Image
Author by : Funnywati Sucipto, pengusaha pempek yang tak ingin mengemis untuk pengobatannya. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Funnywati Sucipto atau yang akrab disapa Funny tak menyangka, jika gangguan penglihatannya yang terasa media Juni 2015 membuatnya nyaris buta sebelah mata. Mata bagian kanannya saat itu terasa sakit saat berada di kampung halamannya, kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

"Terasa sakit sekali saat di bandara (Soekarno Hatta, Tangerang). Something wrong sepertinya. Setelah itu saya sempat melakukan pengobatan tradisional akupuntur," ujar Funny membuka kisah awal permasalahan di bagian mata sebelah kanannya.

Puncaknya, beberapa hari kemudian, saat mengemudikan mobil, mata kanannya seperti tertutup warna putih. Tak ingin mengambil risiko, Funny kemudian mencoba memeriksakan matanya. Saat itu analisa dokter menyatakan, ada perdarahan di mata sebelah kanan dan harus segera diatasi dengan metode laser.

"Ya sudah saya langsung mengiyakan untuk dilaser. Namun, dua minggu setelah laser, malah semakin parah. Darahnnya menggenang sampai menutup saparuh mata saya," ujar Funny.

"Mulanya agak mendingan (setelah laser). Jarak pandang dari 10 sentimeter kemudian naik setengah meter dan tiga meter. Sampai Juli (2015) terjadi perdarahan lagi," terang Funny.

Lantaran ingin menyembuhkan dahulu sang ibu yang menderita katarak, Funny menyimpan rapat sakitnya itu kepada sang bunda. Dengan tabungannya, ia membawa sang ibu ke Bangkok, Thailand untuk melakukan pengobatan. Di Bangkok, Funny juga menyempatkan diri untuk melakukan pengobatan, tanpa diketahui sang bunda. Bola matanya disuntik, namun ia merasa tidak ada perubahan yang berarti.

Kembali ke Jakarta, Funny memeriksakan matanya. Dokter di Jakarta sudah memberikan sinyal untuk dilakukan operasi.

"Kesempatan untuk sembuh 50 banding 50. Kalau gagal, saya takut mata kamu buta," ujar Funny menirukan keterangan dokter di Jakarta.

Mendengar keterangan dokter, pecahlah tangis Funny. Perempuan yang dahulu pernah menjadi wartawan hiburan tersebut benar-benar khawatir, mata sebelah kanannya tak lagi dapat melihat.

"Bayangkan, saya tidak bisa menikmati lagi keindahan ciptaan Tuhan jika salah satu mata saya buta," ujar Funny.

Image
Author by : Funnywati Sucipto, pengusaha pempek yang tak ingin mengemis untuk pengobatannya. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Sadar biaya yang dikeluarkan untuk operasi sangat mahal, bisa mencapai ratusan juta rupiah, Funny dihadapkan pada kenyataan, uang tabungannya tak mencukupi untuk biaya tersebut.

"Salah satu teman saya, meski berbeda keyakinan, mendoakan saya dengan cara Katolik. Saya senang karena dapat perhatian. Masalah keyakinan, saya yakin mereka berdoa dengan tulus meski keyakinan kami berbeda," ujar Funny.

Di tengah kalutnya memikirkan biaya pengobatan, timbul ide untuk membuka usaha. Pempek Palembang menjadi pilihannya karena Funny berasal dari Palembang yang memiliki kerabat pembuat Pempek Palembang.

"Waktu itu mama (ibu) akhirnya tahu dan kasih saya uang Rp2 juta hasil menjual emas. Saya sedih, kok ngerepotin orangtua. Saya juga enggak mau ngerepotin orang lain. Lebih baik buat usaha sendiri," terang Funny.

Setelah yakin dengan pilihannya untuk membuka usaha, Funny kemudian bekerjasama dengan kerabatnya di Palembang, dan membuka usaha pempek_funny. Saat itu ia bernazar, ingin usaha sekaligus beramal.

"Sejak awal, saya sudah menerapkan 'the power of gopek' (kekuatan dari Rp500). Keuntungan rata-rata per pempek yang berhasil terjual, Rp500 akan saya sumbangkan ke kaum dhuafa yang membutuhkan pertolongan terutama yang memiliki masalah di mata," ujar Funny.

Awalnya Funny tak percaya diri untuk menjajakan pempek di sosial media. Ia menawarkan 'door to door' kepada teman-temannya. 

"Saat responsenya bagus, saya mencoba membuka peluang di sosial media. Saya menawarkan di instagram dan Facebook. Responsenya ternyata bagus banget," ujar Funny sumringah.

Image
Author by : Funnywati Sucipto, pengusaha pempek yang tak ingin mengemis untuk pengobatannya. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Semenjak dipromosikan di sosial media, medio Juli 2015, pempek_funny banjir pesanan. Kebetulan saat itu ramadhan tiba. Meski bukan seorang muslimah, Funny percaya, berkah ramadhan pun menyertai perjalanan usahanya.

"Keuntungan pertama Rp500 ribu langsung saya serahkan ke panitia ramadhan buat anak-anak jalanan dan panti asuhan. Setelah itu baru saya mencari kaum dhuafa yang membutuhkan biaya untuk mengobati masalah di mata," terang Funny.

Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie merupakah artis yang menjadi langganan tetapnya. Melihat perjuangan Funny untuk bisa sembuh dari penyakit matanya serta niat Funny untuk berderma kepada kaum dhuafa, Chelsea dan Glenn tak berkeberatan membantu promosi pempek_funny di sosial media mereka.

Funnywati Sucipto diapit Glenn Alinskie dan Chelsea Olivia. (sumber: FB funnywati sucipto)

"Pempek_funny jadi lebih dikenal dan imbasnya, banyak yang memesan. Di kalangan artis pun makin lebih dikenal," terang Funny sambil tersenyum.

Bukan hanya artis dan masyarakat Indonesia, warga asing pun ternyata suka dengan pempek_funny. Bahkan banyak diantara mereka yang menjadi pelanggan tetap.

"Tapi bukan dikirim ke negara mereka, karena pengiriman makanan basah, masih belum boleh. Mereka, orang asing yang ada di Indonesia yang memesannya. Kalau saya ke Singapura untuk berobat, orang-orang di sana, termasuk suster rumah sakit, malah pesan dan saya bisa bawa ke Singapura," ujar Funny.

Kini setiap pekan, Funny bisa mengirimkan sekitar 3.000 pempek ke berbagai kota di Indonesia.

Image
Author by : Funnywati Sucipto, pengusaha pempek yang tak ingin mengemis untuk pengobatannya. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Funnywati Sucipto atau akrab disapa Funny memiliki prinsip, perbuatan baik akan menghasilkan karma baik. Funny percaya, kebaikan yang dilakukan seseorang akan membuahkan kebaikan pula, bagaimanapun caranya.

"Waktu mau melakukan operasi pertama di Singapura, saya sebenarnya sudah stress duluan karena biayanya yang mahal, megingat dokternya yang sudah sangat terkenal. Namun tiba-tiba ada seorang suster yang saya kenal saat memeriksakan mata di Singapura, menghubungi. Awalnya dia memesan pempek, namun pembicaraan kemudian mengarah ke pertanyaan biaya. Dia menyarankan untuk melakukan operasi di Rumah Sakit Nasional University dengan seorang dokter khusus mata di sana. Ia membantu pendaftarannya," kenang Funny.

Tak berapa lama, funny mengecek jadwal operasi di situs rumah sakit tersebut dan sudah tertera namanya berikut jadwal operasi, tanggal 16 Agustus 2015.

"Saya bersyukur ada yang mau bantu memecahkan masalah operasi dari orang yang tidak saya sangka-sangka," ujar Funny.

Meski dokter yang mengoperasinya tidak ternama seperti dokter awal, namun Funny percaya, apa yang dijalaninya adalah yang terbaik.

Berikutnya, Funny merasa mendapatkan banyak sekali kemudahan dalam perjalanan kehidupannya, baik itu dalam proses penyembuhan mata dan usaha pempek yang tengah dijalaninya.

"Pokoknya saya mendapatkan banyak kemudahan, dari kemudahan pembayaran operasi mata, kemudahan proses penyembuhan, kemudahan usaha dan kemudahan untuk menyumbangkan keuntungan kepada orang yang tepat sasaran," ujar Funny panjang lebar.

Sebagai bentuk rasa syukurnya dan janji yang sudah diucapkan, Funny telah berhasil menyumbang sebagian keuntungan pempek_funny ke penderita kanker mata di Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya.

Usaha pempek_funny kini sudah merambah Surabaya. Menariknya, kepada rekannya di Surabaya, Funny tidak meminta pembagian hasil keuntungan.

"Saya cuma minta dia (rekannya) untuk melakukan apa yang saya lakukan, menyumbangkan sebagian keuntungan penjualan untuk orang-orang tidak mampu, terutama yang butuh untuk pengobatan mata," terang Funny.

Funny juga tidak menutupi hasil keuntungan yang diperolehnya dari usaha pempek_funny.

"Rata-rata per pempek dapat untung Rp1.000, setengahnya harus disumbangkan Rp500," ujar Funny.

Jika dihitung rata-rata, keuntungan yang diperoleh pempek_funny 50 persennya wajib disumbangkan untuk kegiatan amal.

Image
Author by : Funnywati Sucipto, pengusaha pempek yang tak ingin mengemis untuk pengobatannya. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Menjalani usaha yang dirintisnya, Funnywati Sucipto atau akrab disapa Funny mengalami berbagai macam suka dan duka. Salah satunya adalah beberapa pemesan yang kerap marah jika pesanannya meleset dari perkiraan. 

"Pernah saya sudah kirim melalui jasa pengiriman dan sudah konfirmasi tepat waktu. Namun salah satu pelanggan merasa barangnya tidak datang. Dia menghubungi saya dan bertanya terus barangnya kok belum datang. Saya bilang sudah konformasi barang sudah ada. Eh enggak tahunya benar, diterima sama orang rumah. Ada juga yang mirip seperti itu, tapi ngotot barang belum datang atau bungkusnya rusak. Saya minta dikirim kembali dan saya ganti sesuai dengan pesanan," ujar Funny

Funny merasa apa yang dialaminya tersebut merupakan suka duka dalam berusaha. Meski demikian Funny tidak merasa putus asa atau patah semangat. Ia tetap berusaha untuk menjalankan usahanya, apalagi sejumlah rekan sangat mendukungnya. 

"Saya bersyukur banyak teman yang mau mendukung saya. Keluarga pun demikian," ujar Funny.

Dari sejumlah pengalamannya tersebut, Funny belajar banyak untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas pengiriman barang. Ia mulai belajar packing yang baik agar tidak mudah rusak.

Image
Author by : Funnywati Sucipto, pengusaha pempek yang tak ingin mengemis untuk pengobatannya. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Saat ini, Funnywati Sucipto atau yang akrab disapa Funny tengah menjalani kehidupannya pascaoperasi. Meski harus beberapa kali lagi ke Singapura untuk tahap perawatan, namun ia percaya perjalanannya akan menemukan kemudahan.

"Semua berawal dari niat baik," ujar Funny.

Funny memiliki keinginan agar masyarakat dunia dapat lebih mengenal pempek, makanan khas Palembang. Bahkan, ia berharap Presiden Jokowi mau mencicipi dan membeli pempeknya, sekaligus menyumbang kaum dhuafa yang memiliki masalah dengan mata.

"Selain ingin pempek mendunia, saya pengin Presiden Jokowi makan pempek_funny sekaligus ikut menyumbang," ujarnya sambil tersenyum.

Di akhir pembicaraan, Funny tak henti-hentinya mengingatkan agar selalu berpikir positif dan selalu berniat baik dalam setiap langkah kehidupan.

"Saya yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik pula untuk kita semua," ujar Funny mengakhiri pembicaraan.