Tabungan Masyarakat Rendah, Indonesia Butuh Investor Asing Ilustrasi pekerja. (Foto: Kemenaker).

MerahPutih.com- Undang-undang Cipta Kerja yang saat ini masih dibahas Pemerintah dan DPR. Jika disahkan, diyakini mewujudkan industrialisasi di dalam negeri yang menciptakan nilai tambah dan berdaya saing yang selama ini terkedala modal.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta Kamdani menegaskan, industrialisasi akan berjalan dengan efektif melalui dukungan dari masuknya modal asing.

Ia mengataka, tanpa investasi asing yang cukup untuk mengolah berbagai sumber daya alam, ekonomi akan berhenti di ekstraktif. Karena, penciptaan nilai tambah memerlukan biaya yang tidak sedikit dan belum bisa dipenuhi oleh pelaku usaha dalam negeri.

Baca Juga:

Soal RUU Cipta Kerja, PKS Desak Pemerintah Tak Kembali Putar Jarum Sejarah ke Era Sentralistik

"Butuh teknologi, skill labour, best practices, dan ini tidak bisa dilakukan sendiri karena keterbatasan modal, skill human capital, dan know how," ujar Shinta.

Saat ini, kata ia, modal dalam negeri masih terbatas, yang terlihat dari tingkat saving rate masyarakat sekitar 30-33 persen, bandingkan dengan Singapura pada kisaran 46-51 persen.

"Ini menyebabkan Indonesia tidak punya cukup dana dalam negeri untuk memodali pembangunan infrastruktur pendukung, industrialisasi, dan menjaga stabilitas ekonomi," katanya.

Ilustrasi pabrik
Ilustrasi Pabrik. (Foto: dpr.go.id)

Keberadaan investor asing, lanjut ia, yang dapat terpenuhi melalui Omnibus Law Cipta Kerja, dapat menyediakan modal, transfer pengetahuan dan teknologi yang berkualitas bagi industri lokal.

"Dengan demikian, daya saing Indonesia akan meningkat dan mimpi diversifikasi industri di dalam negeri dapat segera tercapai," katanya. (ARR).

Baca Juga:

Pekerja Bergaji di Bawah Rp5 Juta Diberi Bantuan Dorong Pemulihan Ekonomi



Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH