Tangguhnya Ibu Muda Penyintas Baby Blues, Bipolar dan Ganguan Kecemasan Menjadi seorang ibu sangat indah. (Foto: Unsplash/kevin liang)

MENJADI seorang ibu adalah perjalanan spiritual yang begitu indah. Perjuangan tidak berhenti setelah sang jabang bayi hadir ke dunia. Kelahiran justru menjadi awal perjuangan baru yang kelak menjadi ruang untuk bertumbuh.

Pertaruhan hidup dan mati tidak hanya berhenti di kamar bersalin. Pun tidak hanya muncul di tengah malah, saat ibu harus terjaga di malam hari untuk menyusui. Lebih dari itu. Mereka harus berjuang melawan rasa tidak nyaman dari perubahan fisik hingga perubahan hormon yang seringkali berujung pada perubahan emosional.

Baca Juga:

Pemuda, 'Healing' Tak Harus 'Travelling'

Dengan ketidaksiapan akan semua perubahan tersebut membuat sang ibu harus berjibaku dengan baby blues. Baby blues adalah persoalan nyata namun seringkali terabaikan. Support system yang seharusnya menguatkan bahu sang ibu justru turut mengabaikan perasaan mereka. Yang lebih parah justru mengejek sang ibu tidak becus. Tak pelak, baby blues yang tidak tertangani dengan baik akan membawa sang ibu pada tingkatan yang lebih parah: post-partum depression.

Permasalahan post-partum depression terasa lebih berat dialami para ibu penyintas gangguan mental. Sebelum sang anak lahir saja mereka harus berjibaku dengan perubahan emosi yang tidak stabil. Kehadiran sosok baru justru memperparah kondisi mereka.

Alih-alih menjadi malaikat pelindung untuk anaknya, keinginan untuk mencelakai pun sama besar. Seperti yang terjadi pada dua ibu muda tangguh bernama Mawar dan Melati (bukan nama sebenarnya).

Ada para ibu muda yang mengalami tekanan mengurus anak. (Foto: Unsplash/Dragon pan)

"Seharusnya ini bisa tertangani sebelum menikah tetapi gue enggak ada biaya dan waktu untuk menemui tenaga profesional sementara saat di Puskesmas (untuk dapat sertifikat menikah) gue sempat diwawancarai seputar psikologis sih tapi jawaban gue main aman banget karena menurut gue itu untuk formalitas belaka," ungkap Melati, penyintas gangguan kecemasan.

Tidak pernah terbayangkan bahwa sikap abai Melati tersebut justru berdampak besar sejak masa kehamilan. Apalagi, Melati mengaku bahwa keluarga yang seharusnya menjadi support system untuk kehamilannya justru memperparah kondisinya.

Tekanan ia dapat dari ibu dan ayahnya yang tinggal satu atap yang sama dengannya. "Keluarga gue tipe orang yang cuek banget tapi kalo ngomong nyakitin. Di satu sisi mereka enggak peduli sama kehamilan gue di sisi lain kalo ngomong ceplas-ceplos nyakitin hati," tutur Melati.

"Selalu ada hal menyakitkan yang mereka lakukan ke gue selama gue hamil. Setiap gue bangun tidur, otak gue langsung terbayang 'ada hal menyakitkan apa lagi ya yang bakal mereka lakuin ke gue?' Setelah kebayang tangan gue langsung dingin, kepala pusing, dada sesak, dan gue muntah hebat," urainya.

Stres dan muntah. Tidak adanya asupan yang masuk ke dalam perut membuat bayi yang dikandung Melati tidak mendapat nutrisi yang cukup. Jika ibu hamil biasanya mengalami kenaikan berat badan, ia justru mengalami penyusutan berat badan.

Berjibaku dengan gangguan kecemasan sejak lama, perjalanan Melati menjadi ibu terasa semakin berat. Ia kesulitan mengontrol dirinya. "Kalo lagi 'kumat' gue merasa badan gue kayak ada yang ambil alih dan gue cuma jadi penonton aja. Kadang pengin banget bisa kendaliin tapi sulit," katanya.

Kondisi tersebut semakin buruk ketika anaknya lahir. Ia yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan pola hidup dan si kecil yang menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan (dari alam rahim ke dunia). Kondisi tersebut membuat ia terus mengalami konflik batin. Belum lagi dengan fakta dirinya yang harus mengurus anaknya seorang diri.

Perlakuan buruk pada anaknya yang masih berusia 14 hari membuat ia menyesal bukan kepalang. "Kalau kondisi mulai reda, gue suka nangis meluk dan nyiumin anak gue. Mohon maaf sama anak gue karena sudah menempatkan dia dalam kondisi enggak layak. Semakin merasa bersalah setiap lihat tatapan anak gue yang masih percaya dan cinta sama gue."

Baca Juga:

Usaha Buket Uang Pemudi Negeri Aing Laris Manis Selama Pandemi

Dengan gangguan kecemasan yang dialaminya pula membuat anaknya sempat berada dalam kondisi memprihatinkan. "Setiap gue menyusui sakit banget. Gue tahu itu karena perlekatan yang salah tapi tetap aja itu buat gue trauma dan malas menyusui. Alhasil berat badan anak gue rendah," akunya. Namun setelah anaknya didiagnosa gizi buruk, ia kembali merasa tertampar. "Asli gue terpukul banget dan merasa gagal jadi ibu karena enggak mampu kasih ASI eksklusif."

Bertambah besar sang anak, bertambah sulit pula perjalanan Melati menaklukkan gangguan kecemasannya. Mulai dari aktifnya si kecil yang bikin sakit kepala hingga gerakan tutup mulut (GTM) ketika anaknya hendak diberi Menu Pendamping ASI (MPASI). "Pernah dia muntahin makanannya terus gue jejelin sambil bentak-bentak. Kasian dia sampe nangis-nangis dan trauma. Waktu itu gue pikir pendek."

Kondisi tersebut diperburuk dengan fakta bahwa ia harus mengurus anak sembari bekerja. "Sebelum kerja gue nyuapin anak, mandiin, nyusuin dia baru berangkat kerja. Pulang kerja, mandi, lanjut main terus nidurin anak. Lelah fisik lelah batin."

Anak sebenarnya menjadi penguat sang ibu. (Foto: Unsplash/Paul Lin)

Di balik perjalanannya yang rumit menjadi ibu, Melati mengatakan bahwa sang anak menjadi penguatnya. "Dia sumber kekuatan gue. Setiap gue mulai benci dan meragukan diri gue sendiri, dia selalu meyakinkan gue kalo kita mampu melewati ini bersama," urainya.

"Misalnya, waktu berat badan dia rendah, dokter udah saranin dia untuk minum susu formula tapi dia bersikeras mau nyusu langsung. Dan setiap lagi DBF (direct breastfeeding/menyusu langsung di payudara) dia selalu natap gue seolah bilang 'aku enggak mau yang lain. Aku cuma mau sama ibu cuma percaya sama ibu. Kita berjuang bareng ya bu. Ibu jangan khawatir'. Di situ malah gue nangis dan entah kenapa syukur Alhamdulillah ASI gue justru jadi deras. Mukjizat banget," urainya.

Kisah berbeda dimiliki oleh Mawar. Jika orang tua menjadi support system yang buruk bagi Melati, pasangan justru menjadi support system yang buruk baginya. Ia stres karena setiap sang suami pulang kerja selalu main game. "Dipanggilin susah banget. Tiga bulan pertama gue nangis melulu," ungkap Mawar penyintas bipolar. Sementara dirinya, pulang kerja lanjut urus anak dan menyusui.

Letih fisik dan mental, tidak jarang membuatnya melampiaskan amarah pada anaknya walaupun anaknya masih berusia satu tahun. Sebagai seorang ibu, perasaan bersalah pun selalu menggelayuti dirinya. Ia sebenarnya sadar bahwa perlakuannya kepada sang buah hati sangat salah.

"Paling parah tuh pernah gue yang merasa bersalah sering bentak-bentak anak gue, gue mau nenggak panadol aja 10 butir," lanjutnya.

Pekerjaan menjadi me time baginya dan membuat baby blues mereda. Itu kembali saat si kecil menginjak usia delapan bulan. Demi menyelamatkan anaknya dari bahaya yang mengintai saat ia kesulitan meredam emosi, ia pun sempat menitipkan anaknya di rumah tantenya selama seminggu.

Ia pun tidak menghiraukan anggapan masyarakat yang mencapnya buruk karena menitipkan anak dalam kurun waktu yang lama. "Kata tante gue enggak apa-apa nanti kan kangen sama anaknya, belajar ikhlas, terima kalo emang sudah jadi ibu."

Ibu muda membutuhkan support system. (Foto: Unsplash/Philippe Murray-Pietsch)

Dan benar saja waktu tanpa kehadiran si kecil justru menimbulkan kerinduan mendalam baginya. Ia punya banyak waktu untuk berkontemplasi dengan peran barunya sebagai ibu.

Jika Melati menganggap anaknya sebagai sumber kekuatan, Mawar menganggap anaknya sebagai guru kehidupan. "Justru gue yang belajar banyak dari dia bukan sebaliknya."

Perbedaan kisah antara Mawar dan Melati bermuara pada solusi yang sama: peran suami sebagai partner.

"Alhamdulillah suami gue menjalankan peran sebagai ayah dengan sangat luar biasa. Dia mau take over urus anak setiap kali gue mulai penat. Bahkan kasih kesempatan untuk gue me time," jelas Melati.

"Benar banget, komunikasi sama suami itu kuncinya," timpal Mawar.

Dengan komunikasi yang baik pula, Mawar memberi solusi pada suaminya cara menyelamatkan anaknya dari marabahaya saat emosinya sedang tidak stabil. "Gue juga udah bilang sama suami kalo gue udah mulai spanent anaknya dibawa kabur aja kemana kek. Pernah juga hampir gue tendang tapi keburu diambil laki gue," ungkap Mawar.

Sebuah pesan sederhana oleh Melati untuk semua lelaki. "Buat kalian yang belum menikah yakinlah bahwa tanggung jawab bukan berhenti di nafkah materi aja. Kehadiran secara utuh saat mengurus anak justru hal krusial," ujarnya. (avia)

Baca Juga:

Aku Berjuang Melawan Demam Panggung saat Bertanding

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Seni Tanbo, Menjadikan Sawah Sebagai Kanvas Raksasa
Fun
Seni Tanbo, Menjadikan Sawah Sebagai Kanvas Raksasa

Mengenal Seni Tanbo, sebuah karya seni unik dengan menggunakan sawah sebagai kanvas raksasa

4 Konsol Game Portabel yang Paling Ditunggu di 2021
Fun
4 Konsol Game Portabel yang Paling Ditunggu di 2021

Daftar konsol game portabel yang akan di rilis di 2021.

Cara Mendapat Centang Verifikasi Akun Resmi Telegram
Fun
Cara Mendapat Centang Verifikasi Akun Resmi Telegram

Untuk meningkatkan kredibilitas pengguna.

Poster Terbaru 'Spider-Man: No Way Home' Ungkap Jalan Cerita Film ini
ShowBiz
3 Kualitas yang Menjadi Lampu Hijau Ketika Ingin Mengencani Seseorang
Fun
3 Kualitas yang Menjadi Lampu Hijau Ketika Ingin Mengencani Seseorang

Mengencani orang yang hatinya baik mampu memberikan ketenangan dalam hidupmu

'Mas' Boy, Ikon Remaja Di Era 90-an
Fun
'Mas' Boy, Ikon Remaja Di Era 90-an

Karakter Boy sangat populer di kalangan anak muda pada masanya.

Omicron Jadi Variant of Concern, ini Alasannya
Hiburan & Gaya Hidup
Tora Sudiro Kenang Naik Mini Cooper Bareng Rony Dozer
ShowBiz
Tora Sudiro Kenang Naik Mini Cooper Bareng Rony Dozer

Tora mengucapkan salam terakhir kepada Rony.

Mengenal Lebih dalam Tentang Prosedur Transplantasi Rambut
Fun
Mengenal Lebih dalam Tentang Prosedur Transplantasi Rambut

Dalam sebuah penelitian, ditemukan 53 persen dari pria akan mengalami kerontokan rambut

Meskipun Punya Masalah Berat Badan, Jangan Menyuruh Anak Diet
Fun
Meskipun Punya Masalah Berat Badan, Jangan Menyuruh Anak Diet

Penghitungan BMI (Body Mass Index) untuk anak pun tidak sama dengan orang dewasa.