Tak Hanya Jadi Peramal Ekonomi, Capres-Cawapres Harus Paham Pembangunan Rendah Karbon Kedua pasangan kandidat tampil dengan gaya busana masing-masing. (foto: tangkapan layar Net TV)

Merahputih.com - Direktur Eksekutif World Resources Institute (WRI) Indonesia, Nitarta 'Koni' Samadhi menilai pemahaman capres-cawapres pada Pilpres 2019 terkait dengan persoalan pembangunan rendah karbon dapat menjadi tolok ukur masyarakat memilih pemimpin prolingkungan.

"Yang penting adalah pemahaman, tidak bisa hanya sekadar peramalan dari sisi ekonomi saja. Mereka harus sadar, bahan baku (sumber daya alam) suatu saat akan habis," katanya di Jakarta, Rabu (13/2).

Capres dan cawapres juga harus memahami pertumbuhan ekonomi dengan mempertimbangkan keterbatasan lingkungan sehingga harus bergerak ke arah pembangunan secara serentak dengan mempertimbangkan tiga prinsip. Yakni pertumbuhan ekonomi terjadi, lingkungan hidup terjaga, dan kesejahteraan masyarakat menjadi bagian yang tidak terlepaskan.

Menurut dia, tiga prinsip itu saling bergerak ke arah berbeda. Jika ingin mendapat pertumbuhan ekonomi tinggi, kata dia, biasanya membutuhkan sumber daya alam yang besar.

Kandidat Pilpres 2019. (Foto: ist)
Kandidat Pilpres 2019. (Foto: ist)

Namun demikian, ia mengatakan jika sumber daya alam termanfaatkan besar untuk ekonomi, terkadang hanya sebagian kecil pihak yang mendapatkan hasilnya. Oleh karena itu, sebagaimana dikutip Antara, persoalan kesejahteraan sosial sering terlupakan.

Terkait dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, kondisi lingkungan berkelanjutan, kesejahteraan tercapai dengan mengecilkan gap yang kaya dan miskin, kata dia, di situlah sebenarnya pembangunan berkelanjutan. Esensinya, kata Koni, pembangunan yang rendah karbon.

"Karena kalau dia rendah karbon maka ekonomi akan meningkat, lingkungan tetap akan terlindungi, serta kesenjangan pendapatan bisa ditutup. Ini yang sebenarnya WRI Indonesia harapkan untuk pembangunan lima tahun ke depan," kata dia. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH