Tangis Haru Peneliti Uji Klinis Vaksin COVID-19 Sinovac Peneliti utama Kusnandi Rusmil. (Foto: UNPAD)

MerahPutih.com - Indonesia tengah berjuang untuk mendapatkan vaksin COVID-19 agar pandemi segera berlalu. Bandung menjadi salah satu kota yang menjadi tempat uji klinis vaksin COVID-19 yag berasal dari Tiongkok, karena keberadaan lab Universitas Padjajaran dan Perusahaan BUMN Bio Farma yang sejak 100 tahun sudah mengembangkan vaksin.

Peneliti utama Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, dr.,Sp.A(K).,MM, beberapa kali menahan tangis saat menjelaskan “Teknologi dan Uji Klinis Covid-19” dihadapan para guru besar, pejabat mahasiswa serta publik. Walaupun saat ini, vaksin COVID-19 masih dalam tahap uji klinis dan belum dapat hasil.

Ia terharu saat membahas peran perguruan tinggi Indonesia, terutama Kedokteran Unpad yang sdah lama terlibat dalam program vaksinasi nasional baik sebelum maupun di saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Bahkan, saat ini dilibatkan untuk uji klinis vaksin COVID-19 yang ditunggu seruh rakyat Indonesia bahkan dunia.

Baca Juga:

Jokowi Perkirakan Vaksin Merah Putih Diproduksi Pertengahan 2021

Kusnandi yang juga Ketua Tim Uji Klinis Vaksin Covid-19 tersebut menuturkan, para peneliti Unpad bukan di saat pandemi COVID-19 saja terlibat uji klinis vaksin bersama Bio Farma.

Guru Besar FK Unpad ini menuturkan, uji klinis vaksin oleh Unpad sudah dilakukan sejak 2002. Hal ini berdampak pada terlaksananya semua jadwal imunisasi di Indonesia.

“Alhamdulillah dari semua jadwal imunisasi, saya agak terharu, itu semuanya di Unpad uji klinisnya, semua, dari 2002 sampai sekarang,” kata Kusnandi, seraya menahan haru, saat menyampaikan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-63 Unpad, di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Bandung, pekan lalu.

Dokter spesialis anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung tersebut menekankan, di Indonesia tidak ada tempat uji klinis selain Bio Farma dan Unpad.

“Mulai 2002 sampai sekarang vaksin yang dilakukan di Indonesia uji klinisnya di Unpad,” ujarnya.

Alur rancangan program vaksinasi nasional dimulai dari Departemen Kesehatan. Kemudian masuk ke dalam perencanaan Bio Farma. Lalu, dibikin sampel untuk maju ke proses uji klinis. Dari situ, Bio Farma selalu mengajak kerja sama dengan RSHS yang juga berstatus Rumah Sakit Pendidikan Unpad.

Kebetulan, posisi Bio Farma dengan RSHS bersebelahan di Bandung.

“Lalu kontak ke kita ke RSHS, barangkali karena kita bersebelahan selalu ke kita. Mulai 2002 sampai sekarang,” ujar Kusnandi.

Setelah itu, profesor berkacamata tersebut terbatuk dan menangis. Lalu melanjutkan dengan suara terbata-bata bahwa semua vaksin yang diujicoba oleh Unpad digunakan sampai sekarang.

Dari semua jenis vaksin yang dipakai massal di Indonesia, hanya vaksin campak dan rubela yang tidak uji klinis di Bio Farma dan Unpad. Karena kedua jenis vaksin ini dibikinnya di India.

Sekarang peneliti Unpad dan Bio Farma terlibat dalam uji klinis vaksin Covid-19 hasil kerja sama dengan perusahaan vaksin Sinovac Biotech, Tiongkok. Menurutnya, COVID-19 sejauh ini belum ada obat dan vaksinnya. Obat dan vaksin yang ada baru sebatas penelitian-penelitian.

Karena belum ada obatnya, lanjut Ia, semua orang dituntut menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona.

Lab Vaksin Bio Farma. (Foto: Sekretariat Presiden).
Lab Vaksin Bio Farma. (Foto: Sekretriat Presiden).

“Kita harus tetap jaga jarak pakai masker cuci tangan dan sebagainya. Sekarang ini seluruh dunia berlomba ingin membuat vaksin, ada banyak calon-calon yang dibuat tapi itu semua sudah dibeli oleh negara lain oleh negara maju,” katanya.

Ia mengulas alasan mengapa Indonesia bekerja sama dengan Sinovac. Sebab vaksin ini berasal dari Tiongkok dan COVID-19 sendiri berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok telah melalui uji klinis tahap I dan II.

“Dan kita tinggal melakukan lanjutan fase tiga bersama Brasil, India, Banglades dan Turki. Fase I dan II-nya cukup baik hasilnya, efekstivitas juga baik, sehingga kita lebih pede lagi melakukan uji klinis,” katanya.

Pemerintah saat ini, sudah punya komitmen unuk mendapatkan pasokan vaksin dari UEA dan Tiongkok. Selain itu, Indonesia tegah kembangkan vaksin merah putih. Paling tidak, pemerintah sendiri menargetkan agar Indonesia mendapat akses antara 250 juta hingga 300 juta dosis vaksin COVID-19 hingga tahun depan.

Target itu akan dicapai melalui 10 sumber yakni Sinovac, G-42/Wuhan Institute Biological Products/Sinopharm, Astra Zaneca, GAVI/CEPI, dan CanSino Biological Inc./Beijing Institute Technology. Kemudian juga dari BioNTech /Fosun Pharma/Pfizer, Modena/NIAID (National Institute of Allergy and Infrctious Diseases, Acturus Therapeutics/Duke-NUS, Genexine. (Iman Ha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Diplomasi Vaksin COVID-19 Ala Indonesia



Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH