Tabrak Terumbu Karang Raja Ampat, Pemerintah RI Didesak Gugat MV Caledonian Sky  MV Caledonian Sky (foto dok noble-caledonia)

Kapal pesiar MV Caledonian Sky berbendera Bahama telah merusak keindahan terumbu karang di kawasan Raja Ampat saat berlayar di kawasan wisata tersebut. Pemerintah Indonesia didesak menuntut ganti rugi kepada operator tur Noble Caledonia.

Ketua Eco Diver Journalis (EDJ) Jekson Simanjuntak menyayangkan kapal pesiar MV Caledonian Sky kabur begitu saja dan tidak bertanggung jawab setelah merusak terumbu karang di Raja Ampat. Kerusakan itu yang ditimbulkan oleh Kapal Caledonian Sky telah menyisakan persoalan lingkungan yang serius.

"Insiden itu telah mengakibatkan kehancuran habitat ekosistem struktural dan mengurangi atau menghilangkan keanekaragaman delapan jenis karang yang ada di Raja Ampat, termasuk acropora, porites, montipora, dan stylophora. Butuh waktu lama untuk memulihkan kawasan tersebut seperti semula," kata Jeckson di Jakarta melalui keterangan tertulis, Rabu (15/3).

Eco Diver Journalists, selaku organisasi jurnalis yang peduli terhadap isu-isu lingkungan, khususnya sumberdaya alam laut menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Menyesalkan terjadinya kerusakan terumbu karang di situs Crosser Reef, Raja Ampat yang diakibatkan oleh masuknya kapal pesiar, Caledonian Sky, yang memiliki bobot 4.200 GT, pada 4 Maret 2017. Akibatnya, spot tersebut tidak menarik untuk diselami karena karangnya yang telah rusak.

2. Meminta pemerintah melakukan investigasi mendalam terkait penyebab kandasnya kapal Caledonian Sky di perairan Raja Ampat yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang seluas 1.600 meter persegi di situs Crosser Reef.

3. Meminta pemerintah melakukan penegakan hukum yang serius dan transparan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh kapal pesiar Caledonian Sky sesuai UU 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu, kendati perusahaan asuransi bersedia untuk membayar kerusakan lingkungannya, namun hal tersebut tidak dapat menghilangkan aspek pidananya.

4. Pemerintah harus menghitung secara cermat besaran kerugian yang diakibatkan oleh kandasnya kapal pesiar Caledonian Sky di perairan Raja Ampat, sesuai dengan metode keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan.

5. Meminta ditegakkannya kembali aturan terkait kapal-kapal yang boleh masuk kawasan Raja Ampat, sebagaimana yang telah diberlakukan selama ini. Termasuk dengan kawasan yang boleh didatangi kapal dengan ukuran tertentu.

6. Meminta perusahaan Noble Caledonia tidak hanya membayar kompensasi atas kerusakan yang telah mereka perbuat, namun juga harus terlibat secara langsung dalam upaya memperbaiki kerusakan terumbu karang di perairan Raja Ampat.

Sebelumnya, kapal pesiar MV Caledonian Sky sepanjang 90 meter mengangkut 102 penumpang dan 79 awak kapal dalam perjalanan 16 hari dari Papua Nugini ke Filipina. Kapal pesiar mewah itu kandas setelah menyelesaikan perjalanan bird-watching ke Pulau Waigeo, Raja Ampat pada 4 Maret 2017.

Sebuah kapal penarik (tug boat) bernama TB Audreyrob Tanjung Priok akhirnya dikerahkan untuk mengeluarkan kapal tersebut. Upaya itu sempat terkendala karena kapal Caledonian Sky terlalu berat dan kondisi air surut.

Informasi yang dihimpun Eco Diver Journalis menyebut, saat kapal kandas, sang kapten, Keith Michael Taylor tetap berupaya menjalankan kapal hingga akhirnya berhasil berlayar pada pukul 23.15 WIT, 4 Maret 2017. Meski kapal akhirnya bisa keluar dari perairan dangkal Raja Ampat dan melanjutkan pelayaran ke perairan Filipina, namun berimbas pada rusaknya terumbu karang di kawasan tersebut.



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH