Indonesia timur. "Saya bukanlah keturunan konglomerat atau kaya. Saya lahir dari keluarga kurang mampu. Tapi saya punya cita-cita untuk turut membangun dan berkontribusi pada negara," kata dia, di Pengadilan Tipikor, Jumat (13/4).

setnov sidang ktp
Terdakwa kasus dugaan korupsi KTP elektronik Setya Novanto mengikuti sidang perdana di gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12). Sidang tersebut mengagendakan pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum serta secara otomatis sidang praperadilan yang diajukan oleh Novanto di PN Jaksel gugur karena pokok perkara sidang sudah dibacakan. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Bahkan, Setnov mengaku rela mengabdi jadi pembantu, mencuci, mengepel, dan kerja jadi sopir bangun pagi mengantar sekolah anak-anak. Dalam pledoinya, Setnov menuturkan banyak dibantu pengusaha dan petinggi Golkar seperti Sudiyatmoko, Hayono Isman dan Akbar Tandjung hingga bisa menggapai cita-citanya menjadi Ketua DPR. "Orang-orang ini yang jadi perantara keberhasilan yang saya bangun. Terima kasih tiada terhingga," ungkapnya.

Nada suara Setnov kembali bergetar, dan sesekali tak kuat membacakan pleidoinya. Setnov mengklaim cerita pengalaman hidupnya ini bukan untuk mendapat belas kasihan, simpati atau pamrih.

"Saya terpaksa, bukan pamrih membacakan (pleidoi) ini. Saya ingin masyarakat melihat cahaya ditengah-tengah gelapnya, saya ingin mengimbangi pemberitaan atau kabar yang beredar di luar, sudinya kiranya kurangi dapat mengurangi celaan, cacian yang kejam itu," tutur mantan Ketua DPR itu.

Pledoi ini merupakan tanggapan Setnov atas tuntutan Jaksa KPK yang menuntut terdakwa kasus korupsi e-KTP itu 16 tahun penjara. JPU KPK juga meminta majelis hakim untuk menjatuhkan pidana penjara selama 16 tahun dan pidana denda sebesar Rp 1 miliar subsider pidana kurungan selama enam bulan terhadap Setnov.

Tak hanya itu, JPU KPK juga menuntut agar mantan Ketua Umum Partai Golkar itu dijatuhkan pidana tambahan berupa membayar uang pengganti sejumlah 7,435 juta USD. Tuntutan Jaksa lainnya adalah meminta pencabutan hak terdakwa untuk menduduki jabatan publik yang terhitung sejak setelah menjalani masa pemidanaan.

setnov kpk
Setya Novanto tiba di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (30/1). (MP/Ponco Sulaksono)

Untuk diketahui, aksi tangis Setnov ini bukan yang pertama kali dalam proses sidang kasus korupsi e-KTP. Dia juga pernah menangis saat menjalani sidang lanjutan pada 22 Maret lalu.

Kala itu, tangisan Setnov pecah ketika meminta maaf kepada sejumlah pihak karena terlibat kasus korupsi. Setelah mengutarakan permohonan maaf, dia mengaku melalui istrinya telah mengembalikan uang sebesar Rp5 miliar kepada KPK. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH