Tak Sampai Hati Melukai Papi, Chrisye Lara Mengejar Amerika! Personel Gipsy Band berpose di gedung pencakar langit, New York, Amerika. (Foto: Denny Sakrie)

TAWARAN Pontjo masih membekas di benak Chrisye. Tampil reguler di Amerika setahun penuh, dapat jatah makan, penginapan, plus uang saku. Sungguh impian semua anak band di tahun 1970-an. Apalagi di sana tempat para musisi dunia menahbiskan karya. Bila beruntung, jamming bareng musisi idola bukan lagi impian semata.

“Pada detik ini rasa senang itu muncul, saat itu juga rasa sedih saya datang juga,” ungkap Chrisye dinukil Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal. Nasibnya tak pasti lantaran belum mengantongi restu sang papi.

Dia hanya bisa nelangsa saat teman-teman Gipsy sibuk merencanakan pertunjukan dan persiapan berangkat menuju negeri ‘Paman Sam’.

“Lu pasti ikut kan, Chris?” tanya Gauri, gitaris Gipsy, sekaligus sahabat karib paling mengerti kondisi pertentangan pandangan temannya si pembetot bas dengan sang papi berkait karir bermusik.

Chrisye mematung. Tak ada sekata pun keluar. “Gue harap lu bisa lihat potensinya kalau lu berangkat. Ini titik tolak, Chris!” bujuk Gauri. Dia makin gamang. Kembali menimang pikirannya tentang kemauan papinya agar tetap kuliah dan menjadi sukses berkat ilmu di bangku kuliah, tetapi keinginannya terhadap musik semakin kuat. Kegalauannya terus berlanjut.

Di rumah, anak kedua pasangan Laurens-Hanna Rahadi jadi semakin pendiam. Bahkan, cenderung menutup diri. Sementara, di sisi sebrang, sang papi sama sekali tak mencium gelagat aneh perubahan sikap anaknya. “Dan tetap rutin mengingatkan saya pergi kuliah”, imbuhnya. Praktis, hanya mami dan Joris sang kakak, menurut Chrisye, bisa mengerti kondisi jiwanya.

“Kamu harus bilang blak-blakan sama papi. Yang jelas, gamblang. Supaya kamu enggak tersiksa. Papi juga enggak merasa dikhianati,” anjuran Joris.

Chrisye menerima nasihat kakaknya, tapi tetap sulit untuk melakukannya. Sebenarnya, sedari awal ingin sekali baginya berbicara jujur kepada papi tentang berat hatinya berkuliah bahkan bercita-cita jadi arsitek. Dia hanya ingin hidup sebagai pemusik. Tetapi niat itu urung terlaksana. “Bukan lantaran takut, tapi juga ada rasa tak tega”, ungkapnya.

Lama memendam gejolak, berimbas pada semakin menurun kondisi kesehatannya. “Sudah banyak mikir, saya jarang makan pula. Saya sakit”. Suhu tubuhnya naik. Badannya demam tinggi. Maminya bahkan memercik kaget ketika mendapati anaknya menggigil di balik selimut.

Berhari-hari Chrisye bergulat dengan panas tinggi dan paling parah harus membunuh keinginan kuatnya naik panggung di depan penonton New York, Amerika. “Ketimbang perang dengan papi, lebih baik saya perang dengan diri sendiri,” pendamnya.

Dari tempat tidurnya, Joris bercerita kalau anak-anak Gipsy semakin siap berangkat dengan pasukan baru. Mereka, Keenan Nasution (Drum), Gauri Nasution (Gitar), Rully Johan (Keyboard), Lulu (Saksofon), dan Adjie Bandi (Biola dan Saksofon). Pontjo tak ikut main karena telah sibuk mengurus bisnis, tapi tetap bisa mengatar Gipsy sampai New York.

Beberpa hari jelang keberangkatan, personel Gipsy datang menjenguk. Mereka saling bergurau. “Gimana sih lu Chris! Kita dapat job begini hebat, lu malah sakit. Ah, enggak bakat jadi orang hebat lu!” kelakar mereka.

Gauri paling sedih karena temannya paling dekat tidak bisa ikut berpentas bersama-sama. Gispy pun berangkat pada awal tahun 1973. Mereka akan menghibur pengujung Restoran Ramayana, New York, Amerika, kepunyaan Pertamina.

Hari pertama kepegian teman sebandnya begitu menyanyat hati Chrisye. Dia tak lagi mendengar riuh bunyi-bunyi suara musik di samping rumahnya. Sepi sekali. Rasa kehilangan terhadap aura gairah musik sangat menyiksanya. Dalam kondisi sakit, pikirannya tetap memancar suara lengkungan gitar, betotan bas, dan tabuhan drum teman-temannya.

“Semua bayangan itu tak mau pergi. Saya masih ingat, waktu itu saya menangis diam-diam di kamar,” kenangnya. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH