Tak Berani Izinkan Pemakaman Teroris, Risma Tunggu Fatwa MUI Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. (MP/Budi Lentera)

MerahPutih.com - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan masih menunggu fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengizinkan pemakaman jenazah beberapa terduga teroris pelaku peledakan bom di Kota Pahlawan.

"Saya bilang ke Pak Kapolres, bahwa saya sudah buat surat ke MUI. Kami lagi menunggu fatwa MUI," kata Risma usai mengumpulkan guru agama se-Surabaya di Convention Hall Surabaya, Jumat (18/5).

Risma mengakui kemarin ditelepon Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan adanya penolakan warga saat jenazah Dita Suprianto, kepala keluarga pelaku bom di tiga gereja, hendak dimakamkan di pemakaman umum Putat Gedhe Surabaya. Menurut dia, saat ini pemkot belum berani menguburkan jenazah para terduga teroris.

risma
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (tengah) meninjau di lokasi ledakan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). Korban meninggal dunia sebanyak 11 orang dan 41 orang korban luka-luka akibat ledakan di tiga lokasi gereja pada waktu yang hampir bersamaan di Surabaya. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

"Kemarin habis maghrib saya ditelepon Pak Kapolrestabes Surabaya. Dia menanyakan soal jenazah itu. Saya katakan tidak berani dimakamkan di Surabaya karena gesekannya besar, ada penolakan warga," tutur dia, dilansir Antara.

Wali Kota Surabaya itu memastikan jika MUI mempersilakan jenazah boleh dikuburkan, pemkot tidak bisa melarang. Namun, Risma akan mengajak kepolisian untuk membujuk warga Surabaya untuk bisa menerimanya dengan lapang dada. "Kalau fatwa MUI membolehkan, maka kami harus jelaskan kepada masyarakat," tandas kader PDIP itu.

Warga Putat Kompak Menolak

Liang lahat untuk terduga teroris
Liang lahat yang disediakan untuk terduga teroris (MP/Budi Lentera)

Aksi penolakan warga di sekitar Makam Putat Gede, Jarak, Sawahan, Surabaya terjadi kemarin sore. Padahal, saat itu tujuh lubang untuk terduga teroris sudah dipersiapkan. Namun, warga Putat Jaya berbondong-bondong datang ke makam dan kembali menutup lubang pemakaman yang sudah digali.

Awalnya masyarakat tak banyak yang tahu untuk siapa lubang tersebut. Warga sekitar juga cuek, mereka juga nampak bermain bola di sekitar 7 lubang. Kecurigaan warga mulai terlihat ketika adanya polisi yang tiba bersama camat Sawahan di lokasi.

Setelah dikonfirmasi, barulah warga tahu jika tujuh lubang tersebut untuk makam terduga teroris. Dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, kabar tersebut akhirnya diterima telingah seluruh warga.

Pemakaman terduga teroris
Pemakaman untuk terduga teroris Surabaya (MP/Budi Lentera)

Satu per satu warga datang ke lokasi makam hingga menumpuk menjadi puluhan orang. Mereka datang ada yang membawa cangkul, sekrop, ada pula yang membawa botol minum untuk berbuka puasa. Tanpa dikomando, warga silih berganti mengutuk tujuh lubang tersebut hingga azan magrib terdengar.

"Kenapa harus dikubur di sini. Di tempatnya tinggalnya saja ditolak, apalagi di sini." kata ketua LPMK Putar Jaya, Hariono.

Harjono mewakili warga, menyesalkan rencana polisi yang akan memakamkan jenazah terduga teroris di pemakaman Putat Gedhe. Apalagi, salah satu korban ledakan gereja Pante Kosta, tinggal di belakang makam, dan korban yang meninggal juga dimakamkan di Makam Putat Gedhe.

"Gila itu polisi. Masak makam teroris dimakamkan di sini, satu area dengan korbannya. Apalagi, gereja yang dibom juga dekat sini juga. Gila," sahut warga yang lain.

jenazah
Penggalian makam untuk terduga teroris di Makam Putat Gedhe (MP/Budi Lentera)

Camat Sawahan, Yunus, juga tak bisa menghalang keinginan warga. Dia berharap agar polisi bisa memahami kemarahan warga. Sebab, jika dipaksakan, dikhawatirkan ada hal hal yang tidak diinginkan. "Kalau dipaksakan, warga mungkin tidak menggangu jalannya pemakaman. Tetapi, di luar hari itu, bisa saja warga menggali makamnnya secara diam-diam," tutur dia. (*)


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH