Syarat Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri Gratis di Hotel Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. ANTARA/HO-Birkom Kemenparekraf

MerahPutih.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan kembali bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan industri perhotelan untuk menyiapkan akomodasi bagi pasien konfirmasi tanpa gejala untuk melakukan isolasi mandiri.

Langkah tersebut diambil menyikapi arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta jajarannya menambah tempat isolasi bagi pasien konfirmasi tanpa gejala dan tenaga kesehatan agar tidak melakukan isolasi mandiri di rumah.

Akomodasi hotel ini disiapkan untuk menambah kapasitas di luar Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran. Kemenparekraf akan menyiapkan dan menanggung biaya akomodasi berupa minimal hotel sekelas atau setara bintang 3, termasuk konsumsi serta layanan binatu tiap harinya.

Baca Juga:

106 Hotel Bakal Jadi Lokasi Isolasi Mandiri Pasien COVID-19

Sementara itu, kementerian yang dikomandoi Terawan Agus Putranto akan menangani keperluan medis seperti biaya obat, ambulans, kunjungan dokter, dan tes swab ulang jika diperlukan.

“Hotel minimal sekelas atau setara bintang 3 digunakan untuk pasien OTG, tetapi hal-hal yang berkaitan dengan keperluan medis ditangani oleh Kemenkes," kata Menparekraf Wishnutama Kusubandio, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/9).

Kemenparekraf bersama Kemenkes juga akan menyusun standard operating procedures (flowchart) mengenai mekanisme pelaksanaan, terkait bagaimana prosedur masyarakat yang positif terinfeksi COVID-19 namun tanpa gejala bisa check in di hotel-hotel yang sudah ditunjuk.

"Pemilihan hotel yang kami siapkan berdasarkan masukan dari PHRI. Selain usulan PHRI tersebut, bagi hotel yang sudah siap silakan kirim pengajuan ke Menparekraf/Baparekraf untuk selanjutnya ditinjau oleh Kemenkes,” ujar Wisnhutama.

The Green Hotel Bekasi di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kayuringin, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat. (FOTO ANTARA/Pradita Kurniawan Syah).
The Green Hotel Bekasi di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kayuringin, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat. (FOTO ANTARA/Pradita Kurniawan Syah).

Menurut Wisnhutama, jumlah fasilitas yang disiapkan saat ini dapat menampung 14.000 pasien
konfirmasi tanpa gejala dan tenaga kesehatan dalam waktu 10 hari karantina.

Deputi Bidang Pemasaran Nia Niscaya juga menjelaskan bahwa Kemenparekraf membuka kesempatan bagi hotel-hotel lain yang ingin berpartisipasi bersama pemerintah untuk ikut menekan penyebaran COVID-19. Hotel yang nantinya dijadikan tempat isolasi mandiri untuk sementara waktu tidak diperkenankan untuk menerima tamu.

“Syarat untuk hotel yang menjadi mitra yaitu tidak boleh menerima tamu lain kecuali pasien konfirmasi tanpa gejala,” imbuh Nia.

Dalam kesempatan yang sama, Iwan Trihapsoro, tenaga ahli Menteri Kesehatan Bidang Krisis Kesehatan mengatakan bahwa setiap orang yang positif COVID-19 namun tanpa gejala bisa langsung datang ke hotel dengan membawa KTP/kartu keluarga dan hasil swab positif.

Namun, pria yang ditunjuk sebagai PIC Kemenkes untuk program ini menekankan, masyarakat yang akan menggunakan fasilitas isolasi mandiri diharuskan untuk meminta rujukan ke puskesmas terlebih dahulu.

“Alur pasien adalah membawa hasil swab positif, check in hotel, diisolasi selama 10 hari. Selama di hotel akan ada visit dokter dan dilaksanakan pendataan dengan cut off time yang akan ditentukan. Dalam masa isolasi tersebut, pasien tidak diperbolehkan meninggalkan hotel dan menerima tamu,” kata dr Iwan.

Baca Juga:

Kadinkes DKI dan Anies Beda Pendapat soal Isolasi Mandiri di Rumah Bagi Pasien Corona

Dalam program ini, baik Kemenparekraf maupun Kemenkes merasa perlu diadakan pelatihan untuk karyawan hotel agar mereka tidak takut namun tetap waspada, karena orang yang masuk ke hotel mereka membawa virus yang berpotensi menular.

Kemenkes juga berpandangan bahwa petugas hotel dengan kormobid disarankan untuk tidak berhubungan langsung dengan pasien konfirmasi tanpa gejala, atau bisa di-WFH-kan oleh manajemen hotel sehingga memerlukan koordinasi lebih lanjut.

Program reaktivasi industri perhotelan melalui pendukungan akomodasi untuk isolasi mandiri pasien Konfirmasi Tanpa Gejala dan tenaga kesehatan ini akan difokuskan terlebih dahulu di Jakarta, kemudian menyusul beberapa provinsi lain di Indonesia hingga Desember 2020.

Dengan dukungan tambahan hotel sebagai akomodasi isolasi mandiri ini, ke depannya pasien tanpa gejala dan dengan gejala ringan diharapkan tidak melakukan isolasi mandiri di rumah, sehingga tidak berpotensi menularkan kepada keluarga maupun orang sekitar.

"Semoga langkah ini menjadi salah satu upaya yang efektif dari pemerintah untuk menekan laju penyebaran COVID-19," tutup dr Iwan. (Pon)

Baca Juga:

Tingkat Keterpakaian Ruang Isolasi di RS Jakarta 80 Persen Lebih

Kredit : ponco


Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH