Syafruddin Prawiranegara, Pemimpin yang Terlupakan dan Perannya untuk Indonesia Syafrudin Prawiranegara saat bersama dengan Ir Soekarno. (IST)

AROMA busuk diplomasi Indonesia-Belanda tentang pelaksanaan Persetujuan Renville pada Juni 1948 mulai tercium. Benar saja, pada 30 Novemebr 1948, Indonesia gagal berunding dengan Belanda. Tak berselang lama, Belanda menggempur Yogyakarta yang saat itu menjadi Ibu Kota Negara Indonesia.

Dengan cepat pemerintah yang dipimpin Sukarno-Hatta langsung mengadakan Sidang Kabinet. Salah satu hasilnya, adalah Presiden dan Wakil Presiden mengirikan kawat kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran, di Bukittinggi bahwa dia diangkat sementara untuk membentuk Pemerintah Darurat, membentuk kabinet dan mengambil alih Pemerintah Pusat.

Mulai saat itu, tercatatlah di dalam sejarah bahwa Syafruddin Prawiranegara pernah memimpin Indonesia selama 207 hari lewat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Banyak pihak yang mengatakan bahwa Syafruddin adalah seorang pemimpin yang terlupakan.

Kantor PDRI. (Foto/elswordsaga.blogspot.com)
Kantor PDRI. (Foto/elswordsaga.blogspot.com)

Tak tanggung-tanggung, ada juga yang menganggap bahwa Syafrudin adalah presiden Indonesia. “Jadi, Pak Syaf adalah presiden yang menggantikan Bung Karno?” tanya Kamil Koto dalam buku Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia.

Setelah meninggalpun Syafrudin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Sebagai pemimpin 207 hari Indonesia dan salah seorang pahlawan penting dalam sejarah kepahlawanan Indonesia, tentu banyak peran Syafruddin dalam hal kaitannya dengan pertahanan Republik Indonesia. Berikut merahputih.com merangkum peran penting Syafruddin untuk Indonesia;

Bandung Lautan Api

Syafruddin ikut berperan ketika terjadi genjatan senjata antara Inggris dengan Bandung pada 1946. Ia bersama Mayor Jenderal Didi Kartasasmita menemui para pejuang (TRI) di Bandung untuk menyampaikan kebijaksanaan pemerintah pusat bahwa agar pasukan TRI meninggalkan kota Bandung seluruhnya.

Oeang Repoeblik Indonesia (ORI)

Karena sibuknya pertempuran antara tentara Sekutu dengan para pemuda Indonesia pada 10 November 1946, maka pembuatan mata uang Republik Indonesia menjadi tertunda. Syafruddin sebagai pegawai Kementerian Keuangan dan terutama sebagai salah seorang pencetus gagasan tentang pencetakan uang Republik Indonesia itu, turut serta dalam usaha-usaha pelaksanaan dalam pencetakan tersebut.

Memimpin PDRI

Serangan Belanda di Yogyakarta pada 19 Desember 1948 membuat Presiden dan Wakil Presiden membuat kawat kepada Syafruddin dan A.A. Maramis. Isi kawat yang ditujukan untuk Syafruddin adalah agar ia membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera, dan isi kawat yang ditujukan untuk A.A. Maramis adalah apabila Pemerintahan Darurat di Sumatera tidak berhasil maka ia dikuasakan untuk membentuk Exile Government Republik Indonesia di New Delhi.

Pembentukan Provinsi Aceh

Setelah kembali dari perundingannya dengan Belanda melalui pernyataan Roem-van Royen, Moh. Hatta melakukan penyegaran kabinet. Syafruddin Prawiranegara menduduki jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri untuk Sumatera yang tempat kedudukannya ditetapkan di Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Ia membentuk Provinsi Aceh yang kemudian ditentang oleh uleebalang.

Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia

Dalam hal ini, Syafruddin berusaha menyadarkan Soekarno agar lepas dari tangan-tanagn komunis. Menurut Syafruddin, situasi Indonesia semakin memburuk karena sikap Soekarno yang selalu ingin menumpuk kekuasaannya di tangannya sendiri dengan bantuan orang-orang komunis dan tanpa disadari sewaktu-waktu orang komunis akan menyingkirkannya juga.

Himpunan Usahawan Muslim Indonesia (husami)

Syafruddin merupakan ketua umum husami. Husami di sini memiliki peran sebagai usahawan swasta yang berdasarkan Islam dan yang aktif serta tidak menggantungkan diri kepada fasilitas pemerintah seperti kebanyakan usahawan swasta di zaman Orde Lama. (*)


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH