Tak Percaya Bakal Perang Dunia, Begini Pandangan SBY tentang Konflik Iran-Amerika SBY (tengah) bersama Bill Clinton dan George HW Bush. (Foto: Facebook/SBY)

MerahPutih.com - Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono berharap semua pihak dapat menahan diri dalam ekskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

"Harapan saya adalah apa yang harus dilakukan oleh Amerika Serikat, Iran, dan Irak dan juga dunia pada umumnya, agar sebuah peperangan di kawasan yang rakyatnya sudah cukup menderita itu dapat dicegah dan dihindari," tulis SBY seperti dikutip di Jakarta, dari akun Facebook resminya, Rabu (8/1).

Baca Juga:

Misil Iran Hantam Dua Pangkalan Militer AS di Irak

SBY berharap agar para pemimpin dunia serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat terus menyerukan perdamaian dan tidak melakukan pembiaran atas segala bentuk tindakan yang dapat mengancam umat manusia yang ada di Timur Tengah.

"Terlalu berbahaya jika nasib dunia, utamanya nasib 600 ratus juta lebih saudara-saudara kita yang hidup dan tinggal di kawasan itu, hanya diserahkan kepada para politisi dan para jenderal Amerika Serikat, Iran dan Irak," kata SBY.

"Timur Tengah dan bahkan dunia akan bernasib buruk jika para politisi, diplomat dan jenderal di negara-negara itu melakukan kesalahan yang besar," tutur dia.

SBY tidak percaya krisis di Timur Tengah akan menjurus ke sebuah perang besar, apalagi perang dunia. Namun, Ketua Umum Partai Demokrat itu mengaku punya hak untuk cemas dan sekaligus menyerukan kepada para pemimpin dunia agar tidak abstain dan tidak melakukan pembiaran.

SBY mengatakan, meskipun seolah saat ini mata dunia tertuju kepada Iran, Irak dan Amerika Serikat, namun peran negara lain seperti Rusia, Turki, Israel, Suriah, Saudi Arabia, Libya, Mesir, Qatar, Afghanistan, dan Yaman, serta sejumlah negara NATO dan lainnya tidak bisa diabaikan.

Tokoh AS dan Iran (Ant)
Tokoh AS dan Iran (Ant)

Ia mengatakan, andaikan situasi makin memburuk dan belasan negara itu melibatkan diri dalam posisi yang berhadap-hadapan, keadaan akan menjadi menakutkan.

"Itulah sebabnya sebagian dari kita mulai bertanya, jangan-jangan perang dunia yang kita takutkan terjadi lagi. Akankah ke situ?" ujar SBY.

Dia mengatakan, para pemimpin dunia tidak boleh berdiam diri. Para pemimpin dunia, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menurutnya harus melakukan sesuatu.

SBY menegaskan, Timur Tengah dan bahkan dunia akan bernasib buruk jika para politisi, diplomat, dan jenderal di negara-negara tersebut melakukan kesalahan yang besar. Menurut dia, risikonya bisa memunculkan terjadinya tragedi kemanusiaan yang juga besar.

Baca Juga:

Situasi Iran dan Irak Memanas, WNI Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan

Dia menekankan pascatewasnya Jenderal Iran Qassem Soleimani oleh serangan udara Amerika Serikat beberapa hari lalu, siang dan malam dirinya mengikuti pemberitaan media internasional. SBY meyakini tidak ada yang berani memastikan perang itu pasti terjadi atau sebaliknya.

"Saya orang biasa dan tak punya kekuasaan yang formal. Namun, sebagai warga dunia yang mencintai perdamaian dan keadilan, secara moral saya merasa punya kewajiban untuk mengungkapkan pendapat," jelasnya.

Ia mengingatkan kepada para pihak yang berharap dunia menjadi lebih aman dan damai pada tahun ini harus bersiap kecewa bahkan frustrasi.

Kendati demikian, SBY tidak percaya krisis di Timur Tengah akan menjurus ke sebuah perang besar, apalagi perang dunia.

"Tidak ada tanda-tanda untuk itu. Yang terjadi, di awal tahun baru ini, kawasan Timur Tengah kembali membara," kata SBY. (Knu)

Baca Juga:

Selain IHSG, Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Ikut Terdampak 'Counter Attack' Iran

Tag
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Ada Partai Inginkan Amandemen UUD Biar Presiden Dipilih Lagi MPR
Indonesia
Ada Partai Inginkan Amandemen UUD Biar Presiden Dipilih Lagi MPR

Badan Pengkajian MPR RI membuat Frasa Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) dan konsekuensinya dari rencana adanya PPHN itu menjadi masalah, mengingat untuk melahirkannya diperlukan produk hukum.

Anies Klaim tidak Pernah Tutupi Data COVID-19
Indonesia
Anies Klaim tidak Pernah Tutupi Data COVID-19

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengklaim jika Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dari awal tidak pernah menutup-nutupi data terkait kondisi COVID-19 di ibu kota

Hanya Delapan Paskibraka dalam Upacara HUT RI Tahun Ini
Indonesia
Hanya Delapan Paskibraka dalam Upacara HUT RI Tahun Ini

Kedelapan Paskibraka itu akan bertugas pada upacara pengibaran dan juga penurunan Bendera Merah Putih di Istana Kepresidenan

Update COVID-19 DKI Jakarta Jumat (2/10): 76.619 Positif, 62.279 Orang Sembuh
Indonesia
Preman Pasar Bakal Dilibatkan dalam Penertiban Protokol Kesehatan
Indonesia
Preman Pasar Bakal Dilibatkan dalam Penertiban Protokol Kesehatan

TNI dan Polri akan membuat mereka mendisiplinkan pengunjung pasar secara humanis.

Ditlantas Polda Metro Tagih Janji Pemprov DKI Tambah Kamera e-TLE
Indonesia
Ditlantas Polda Metro Tagih Janji Pemprov DKI Tambah Kamera e-TLE

"Sambil menunggu penambahan keputusan dari Pemda DKI untuk penambahan e-TLE tahap ketiga," terang dia

Pagebluk COVID-19 Momentum Tepat Beli Rumah
Indonesia
Pagebluk COVID-19 Momentum Tepat Beli Rumah

Saat ini, banyak pengembang properti meluncurkan berbagai strategi pemasaran

AP I Prediksi Layani 31 Juta Penumpang Pesawat Sampai Akhir Tahun
Indonesia
AP I Prediksi Layani 31 Juta Penumpang Pesawat Sampai Akhir Tahun

Trafik penumpang tertinggi pada November 2020 terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan trafik sebesar 688.212 penumpang.

Alumni Kampus di Sumut, Eksekutor Klinik Aborsi Ilegal di Cempaka Putih tak Bersertifikat Dokter
Indonesia
Alumni Kampus di Sumut, Eksekutor Klinik Aborsi Ilegal di Cempaka Putih tak Bersertifikat Dokter

DK disebut pernah melakukan koas atau co-asisten di sebuah Rumah Sakit. Tapi, DK tidak menyelesaikan koas itu sehingga dirinya tidak memiliki sertifikasi sebagai dokter.

Berideologi Radikal ISIS, Pelaku Penyerangan Mabes Polri Lepaskan Enam Tembakan
Indonesia
Berideologi Radikal ISIS, Pelaku Penyerangan Mabes Polri Lepaskan Enam Tembakan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengakui, penyerangan bersenjata pistol di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3), adalah perempuan berinisial ZA atau Zakiah Aini.